HUTAN AKASIA GUNUNG

Masyarakat selama ini lebih mengenal Acacia mangium sebagai tanaman peneduh di jalan dan taman, juga sebagai tanaman HTI (Hutan Tanaman Industri). Padahal akasia adalah genus yang terdiri dari sekitar 1.300 spesies. Salah satu di antaranya adalah akasia gunung (Acacia decurrens), yang sepintas mirip tanaman lamtoro dan kaliandra.

Disebut akasia gunung, karena tumbuhan ini banyak dibudidayakan di kawasan pegunungan, yang berketinggian antara 800 m. sampai dengan 2000 m. dpl. Tumbuhan akasia tampak mencolok dari kejauhan, karena warna daunnya yang hijau keabu-abuan. Sama dengan lamtoro, akasia gunung adalah tumbuhan perdu, yang hanya bisa mencapai ketinggian belasan meter, dengan lingkar batang sekitar 40 cm. Akasia gunung banyak ditanam di kawasan pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain oleh Perum Perhutani, tumbuhan ini juga dibudidayakan masyarakat, di antara petakan lahan pertanian.

Petani masih mau membudidayakan akasia gunung di antara petak lahan pertanian, karena tajuk tanaman ini tidak terlalu rapat. Hingga akasia tidak menghalangi sinar matahari bagi tanaman pokok, terutama sayuran. Beda dengan albisia, lamtoro, dan kaliandra, daun akasia tidak bisa untuk pakan ternak. Ini disebabkan oleh tingginya kandungan zat tanin pada akasia gunung. Meskipun tidak bisa untuk pakan ternak, petani tetap menyukai akasia gunung karena pertumbuhannya yang sangat cepat, sama dengan lamtoro, kaliandra dan juga albisia. Hingga akasia potensial ditanam di lereng-lereng bukit yang terjal sebagai penghijauan.

# # #

Meskipun pertumbuhannya cepat, kayu akasia gunung sangat keras, hingga merupakan bahan bakar kualitas terbaik. Selain untuk kayu bakar, masyarakat di kawasan pegunungan juga menjadikan kayu akasia sebagai bahan arang kualitas tinggi. Arang kayu akasia gunung, hanya bisa dikalahkan oleh arang kayu bakau. Bedanya, pertumbuhan kayu bakau di kawasan mangrove sangat lamban. Umur 10 tahun, kayu bakau baru mencapai ketinggian di bawah 10 meter. Sementara dalam waktu hanya 5 tahun, kayu akasia gunung sudah mulai bisa ditebang, untuk penjarangan.

Selain untuk kayu bakar, akasia gunung juga merupakan sumber tanin yang potensial. Tanin adalah zat sepet yang terkandung dalam tanaman. Manfaat tanin cukup banyak, antara lain sebagai bahan penyamak kulit (pengolahan kulit binatang mentah, menjadi bahan industri). Bagian tanaman akasia gunung yang paling banyak mengandung zat tanin adalah kulitnya. Para petani di kawasan pegunungan, akan lengsung menguliti kayu akasia yang baru saja ditebangnya. Kayunya untuk bahan kayu bakar atau arang, sementara kulitnya dikumpulkan oleh para penampung. Saat ini harga kulit kayu akasia gunung (kering), Rp400 per kg.

Dibanding jenis akasia lain, kandungan zat tanin kulit akasia gunung termasuk paling tinggi. Akasia gunung (Acacia decurrens) 37-40%;  Acacia pycnantha 30-45%; Acacia mearnsii 25-35%; Acacia melanoxylon 20%; Acacia dealbata 19.1%; Acacia nilotica 18-23%; dan Acacia penninervis 18%. Meskipun kandungan zat tanin Acacia pycnantha bisa mencapai 45%, namun rata-ratanya tetap alah dengan Acacia decurens. Rata-rata kandungan zat tanin pada kulit batang Acacia pycnantha, adalah 37,5%, sementara Acacia decurens  38,5%. Hingga kulit kayu akasia gunung,  tetap punya peluang paling tinggi sebagai penghasil zat tanin.

Sebenarnya, akasia gunung juga bisa disadap getahnya untuk bahan gum arab. Selama ini gum arab paling banyak diproduksi dari tanaman akasia sinegal (Acacia senegal). Namun akasia gunung juga bisa menghasilkan getah bahan gum arah dengan kualitas sama baik dengan akasia senegal. Sampai sekarang para petani belum memanfaatkan potensi akasia sebagai penghasil gum arab, karena belum ada yang membimbing cara pengambilan, pemrosesan dan pamasarannya. Sementara pasar kulit kayunya, sudah sangat jelas, karena para penampung siap untuk mengambil langsung dari para petani.

# # #

Akasia gunung juga bisa dimanfaatkan bunga dan polong mudanya, sebagai bahan pewarna alami. Bunga akasia gunung mengadung zat Kaempferol sebagai penghasil warna kuning. Sementara polong mudanya menghasilkan zat warna hijau. Zat warna kuning dan hijau dari bunga dan polong akasia gunung, bisa dimanfaatkan untuk mewarnai kain, makanan, dan juga minuman, karena tidak mengandung racun serta zat berbahaya lainnya. Di Australia, bunga akasia dan polongnya sudah dipanen untuk diolah menjadi zat pewarna alami. Sementara masyarakat kita masih lebih menyukai zat warna berbahan kimia untuk mewarnai makanan dan minuman.

Akasia gunung hanya bisa dibudidayakan dengan benih dari biji. Biji akasia gunung berada dalam polong, seperti halnya lamtoro, albisia, dan kaliandra. Ukuran dan bentuk polong akasia gunung, lebih mirip dengan polong kaliandra. Dalam polong yang telah tua dan berwarna cokelat, terdapat biji yang ukurannya lebih besar dibanding biji lamtoro, albisia, dan kaliandra. Biji akasia gunung dilindungi oleh kulit biji yang sangat keras. Demikian kersanya kulit biji ini, hingga daya tumbuh akasia gunung tidak akan menurun, meskipun benihnya telah disimpan selama beberapa tahun. Petani biasanya tidak pernah menyimpan benih akasia gunung, sebab tanaman selalu menghasilkan polong cukup banyak.

Sebelum disemaikan, biji akasia gunung harus dijerang dengan air panas (80° C), lalu dibiarkan dalam air itu sampai satu malam. Setelah biji mengembang, bisa langsung ditebar pada bedeng penyemaian, atau dalam polybag. Bedeng semai dan polybag, diberi media tanam tanah campur bahan organik. Biasanya para petani menggunakan bahan organik berupa pupuk kandang. Dalam jangka waktu 0,5 tahun, ukuran semai sudah sekitar  30 cm, dan siap untuk dipindah ke lapangan. Namun akan lebih ideal, apabila semaian yang ditanam di lapangan sudah setinggi 1 m. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s