JAGUNG SEBAGAI PANGAN TAK LANGSUNG

Awalnya jagung dibudidayakan sebagai pangan langsung. Komoditas karbohidrat ini dikonsumsi dalam bentuk tepung. Sekarang jagung lebih banyak diproduksi sebagai pakan ternak dan ikan, hingga merupakan bahan pangan tak langsung.

Masyarakat Indian kuno (Aztek, Maya, Inka); mengonsumsi jagung dalam bentuk tepung yang ditaburkan dalam permukaan kuali panas, hingga menjadi lembaran roti yang sangat tipis. Ketika bangsa Eropa masuk ke Benua Amerika, roti jagung masyarakat Indian menjadi sangat bervariasi. Dalam waktu sangat cepat, jagung juga menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Hingga masyarakat kita pun mengenal “nasi jagung”, yakni nasi berbahan baku tepung jagung. Pertumbuhan budi daya jagung demikian pesat, hingga sekarang komoditas ini merupakan serealia yang paling banyak dibudidayakan di dunia.

Selama ini yang dimaksud sebagai gandum hanyalah common wheat. Data FAO 2007 menunjukkan produksi jagung dunia sebesar 791,7; beras 659,5; dan common wheat hanya 605,9 juta ton. Bahkan apabila yang dimaksud sebagai gandum termasuk barley, oat, dan rye, maka produksi “gandum” hanya sebesar 777,3 juta ton, masih tetap lebih rendah dibanding jagung. Sampai sekarang, jagung memang masih menjadi pangan langsung berupa jagung tepung (jagung putih, maizena), jagung manis (sweet corn), maupun jagung berondong (pop corn). Namun produksi tiga komoditas ini sangat kecil dibanding jagung kuning sebagai pakan ternak.

# # #

Tahun 2007, produksi jagung dunia sebesar 791,7 juta ton itu, didominasi oleh AS sebesar 256,2 juta ton. Kemudian menyusul RRC 151,9;  Brasil 52,1; Meksiko 23,5; Argentina 21,7; India 18,9; Perancis 14,5; dan Indonesia 13,2 juta ton. Sejak lima tahun terakhir, produksi jagung Indonesia relatif stabil, yakni 2003 sebesar 10,8; tahun 2004 naik menjadi 11,2; 2005 12,5; 2006 turun lagi ke 11,6; dan 2007 13,2 juta ton. Posisi Indonesia dalam 10 besar penghasil jagung dunia juga relatif stabil, yakni pada urutan ke delapan. Posisi Perancis juga tetap di atas Indonesia, yakni urutan ke tujuh. Kecuali tahun 2004, Perancis menyodok India dan Argentina, hingga berada pada ranking lima, dengan produksi 16,3 juta ton.

Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menaikkan posisi dalam 10 besar negara penghasil jagung dunia. Sebab produksi jagung kita pada tahun 1987 5,1 juta ton, dan berada pada ranking sembilan. Tahun 1997 hasil jagung Indonesia naik menjadi 8,7 juta ton. Tetapi posisi Indonesia merosot pada ranking 11 dunia, digeser oleh Italia, Rumania, yang sebelumnya tidak pernah masuk ke 10 besar penghasil jagung dunia. Selama 20 tahun, Indonesia telah berhasil meningkatkan produksi jagungnya lebih dari dua kali lipat, dari 5,1 juta ton pada tahun 1987 menjadi 8,7 pada tahun 1997, dan 13,2 juta ton pada tahun 2007. Mengingat potensi lahan, agroklimat, produksi benih, dan ketersediaan tenaga kerja, sebenarnya peningkatan produksi jagung Indonesia masih bisa lebih dipercepat lagi.

Kendala utama peningkatan produksi jagung nasional, adalah faktor modal, dan teknologi pasca panen. Ada dua pola budi daya jagung di Indonesia. Pertama jagung lahan kering, yang dibudidayakan pada musim penghujan. Kedua jagung di lahan sawah yang dibudidayakan pada musim kemarau. Panen jagung lahan kering selalu terjadi pada puncak musim penghujan, hingga kadar air jagung pipilan akan sangat tinggi (lebih dari 17%). Jagung pipilan kualitas baik, harus berkadar air di bawah 13%. Hingga teknologi pasca panen menggunakan alat pengering (dryer), mutlak diperlukan. Bahkan kadar air jagung sawah pun, kadang juga masih di atas 17%. Meskipun panen jagung lahan sawah, selalu terjadi pada puncak musim kemarau.

# # #

Tingginya kadar air jagung pipilan, telah mengakibatkan harga komoditas ini jatuh di bawah HPP (harga pokok produksi). Akibatnya petani rugi, dan tahun berikutnya kapok menanam jagung. Selain itu, modal juga masih menjadi kendala pengembangan jagung nasional. Banyak petani yang sebenarnya berminat membudidayakan jagung, namun sama sekali tidak punya modal. BRI selama ini paling aktif memberikan bantuan pinjaman modal bersuku bunga rendah, dan tanpa agunan kepada para petani. Meskipun kantor BRI sudah merata sampai ke tingkat kecamatan, namun uluran tangannya masih belum mampu menjangkau  seluruh petani yang kesulitan modal. Andaikata faktor teknologi pasca panen, dan ketersediaan modal bisa diatasi pemerintah, maka pengembangan jagung nasional akan bisa lebih terpacu.

Sebagai bahan pakan ternak, jagung kuning pipilan akan digiling menjadi tepung maupun serbuk. Dengan dicampur bungkil, tepung ikan, dan bahan-bahan lain, jagung akan menjadi pakan unggas. Baik ayam, itik, puyuh, pedaging maupun petelur. Ternak ruminansia, terutama sapi perah, juga memerlukan jagung pipilan sebagai bahan pakan. Demikian pula dengan ikan dan udang konsumsi. Angka-angka produksi yang ditampilkan di atas, merupakan produksi jagung pipilan kering. Padahal jagung juga dibudidayakan untuk dipanen hijauannya sebagai pakan ternak ruminansia, baik sapi perah, maupun pedaging. Manusia modern memang cenderung memerlukan jagung sebagai bahan pangan tidak langsung. Jagung dikonsumsi ternak, dan manusia mengonsumsi daging, ikan, udang, telur serta susu. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s