BUDI DAYA TERUNG

Di pasaran, paling tidak bisa dijumpai tiga macam terung (terong, eggplant, Solanum melongena). Terung putih panjang, ungu terang panjang, bulat hijau, putih kecil panjang, dan ungu gelap pendek. Kecuali yang terakhir, semua varietas ini,  bisa dibudidayakan di dataran rendah, yang berudara panas.

Terung, tomat, dan cabai adalah sayuran penting introduksi dari Amerika Tengah/Latin, yang sekarang sudah dibudidayakan di seluruh dunia. Tomat, terutama tomat besar (tomat apel), cabai besar (cabai taiwan, cabai téwé), dan terung ungu gelap pendek (terung jepang), hanya bisa dibudidayakan di dataran menengah dan tinggi. Tomat kecil (tomat ceri), cabai rawit, cabai keriting, dan semua jenis terung, kecuali terung jepang, bisa dibudidayakan dengan baik di dataran rendah, termasuk di sekitar Jakarta. Selain bisa dibudidayakan di lahan pertanian, cabai, tomat, dan terung juga akan tetap berproduksi baik meskipun ditanam dalam pot.

Ada anggapan salah kaprah terhadap sayuran terung. Selama ini sebagian besar  masyarakat menyanggap bahwa terung tidak baik dikonsumsi oleh laki-laki, karena bisa menurunkan vitalitas. Kenyataannya, nilai gizi terung justru sangat tinggi, sama halnya dengan tauge, hingga bisa meningkatkan vitalitas kaum pria. Anggapan bahwa terung akan menurunkan vitalitas laki-laki, diduga timbul akibat penampakan fisik sayuran ini. Ketika dibelah dua memanjang, dan digoreng, buah terung akan menjadi lembek, hingga memberikan kesan seperti penis dalam kondisi tidak ereksi. Kesan inilah yang disampaikan dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat.

# # #

Terung yang paling banyak dibudidayakan dan dikonsumsi, adalah terung besar hijau, dan terung besar ungu muda, dan terung jepang. Sebutan terung jepang muncul, karena pada awalnya terung gemuk pendek, dengan warna ungu gelap,  (benih dari Taiwan), ini dibudidayakan secara massal, untuk difroozen dan diekspor ke Jepang. Sekarang jenis terung ini sudah dibudidayakan secara luas di kawasan dataran menengah serta tinggi, dan hasilnya masuk ke pasar umum. Sebenarnya terung jepang juga tetap bisa hidup di dataran rendah, namun tingkat produktivitasnya tidak akan sebagai kalau dibudidayakan di dataran menengah dan tinggi.

Terung dibudidayakan dengan benih berupa biji. Biji terung diperoleh dari buah yang telah tua, yang ditandai oleh perubahan warna kulit dari hijau atau ungu, menjadi cokelat kekuningan. Buah tua untuk benih ini harus segera diperti, dan dibiarkan layu (mengkerut). Buah kemudian dibelah dan bijinya diambil, dikeringkan, dan disimpan dalam wadah yang rapat. Para petani tradisional, biasanya akan menaruh buah terung di atas perapian sampai mengering. Di dalam buah yang telah mengering itu, biji terung tetap tersimpan dengan aman, dan daya tumbuhnya akan tetap baik, meskipun telah tersimpan selama satu tahun.

Para petani biasa membuat benih terung, dari tanaman budidayanya. Kecuali terung jepang, yang benihnya harus selalu diimpor, karena merupakan benih hibrida. Benih impor yang daya tumbuhnya cukup baik, yang dikemas dalam kaleng. Bukan yang dalam kemasan sase. Meskipun benih kemasan sase harganya jauh lebih rendah dibanding yang dalam kaleng. Benih berupa biji ini, harus terlebih dahulu disemai. Penyemaian bisa dilakukan dalam polybag, bisa pula di atas bedeng. Polybag dan bedeng itu harus ditaruh ddi atas rak penyemaian, agar tidak terganggu oleh hama dan penyakit tumbuhan. Pada umur dua minggu, semaian sudah bisa ditanam di lahan.

Kecuali terung jepang, jenis terung lain bisa ditanam langsung di bedengan, tanpa perlu diberi mulsa plastik hitam perak. Bedengan perlu diberi lubang tanam, dengan pupuk 5 ton kandang dan 2,5 kuintal urea sebagai pupuk dasar. Dengan populasi tanaman sekitar 40.000 per hektar, kebutuhan pupuk sasarnya adalah 1,25 ons pupuk kandang, dan 6,25 gram urea per tanaman. Menjelang berbunga pada umur 2,5 bulan, tanaman perlu diberi pupuk NPK dengan dosis 1 kuintal per hektar, atau 2,5 gram per tanaman. Hama tanaman terung hanyalah ulat dan belalang yang menyerang daun. Dibanding dengan cabai dan tomat, terung relatif lebih tahan serangan pseudomonas dan fusarium.

# # #

Dengan perawatan yang baik, dari tiap hektar lahan, akan bisa dipanen paling sedikit sekitar 40 ton terung, selama sekitar dua setengah bulan (5 bulan umur tanaman). Dengan asumsi, tiap tanaman akan mampu menghasilkan 1 kg. terung selama satu kali musim tanam. Di Indonesia, hasil 1 kg. per tanaman pada cabai, termasuk cabai téwé, agak sulit dicapai. Pada tomat, hasil 1 kg. per tanaman relatif lebih mudah diraih. Pada terung, hasil 1 kg. buah per tanaman sangat mudah dicapai. Meskipun demikian, benih, dosis pupuk, dan pengolahan lahan, pengairan, dan penanggulangan hama serta penyakit tanaman, tetap akan sangat menentukan volume hasil panen.

Sama dengan sayuran lainnya, terung hanya cocok dibudidayakan di lahan sawah pada musim kemarau, dan di lahan kebun (ladang) pada musim penghujan. Hasil panen rata0rata pada budidaya terung di lahan sawah pada musim kemarau, selalu lebih tinggi dibanding dengan hasil rata-rata budidaya terung di lahan kering pada musim penghujan. Petani selalu melakukan budidaya palawija dan sayuran secara tumpang gilir. Misalnya, lahan sawah yang selesai ditanami padi rendengan, segera diberi jagung atau kedelai. Ketika jagung berumur 75 sd. 80 hari, ketika daun jagung sudah dipanen untuk pakan ternak, petani segera menanam terung di lahan tersebut.

Begitu jagung dipanen, pada umur 100 hari, tanaman terung sudah umur 20 sd. 25 hari. Karena di pesemaian terung sudah berumur 15 hari, maka sebenarnya ketika panen jagung, umur tanaman terung sudah 35 sd. 40 hari. Sambil membongkar tebon jagung, petani akan menyiangi terung, sambil membumbunnya. Dengan cara seperti ini, penggunaan lahan akan bisa lebih efisien. Selain dibudidayakan di lahan pertanian, terung juga bisa ditanam dalam pot. Budidaya terung dalam pot, terutama bertujuan sebagai hiasan. Hasil budidaya terung akan meningkat beberapa kali lipat apabila benihnya disambung dengan batang bawah takokak (Solanum torvum). (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s