KOMPOS DARI SAMPAH RUMAH TANGGA

Rumah tangga di kota-kota besar, hampir selalu punya tanaman. Baik ditanam langsung di halaman rumah maupun dalam pot. Tanaman memerlukan pupuk organik dan anorganik, termasuk kompos. Pupuk itu harus dibeli, dan harganya akan selalu naik terus. Padahal, kompos bisa dibuat oleh siapa pun dari sampah rumah tangga.

Sampah rumah tangga terdiri dari bahan organik, dan non organik. Tidak semua bahan organik bisa dibuat kompos. Kayu, tempurung kelapa, kulit kerang, tulang, adalah bahan organik yang tidak bisa cepat terurai menjadi kompos. Bahan-bahan keras itu, bersama dengan bahan non organik seperti plastik, logam (kaleng), beling (pecahan kaca), harus dipisahkan dari bahan organik lunak. Bahan organik lunak adalah bagian sayuran yang tidak dimasak, kulit buah, makanan sisa, daun-daun tanaman peneduh, potongan rumput, dan tanaman hias.

Semua bahan organik bisa diproses menjadi kompos. Bahan-bahan yang lunak dan banyak mengandung air, akan cepat terfermentasi menjadi kompos. Misalnya potongan kol, dan tangkai caisim, dalam jangka waktu seminggu sudah menjadi kompos. Kulit buah seperti pisang dan nanas, juga akan cepat mengompos, namum jangka waktunya lebih lama, yakni sekitar dua minggu. Kulit jagung (kelobot), dan kulit kacang tanah, akan mengompos dalam jangka waktu lebih lama lagi, yakni satu bulan. Sekam padi, dan sisik ikan, baru akan hancur terfermentasi dalam jangka waktu sampai setahun. Hingga sekam padi, juga serbuk gergaji dari kayu-kayu keras, cocok untuk menjadi campuran kompos, agar tingkat porousitasnya terjaga.

# # #

Tingkat prousitas kompos, sangat penting agar akar tanaman bisa “bernafas”. Kompos yang berasal dari bahan organik lunak. Misalnya media tanam dari kompos sisa sayuran, dan kulit buah, dalam jangka waktu satu tahun akan segera memadat. Terlebih kalau dalam media tanam tersebut hidup cacing tanah. Dalam jangka waktu kurang dari setahun, media tanam bercacing itu akan menjadi liat, hingga tanaman tumbuh kerdil. Mencampur bahan kompos dengan bahan keras seperti sekam padi, atau serbuk gergaji dari kayu keras, akan membuat kompos menjadi tetap porous, meskipun dalam media tanam itu hidup cacing tanah.

Sebenarnya pasir bangunan yang sudah diayak, juga bisa dicampurkan dalam kompos, untuk menjaga tingkat porousitasnya. Kelemahan pasir adalah, akan membuat bobot kompos menjadi terlalu berat. Akibatnya, pot tanaman menjadi susah diangkat-angkat. Dalam perusahaan nurseri yang tanamannya akan dibawa dari satu tempat ke tempat lain, kompos berpasir tidak tepat karena membuat pot/polybag terlalu berat. Bagi rumah tangga yang akan menanam tanaman pot secara permanen di satu lokasi, tanpa pernah dipindah-pindahkan, kompos berpasir justru tepat, karena posisi pot akan cukup stabil, akibat beratnya.

Untuk memroduksi kompos dari bahan organik sampah rumah tangga, diperlukan paling sedikit tiga wadah, misalnya ember plastik bertutup yang cukup besar. Wadah pertama berisi bahan mentah, yang tiap hari akan dibuka dan ditutup untuk diisi. Wadah kedua berisi bahan organik yang sedang dalam proses pengomposan. Wadah ketiga berisi kompos yang setiap saat akan dibuka, untuk diambil komposnya, guna dimanfaatkan sebagai media tanam dalam pot. Ukuran dan jumlah wadah pembuat kompos, disesuaikan dengan volume sampah dalam satu rumah tangga.

Untuk mempercepat proses pengomposan, bahan organik yang keras dan berukuran agak besar, misalnya kulit jagung, perlu dicincang menjadi potongan yang lebih kecil. Selain itu diperlukan bakteri, baik yang anaerob, maupun yang aerob, untuk mempercepat proses pengomposan. Selain untuk mempercepat proses pengomposan, bakteri juga berfungsi sebagai penghilang bau pada sampah. Bekteri pengompos terdiri dari berbagai merk, dan bisa dibeli di toko pertanian serta toko kimia. Selain dengan pemberian bakteri baru, pengomposan juga bisa dipercepat dengan mencampur kompos yang sudah jadi, dengan bahan baru, yang akan dikomposkan.

# # #

Kendala utama bercocok tanam dalam pot bagi masyaraat perkotaan adalah, sulit memperoleh media tanam. Sebab seandainya masih tersisa lahan di sekitar rumah, semuanya akan dikeraskan dengan menggunakan semen. Hingga mengambil tanah dari lahan sekitar, hampir tidak mungkin dilakukan. Alternatifnya adalah, membeli kompos dan media tanam dari kios serta toko pertanian. Problimnya, di kios dan toko pertanian, tersedia beraneka ragam media tanam, yang kualitasnya diragukan. Yang paling berat adalah, apabila kompos dan media tanam tersebut, ternyata belum masak, hingga tanaman yang diberi kompos tersebut akan mati layu.

Di lain pihak, rumah tangga juga menghasilkan sampah organik, yang setiap harinya harus dibuang sia-sia. Kadang-kadang sampah organik itu juga akan mendatangkan bau yang mengganggu lingkungan. Misalnya kulit udang, yang baunya akan sangat menyengat. Dengan proses pengomposan menggunakan bakteri, masalah bau ini akan bisa teratasi, dan rumah tangga akan memperoleh suplai kompos secara kontinu bagi kebutuhan tanaman pot. Secara ekonomis, rumah tangga akan sangat diuntungkan, sebab anggrana pembelian pupuk dan kompos, menjadi nol sama sekali. Dewasa ini, harga kompos, media tanam, dan terutama pupuk anorganik, juga terus naik.

Kompos dari bahan organik rumah tangga, tidak hanya bisa digunakan untuk menanam tanaman hisa dalam pot, melainkan juga sayuran (cabai, tomat, caisim, kangkung, bayam); tanaman buah (belimbing, jeruk nipis, lengkeng dataran rendah, jambu biji, mangga dll); serta tanaman obat/rempah (jahe, kencur, kunyit, sereh, lengkuas, salam dll). Dengan memanfaatkan kompos untuk menanam tanaman kebutuhan rumah tangga, maka secara ekonomis masyarakat akan lebih diuntungkan lagi. Sebab sebagian dari anggran untuk belanja produk tadi, meskipun nilainya sangat kecil, bisa dihemat, dan dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s