PELUANG PRODUKSI KAYU BAKAR

Akibat krisis BBM belakangan ini, pamor kayu bakar naik lagi.  Industri gerabah, juga kembali memroduksi keren, yakni tungku khusus untuk bahan bakar kayu. Di beberapa sentra gerabah, khususnya di Jawa Tengah, dan DIY, stok keren, lebih banyak dibanding anglo, yakni tungku gerabah berbahan bakar arang. Ini merupakan indikator, banyak rumah tangga yang sekarang kembali memasak dengan kayu bakar. Keren cocok untuk digunakan dalam rumah tangga skala kecil. Rumah tangga skala besar, terlebih yang memasak nasi jagung, memerlukan tunggu besar, dengan dua atau tiga lubang tempat dandang, panci, atau wajan.

Keren dan anglo hanya punya satu lubang tempat menaruh peralatan memasak.
Bentuk keren dan anglo, seperti pot, dengan lubang segi empat pada bodynya. Pada keren, fungsi lubang ini, untuk memasukkan kayu bakar. Pada anglo, lubang digunakan untuk masuknya angin, baik dari kipas anyaman bambu, maupun kipas angin listrik. Ukuran keren sedikit lebih besar dari anglo. Pada seperempat bagian atas anglo, ada sekat horisontal, berlubang-lubang untuk tempat arang. Keren tidak diberi sekat. Api dari bahan bakar kayu yang menyala di dasar keren, bisa langsung mengenai bagian bawah peralatan memasak.

Ukuran anglo juga bervariasi. Mulai anglo paling kecil untuk membakar kemenyan, anglo sedang untuk memasak tongseng, sampai ke anglo besar briket batubara untuk industri pangan.  Misalnya untuk mamasak bandeng presto, menggoreng keripik, merebus sari kedelai untuk tahu, dan lain-lain. Variasi ukuran keren tidak sebanyak anglo. Keren hanya digunakan untuk memasak, dengan bahan bakar kayu, dalam volume dan waktu terbatas. Rumah tangga yang menggunakan bahan bakar kayu dalam volume besar dan jangka waktu agak lama, selalu menggunakan tungku besar. Tungku kayu bakar berbahan batu bata, batako, batu kapur, atau tanah liat.

# # #

Pohon dan perdu penghasil kayu bakar, dikategorikan menjadi tiga macam. Pertama yang berkayu keras, berkayu sedang, dan berkayu lunak. Misalnya  rambutan (Nephelium lappaceum), lengkeng (Euphoria longan), bakau (Rhizophora Sp), sawo manila (Achras zapota), sonokeling (Dalbergia latifolia), akasia (Acacia mangium), akasia gunung (Acacia catechu), dan kosambi (Schleichera oleosa). Kedua kayu berkategori sedang. Misalnya angsana (Pterocarpus indicus), lamtoro (Leucaena leucocephala), kaliandra (Calliandra calothyrsus), gamal (Gliricidia maculata, dan albisia (Albizia moluccana).

Ketiga, kayu yang dikategorikan sangat lunak, hingga tidak mungkin dijadikan bahan bakar. Misalnya kapuk (Ceiba petandra), pulai (Alstonia scholaris), jarak pagar (Jatropha curcas), dan dadap (Erythrina Sp). Sebenarnya kayu yang paling lunak ini pun masih mungkin dijadikan bahan bakar, asalkan sudah dalam keadaan benar-benar kering. Sebab selain lunak, kayu-kayu ini juga banyak mengandung air. Kalau masih ada kulitnya, kayu-kayu lunak ini juga akan cenderung tetap segar. Sebab di alam, kayu-kayu seperti ini akan bisa tumbuh, meskipun hanya dilempar ke atas tanah yang basah. Agar bisa mengering, kayu lunak ini harus dikelupas kulitnya, lalu dijemur.

Bahan untuk kayu bakar, bisa berasal dari cabang, maupun batang, dengan berbagai diameter. Idealnya kayu untuk bahan bakar, minimal berdiameter 5 cm. Kayu yang berdiameter lebih dari 5 cm, harus dibelah-belah. Karakter kayu juga bermacam-macam. Ada yang batang serta cabangnya lurus, misalnya albisia. Ada juga yang bengkok-bengkok dan banyak cabangnya. Misalnya lengkeng. Kayu lengkeng paling sulit untuk dibelah-belah. Terlebih batang lengkeng yang sudah berukuran cukup besar. Bahkan lengkeng yang sudah cukup tua, kayunya juga sangat keras, hingga hanya bisa dipotong dengan chainsaw, yang cukup tajam.

Bahan kayu bakar, idealnya dipotong-potong dengan panjang seragam, yakni sepanjang 50 cm. Di beberapa daerah pengguna kayu bakar, misalnya di Gunung Kidul dan Wonogiri, kayu bakar sering dipotong-potong sepanjang 1,5 m. Setelah dipotong-potong, kayu langsung dibelah-belah. Ukuran belahan, berpedoman pada mulut tungku atau keren. Yakni bagian paling lebar berukuran paling panjang 10 cm. Pada musim kemarau, kayu yang sudah terbelah-belah, dibiarkan terjemur di lapangan sampai kering. Pada musim penghujan, sebaiknya kayu segera diangkat ke tempat teduh, agar tidak terkena hujan. Biasanya potongan kayu ditumpuk rapi agar menghemat tempat.

# # #

Masyarakat pedesaan yang belum pernah menggunakan bahan bakar minyak atau gas, kadang-kadang juga tidak terlalu memperhatikan  ketersediaan kayu bakar di rumahnya. Hingga kayu untuk memasak hari itu, masih dalam keadaan setengah kering, atau malahan masih basah sama sekali. Untuk mengeringkannya, mereka akan menaruh kayu bakar basah itu di atas tungku, yang masih ada apinya. Kebanyakan, rumah tangga di pedesaan menyimpan stok kayu bakar, hingga yang mereka pergunakan sehari-hari, berupa kayu yang sudah benar-benar kering. Kalau stok mereka cukup, kayu yang dipanen tahun ini, baru akan mereka bakar tahun depan.

Potongan kayu yang sudah terbelah-telah rapi itu, mereka tumpuk di samping, atau belakang rumah, yang mesih terlindungi atap. Kadang mereka juga membuat bangunan khusus, untuk menaruh kayu bakar. Kalau satu KK, dalam sehari memerlukan kayu bakar 10 kg, maka dalam satu tahun harus tersedia 3,65 ton. Untuk menampung tumpukan kayu bakar sebanyak itu, hanya diperlukan tempat selebar bak truk engkel, yang diberi atap setinggi 2 sd. 2,5 m. Biasanya keluarga di pedesaan paling sedikit punya dua lokasi penampungan kayu bakar. Satu lokasi untuk tempat kayu bakar yang baru saja dipanen, dan satu lagi yang akan digunakan sehari-hari.

Kayu bakar yang sudah benar-benar kering tidak akan menghasilkan banyak asap. Asalkan di dalam tungku atau keren, sudah ada bara cukup banyak. Meskipun tidak menghasilkan asap, dapur dengan tungku atau keren berbahan bakar kayu, sebaiknya berada dalam ruang berventilasi cukup baik. Hingga asap dari tungku itu bisa terus naik dan keluar ruangan. Masyarakat pedesaan, masih memanfaatkan asap dari tungku dapur untuk mengeringkan dan mengawetkan cadangan pangan serta benih. Gaplek, jagung, padi, dan keranjang berisi tembakau, selalu mereka tempatkan pada para-para, yang dibangun persis di atas tungku dapur berbahan bakar kayu. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s