BUDI DAYA BABY KOL

Limabelas tahun yang lalu, para petani di Jawa Barat menerima permintaan aneh. Biasanya selesai dipanen, tanaman kol akan dibabat habis dan dibongkar. Para pedagang, minta agar petani memelihara tunggul kol itu, membumbun, dan memupuknya, sampai keluar tunas, yang disebut “keciwis”.

Limabelas tahun silam, keciwis hanya dijual di pasar swalayan papan atas di Jakarta, dan disebut sebagai “baby kol” atau “baby kubis”. Sekarang, baby kubis sudah sangat memasyarakat, hingga bisa dijumpai di warung dan tukang sayur di gang-gang sempit di Jabodetabek. Harga baby kubis juga masih sangat tejangkau oleh masyarakat lapis bawah, dibandingkan dengan kembang kol, terlebih brokoli. Sebab baby kubis sebenarnya merupakan produk “limbah” dari budidaya kol. Petani sudah mendapat keuntungan dari panen kol, dan baby kubis adalah produk sampingannya. Kol atau kubis, adalah komoditas kubis, yang daun mudanya memadat membentuk kepala.

Dikenal kepala dengan bulatan penuh (kol bulat), bulatan pipih (kol gepeng), atau bulatan yang meruncing bagian ujungnya. Kepala ada yang berwarna putih (Brassica oleracea var. capitata L. f. alba DC), dan kol merah (Brassica olevacea var. capitata L. f. rubra (L.) Thell). Ada pula kubis kepala yang daunnya mengeriting yakni kubis savoi (Brassica olevacea var. sabauda L.). Di negeri kita, petani paling banyak membudidayakan kol gepeng dan kol bulat warna putih. Kubis bulat merah, hanya dibudidayakan secara terbatas untuk memasok pasar swalayan. Ada lagi jenis kubis kale (Brassica olevacea var. acephala DC.), yang tidak bisa membentuk kepala.

Kale dengan daun mengeriting, disebut kale keriting (Brassica olevacea var. acephala DC. sub Var. laciniata L.).  Selain dipanen berupa kepala kol maupun kale, spesies kubis (Brassica olevacea) juga dipanen bunga putihnya (kembang kol, Brassica olevacea var. botrytis L. sub var. cauliflora); atau  bunga hijaunya (brokoli, sprouting broccoli (Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cymosa Lam). Ada pula kol yang dipanen batangnya (kailan, Brassica oleracea var. Alboglabra), dan batangnya yang  menggembung  seperti umbi (kol rabi, kohlrabi, Brassica oleracea var. gonggylodes L).

# # #

Baby kubis yang berkembang menjadi salah satu komoditas sayuran di Indonesia, sebenarnya merupakan substitusi dari kubis tunas atau kol brusel (brussels sprouts, Brassica olevacea var. gemmifera DC.). Disebut kubis tunas, karena “kepala” nya justru terbentuk pada tunas yang tumbuh memenuhi seluruh batang. Disebut kol brusel, karena pada jaman jenis kubis ini sudah mulai dikenal dan dibudidayakan pada jaman Kekaisaran Romawi Kuno. Sentra budidaya kol brusels, berlokasi di kawasan yang sekarang dinenal sebagai Belgia, dengan ibu kota Brusel.

Kalau batang kubis biasa pendek, dan hanya daunnya yang berkembang melebar kemudian memadat, maka batang kol brusel justru memanjang, dengan daun yang kecil, dengan jarak antar tangkai daun cukup jarang. Pada masing-masing ketiak daun inilah akan tumbuh tunas. Daun tunas kol brusel berukuran kecil-kecil, tumbuh saling menangkup, dan langsung memadat membentuk kepala. Bentuk kepala kol brusel umumnya bulat, berukuran sekitar 5 sd. 7 cm, dengan warna bagian luar tetap hijau. Tunas yang memadat membentuk kepala inilah yang dipanen.

Meskipun tunas kol brusel langsung memadat, namun tingkat kepadatannya tidak bisa seperti kepala kol bulat, maupun kol gepeng. Hingga tunas kol biasa pun, yang juga tidak terlalu padat, bisa menjadi alternatif pengganti kol brusels. Tidak pernah ketahuan dengan jelas, kapan dan di manakah di Indonesia pertama kali tunas kol biasa dijadikan  sebagai substitusi kol brusels. Juga tidak ketahuan, mengapa tunas kol ini disebut keciwis. Sekitar 15 tahun yang lalu, keciwis banyak banyak dibudidayakan di kawasan Majalengka, Jawa Barat, dengan pasar utama Jakarta, dan sebagian diekspor.

Tidak ketahuan pula sejak kapan, keciwis, yang merupakan pengganti kol brusel, kemudian disebut sebagai baby kol atau baby kubis. Sebutan ini memang terkesan lebih tepat untuk menjangkau pasar menengah ke atas. Dan seperti biasa, begitu masyarakat menengan ke atas menerima komoditas ini, maka masyarakat luas akan ikut pula menerumanya. Hingga sekarang, di warung-warung kecil serta tukang sayuran kelinling, sudah menjajakan baby kol, yang dikemas dalam kantung plastik bening. Memasak baby kol memang terkesan lebih bergengsi dibanding memasak keciwis.

# # #

Petani senang sekali membudidayakan keciwis, sebab sebenarnya mereka sama sekali tidak perlu mengeluarkan modal lagi. Setelah kol dipanen, biasanya tonggak tanaman itu dibongkar. Untuk menghasilkan baby kol, daun-daun tua itu dipotong sebagian. Kemudian tanaman dibumbun. Setelah tunas tampak mulai tumbuh, petani memupuk tonggak kubis itu dengan urea. Kalau kol baru bisa dipanen setelah sekitar tiga bulan, maka keciwis sudah bisa dipanen dalam waktu 1,5 bulan. Sambil menunggu panen keciwis, petani mulai menanam komoditas lain, di sela-sela tonggak kubis itu.

Keciwis dipanen dengan memotong batang kol, dan memetik tunas-tunas yang telah membulat menjadi kepala itu, satu per satu. Dibanding dengan kol brusel, kepala keciwis memang lebih rendah tingkat kepadatanannya. Meskipun demikian, pasar tetap menerima komoditas kubis tunas ini apa adanya, karena masyarakat kita memang belum pernah mengenal kol brusel sebelumnya. Bagi masyarakat kalangan atas yang sebelumnya pernah mengenal kol brusel, keciwis juga tetap diterima, justru karena eksotis. “Kok brusel sproutnya seperti ini ya?” Kata mereka.

Para pedagang biasanya akan meluruskan komentar konsumen, yang menganggap kubis tunas “keciwis” itu sebagai kol brusel. “Ini bukan kol brusel, tetapi baby kol,” Sampai sekarang, para petani tetap menyebut kubis tunas itu sebagai keciwis. Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa setelah di Jakarta, keciwis itu akan berganti nama menjadi “baby kol”, dan berfungsi sebagai pengganti “brusel sprout”. Para petani sangat diuntungkan, sebab sekarang pasar baby kol itu tidak hanya sebatas di swalayan besar, melainkan sudah sampai di tukang sayur keliling. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s