PELUANG AGROINDUSTRU SUTERA ALAM

Produksi kokon (kepompong ulat sutera) nasional pertahun rata-rata sebesar 250 ton, setara 31,25 ton benang sutera. Sementara kapasitas industri pemintalan benang sutera nasional sebesar 87,5 ton, memerlukan kokon 700 ton per tahun. Hingga tiap tahun Indonesia masih harus mengimpor 450 ton kokon dari RRC dan Thailand.

Ini merupakan peluang agroindustri yang cukup menarik, di tengah krisis ekonomi yang bertubi-tubi dewasa ini. Sebab produksi kokon ulat sutera, merupakan bisnis padat karya, yang akan menyerap banyak tenaga kerja. Usaha ini memang tidak mungkin dikerjakan dengan mesin, hingga semua aktivitas memerlukan tenaga manusia.
Mulai dari menanam murbei (mulberry), memanen daunnya, memberi makan ulat, memanen kokon, semua harus dilakukan secara manual. Kecuali mengangkut daun murbei sampai ke lokasi budidaya ulat, yang bisa menggunakan sepeda motor atau pickup.

Selain bersifat padat karya, agroindustri sutera alam, juga memerlukan lahan luas untuk budidaya murbei. Di desa-desa, murbei tidak harus ditanam di lahan budidaya secara monokultur, melainkan juga bisa di halaman rumah, sebagai pagar, peneduh jalan, penahan erosi di tebing sungai, dan di pematang petakan lahan. Namun harus dihitung dengan cermat, antara volume ulat yang akan dibudidayakan, dengan suplai daun murbei, yang harus dikonversi dengan luasan lahan budidaya. Keuntungan budidaya murbei adalah, makin tua umur tanaman, produksi daun akan semakin tinggi.

Budi daya ulat sutera sendiri, tidak memerlukan tempat luas. Ulat ditempatkan di atas widig (anyaman bambu berbentuk segi empat) panjang 3 m lebar 1 m, yang biasa digunakan untuk menjemur hasil pertanian. Widig ini ditaruh pada rak bambu atau kayu, dan bisa disusun sampai tiga atau empat tingkat. Pada susunan tiga tingkat, pekerjaan bisa dilakukan tanpa pijakan bangku. Pada rak dengan empat tingkat, bagian paling atas hanya bia dijangkau dengan pijakan bangku. Rak ini harus berada dalam ruangan tertutup, dengan ventilasi dan sinar matahari (tidak langsung) yang cukup.

# # #

Sutera alam dihasilkan dari kokon (kepompong) ulat Bombyx mori, dan Bombyx mandarina, yang sudah dibudidayakan di China ribuan tahun SM. Ulat Bombyx mori makan daun murbei, ulat  Bombyx mandarina makan daun eik, dan akan menghasilkan kain shantung (pongee). Yang paling banyak dibudidayakan hanyalah ulat Bombyx mori, yang akan menghasilkan serat sutera. Ada tiga varietas ulat Bombyx mori, dengan tiga warna kokon: putih, putih kebiruan, dan kuning. Ulat sutera sebenarnya adalah larva dari ngengat Bombyx. Ngengatnya sendiri hanya berumur tiga hari, dan akan segera mati setelah kawin dan bertelur.

Telur ngengat ini akan menetas setelah 10 hari berada dalam suhu ruangan. Begitu menetas, larva yang masih sangat kecil ini harus diberi pakan pucuk daun murbei. Setiap hari pucuk ini diganti dengan yang sedikit lebih tua (daun di bawahnya), dan seterusnya, sampai larva siap makan daun murbei tua. Umur larva antara 17 sd. 25 hari. Di dataran rendah (0 – 300 m. dpl), ulat sudah akan membuat kokon pada umur 17 hari, ketika ukuran tubuhnya masih belum optimal. Di dataran tinggi (di atas 800 m. dpl), ulat baru akan membuat kokon pada umur 25 hari, setelah ukurannya optimal.

Pada umur 25 hari, kokon dan benangnya juga berukuran lebih besar, benangnya juga lebih panjang. Hingga idealnya, budidaya ulat sutera pada lokasi dengan ketinggian di atas 800 m. dpl, agar diperoleh benang sutera dengan kualitas terbaik. Sampai sekarang, sutera alam tetap masih merupakan bahan pakaian dengan kualitas terbaik. Daya higroskopis (daya serap terhadap air) sutera mencapai 11% dibanding nylon yang hanya 4%. Serat sutera alam juga berdiameter paling kecil dibandingkan serat alam lainnya, sekaligus juga paling ringan. Serat sutera alam 80% lebih ringan dibanding dengan serat katun, dan 85% dari serat sintetis.

Kokon ulat  sutera tersusun dari dua protein hewani, yakni fibroin (C15H26N5O6) yang menjadi inti serat (benang), dengan volume 75% dari total berat kokon. Fibroin tidak bisa larut dalam air panas. Unsur kedua adalah serisin (C15H23N5O8), lapisan luar dari benang, dengan volume 25% dari bobot kokon. Serisin berfungsi sebagai perekat benang hingga membentuk kokon. Dengan mencelupkan kokon dalam air panas, benang sutera bisa diurai karena serisinnya larut dalam air. Setelah benangnya diambil, kepompong ulatnya yang berprotein tinggi bisa digunakan untuk panan ternak (unggas) atau ikan.

# # #

Agroindustri serat sutera alam, mutlak harus disertai dengankebun murbei. Nama murbei sendiri berasal dari kata mulberry. Tanaman ini masuk dalam genus Morus yang terdiri dari sekitar 150 spesies. Di antaranya adalah: Morus alba (Murbei Putih, berasal dari Asia Timur), Morus australis (Murbei China, dari Asia Tenggara), Morus celtidifolia (dari Meksiko), Morus insignis (dari Amerika Latin), Morus mesozygia (Murbei Afrika, dari Afrika tengahdan selatan), Morus microphylla (Murbei Teksas, dari Amerika Tengah dan Utara bagian selatan, terutama Teksas, dan Meksiko), Morus nigra (Murbei hitam, dari Asia barat daya), Morus rubra (Murbei Merah, dari Amerika Utara bagian Barat).

Yang paling banyak dibudidayakan untuk pakan ulat sutera, murbei Marus alba, karena produktivitas daunnya paling tinggi. Murbei dibudidayakan dengan stek cabang/ranting. Murbei Morus alba, paling mudah dibudidayakan, karena patahan rantingnya yang terlatak di tanah pun akan menumbuhkan tunas dan akan, lalutumbuh menjadi individu baru. Morus alba juga tahan dibudidayakan di lahan tandus berbatu-batu. Murbei yang dibudidayakan untuk dipanen daunnya sebagai pakan ulat sutera, harus diupayakan tidak pernah tinggi. Paling ideal tinggi tanaman 1,5 m, hingga memudahkan panen daun.

Agroindustri sutera alan di Indonesia antara lain ditangani oleh Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, dengan Pusat Sutera Alam di desa Regaloh, Kec. Tlogowungu, Kab. Pati, Jateng. Sementara benih ulat sutera (kokon) atau ulatnya, bisa diperoleh di Pembenihan Ulat Sutera Perum Perhutani, Desa Candiroto, Kec. Bejen, Kab. Parakan, Jawa Tengah. Di Indosia, agroindustri sutera alam masih terkonsentrasi di Sopeng, Sulawesi Selatan. Meskipun sekarang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY, sudah mulai bermunculan agroindustri persuteraan. Baik yang dikelola oleh rakyat, maupun perusahaan besar. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s