UPAYA MEMBENDUNG BAWANG PUTIH IMPOR

Tahun 1975, impor bawang putih Indonesia masih 705 ton dengan nilai Rp 1,6 milyar. Sepuluh tahun berikutnya 1985, impor bawang putih naik menjadi 16.366 ton, dengan nilai Rp 103,86 milyar. Tahun 1995 naik lagi 45.374 ton senilai Rp 427,84 milyar, dan 2005 sudah 283.283 ton, Rp 666,650 milyar.

Tahun 2006, impor bawang putih kita melambung menjadi 297.477,8 ton dengan nilai Rp1,7 triliun, dan tahun 2007 meningkat lagi menjadi  423.000 ton dengan nilai 2,4 trilyun. Ini merupakan hal yang sangat serius, sebab sentra-sentra bawang putih kita seperti Sembalun (Lombok, NTB), Tawangmangu dan Tuwel (Jateng), serta Bantul (DIY), akan mati. Gairah petani untuk menanam bawang putih turun, karena tidak mampu bersaing dengan bawang putih impor, terutama dari RRC. Mengharapkan pemerintah kita yang berperangai korup untuk melindungi petani bawang putih kita, akan sia-sia. Hingga petani memang harus mengatur strategi sendiri.

Sebanarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk membendung serbuan bawang putih impor. Pertama dengan pengenaan tarif, kalau perlu sampai di atas 100%. Stretegi ini memang akan menaikkan harga jual eceran di dalam negeri. Namun hal ini justru positif, sebab sampai dengan tahun 1980an, harga bawang putih selalu lebih tinggi daribawang merah. Setelah bawang putih impor membanjir, harga komoditas ini selalu lebih rendah dibanding harga bawang merah. Dengan harga duakali lipat dari harga eceran sekarang, dari Rp10.000 ke Rp20.000 per kg, pun masih akan terjangkau oleh konsumen.

Cara berikutnya adalah dengan kebijakan non tarif, misalnya dengan pengetatan standar mutu. Selama ini, kualitas bawang putih impor yang masuk Indonesia sangat variatif, termasuk yang sangat jelek karena hampa (kering), maupun busuk. Dua hal ini sulit untuk dilakukan, karena kepentingan bisnis telah mengalahkan akal sehat aparat pemerintah. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian, dan Departemen Perdagangan soal bawang putih, selama lebih dari 30 tahun terakhir ini, tidak pernah sedikitpun berpihak ke petani. Sementara petani juga sulit untuk mengatasi permasalahan ini, karena mereka tidak terorganisir dalam satu kelembagaan yang kuat.

# # #

Indonesia, secara agroklimat memang sulit bersaing dengan RRC, atau negara-negara lain yang beriklim sub tropis. Di negeri ini, panas matahari bisa mencapai 17 jam pada musim panas, hingga pertumbuhan umbi bawang putih bisa sangat optimal. Di Idonesia, panjang hari optimal hanya berkisar pada angka 12 jam. Hingga, apabila petani kita membudidayakan varietas bawang putih seperti yang dibudidayakan RRC, pasti akan kalah. Sebab umbi bawang putih kita hanya akan berukuran separo, bahkan bisa lebih kecil lagi dari ukuran bawang putih impor. Satu-satunya cara adalah, kita membudidayakan varietas bawang putih tunggal.

Bawang putih (Allium sativum), memang dikenal sebagai tanaman berumbi (umbi lapis). Ada dua varietas bawang putih, yakni  yang berumbi tunggal (satu tanaman satu umbi), dan yang berumbi majemuk (satu tanaman lebih dari satu umbi). Bawang putih umbi tunggal sering pula disebut sebagai bawang “lanang” (bawang putih laki-laki). Ukuran bawang putih tunggal, lebih kecil dibanding bawang putih majemuk. Satu siung bawang putih majemuk ukuran sedang, sama dengan satu umbi bawang putih tunggal. Kalau dalam satu umbi bawang putih majemuk ukuran sedang ada belasan umbi, maka ukuran umbi bawang putih tunggal seperbelasan bawang putin majemuk.

Kulit luar umbi bawang putih tunggal, berwarna keunguan. Kelebihan bawang putih tunggal dibanding yang majemuk adalah, aromanya lebih kuat. Aroma bawang putih ini, disebabkan oleh kandungan diallyl sulphide (C3H5)2S. Kandungan fitokimia bawang putih selengkapnya adalah: 1 Allicin, 2 Beta-carotene, 3 Beta-sitosterol, 4 Asam Caffeic acid, 5 Asam Chlorogenic, 6    Diallyl-disulfide, 7 Asam Ferulic, 8 Geraniol, 9 Kaempferol, 10, Linalool, 11     Oleanolic acid, 12 P-coumaric acid, 13 Phloroglucinol,
14 Phytic acid, 15 Quercetin, 16 Rutin, 17 S-allyl cysteine, 18 Saponin, 19 Sinapic acid,
dan 20 Stigmasterol.

# # #

Sementara kandungan nutrisi bawang adalah: 1 Kalsium, 2     Folate, 3 Zat Besi, 4 Magnesium, 5     Mangan, 6 Phosphorus, 7 Potassium, 8 Selenium, 9 Zinc, 10 Vitamin B1 (Thiamine), 11 Vitamin B2 (Riboflavin), 12    Vitamin B3 (Niacin),  dan 13 Vitamin C. Kandungan fitokimia dan nutrisi bawang putih tunggal diaggap lebih tinggi dibanding bawang putih biasa. Hingga ibu rumah tangga dari kalangan atas, sekarang justru lebih menyukai bawang putih tunggal. Selain aromanya lebih kuat, bawang putih tunggal juga dipercaya berkhasiat membantu penyembuhan beberapa penyakit. Misalnya kelebihan kolesterol den tekanan darah tinggi. Harga bawang putih tunggal di pasar swalayan, selalu lebih tinggi, sekitar 1,5 kali lipat dari bawang putih biasa.

Kecenderungan pasar ini, sebenarnya bisa menjadi strategi membendung arus bawang putih impor yang terus melaju. Selama ini masyarakat mengira, bahwa bawang putih tunggal juga merupakan produk impor, yang lebih prestisius, karena harganya lebih tinggi. Padahal inilah produk bawang putih lokal kita. Petani kita sebenarnya tidak bodoh. Dengan membudidayakan bawang putih tunggal, produk mereka langsung bisa menembus pasar swalayan. Sementara produk bawang putih majemuk lokal, hanya bisa masuk pasar tradisiolal di kota-kota kecamatan. Kesan bahwa bawang putih tunggal lebih berkualitas dibanding bawang putih majemuk, harus terus dipertahankan, meskipun merupakan produk hasil budidaya lokal.

Aslinya, bawang putih adalah tanaman dataran tinggi, yang hanya bisa dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian di atas 1000 m. dpl. Kemudian pada tahun 1970an, Departemen Pertanian merilis varietas-verietas bawang putih dataran rendah, seperti Lumbu Putih dan Lumbu Kuning. Para petani bawang putih, sangat berharap agar pasar bawang putih tunggal makin besar. Sebab dengan harga lebih tinggi dari bawang putih biasa, keuntungan mereka bisa cukup baik. Selain itu, budidaya bawang putih tunggal juga merupakan salah satu upaya untuk membendung bawang putih impor. Devisa lebih dari satu trilyun rupiah, sebenarnya bisa bisa dinikmati oleh para petani kita, bukan hanya oleh para petani bawang RRC. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s