INDIAN DAN OTAHEITE GOOSEBARRY

Indian Goosebarry adalah buah malaka (kemloko), sedangkan Otaheita Goosebarry adalah cermai. Dua-duanya masih termasuk genus Phyllanthus, yang terdiri dari sekitar 800 spesies. Ceremai (Phyllanthus acidus), berasal dari Madagaskar, sedangkan buah malaka (Phyllanthus emblica), dari India. Meskipun berasal dari Madagaskar, selain Otaheita Goosebarry, cermai juga disebut Malay gooseberry, Tahitian gooseberry, country gooseberry, star gooseberry, West India gooseberry, bilimbi, dan simply gooseberry tree.

Sedangkan sebutan buah malaka berasal nama buah ini dalam bahasa Sansekerta, yakni amalaka. Sebutan lainnya adalah amla (Hindi), amlaki (Bengali), amala (Nepal), Bhasa, nellikka (Malayalam), usirikai (Telugu), nellikai (Kannada), dan  aonla, aola, ammalaki, amla berry, dharty, aamvala, aawallaa, emblic, emblic myrobalan, Malacca tree, nillika, nellikya (Tamil). Banyaknya variasi nama buah malaka di India, selain merujuk bahwa tanaman ini berasal dari sana, juga menunjukkan betapa pentingnya tanaman buah ini. Beda dengan di negeri kita, buah malaka sama sekali tak terperhatikan.

Di India, cermai dan malaka merupakan bahan agroindustri minuman, makanan, dan obat-obatan yang cukup penting. Buah cermai lebih banyak diolah menjadi minuman, dan makanan, terutama manisan. Masyarakat etnis China sangat menyukai manisan cermai, hingga banyak kalangan yang menduga, bahwa tanaman cermai berasal dari daratan China.  Mereka tidak tahu bahwa tanaman buah ini asli Madagaskar. Buah malaka juga sering dijadikan manisan, namun manfaat paling besar justru sebagai bahan obat tradisional, sesuai dengan ilmu pengobatan India kuno Ayurvedic.

# # #

Buah cermai berbentuk bulat, dengan permukaan menggelombang secara vertikal. Warna buah hijau kekuningan ketika muda, dan menjadi kuning cerah setelah tua. Diameter buah sekitar 2 cm. Daging buah renyah dengan banyak air, rasanya sangat masam, dengan aroma segar khas cermai. Biji yang bertempurung sangat keras berada di bagian tengah buah. Buah malaka berukuran sedikit lebih besar dari cermai, dengan permukaan kulit buah halus dan rata. Warna kulit buah kecokelatan. Daging buah malaka juga sedikit lebih keras dari cermai, dengan rasa masam dan kelat (sepet).

Di India, cermai dan buah malaka biasa dikonsumsi segar. Buah malaka biasa dimakan dengan sedikit garam, setelah itu segera minum air tawar. Air tawar itu akan terasa manis. Di Indonesia, hanya cermai yang sering dikonsumsi segar dengan dibuat rujak. Buah malaka tidak lazim dimakan, baik segar maupun olahannya. Meskipun beberapa orang suka membuat dan mengkonsumsi manisan buah malaka. Di Indonesia, cermai banyak ditanam di halaman rumah, atau sebagai peneduh jalan. Kadang-kadang tanaman cermai tumbuh dengan sendirinya di kebun.

Buah cermai tidak disukai binatang, hingga penyebaran tanaman ini melalui biji dari buah yang membusuk di bawah pohon, kemudian hanyut terbawa aliran air hujan. Tanaman buah malaka tidak lazim ditanam di halaman rumah atau kebun. Tanaman liar banyak tumbuh di tanah-tanah gersang, berbatu-batu, terutama di bukit-bukit kapur. Misalnya di pegunungan Menoreh, dan Gunung Kidul, DIY. Anak-anak penggembala ternak sering menggigit-gigit buah malaka, meskipun rasanya masam, pahit dan sepat. Menurut mereka, rasa masam, pahit dan sepat itu, bisa menghilangkan rasa haus, sekaligus menguatkan badan.

Hal ini disebabkan, vitamin C yang terdapat pada buah malaka relatif lebih mudah diserap lambung dibandingkan dengan vitamin C pada jenis buah lain. Di India, jus buah malaka segar, digunakan sebagai terapi terhadap penyembuhan gangguan lever. Surendra Rohatgi, ahli ayuverdik dari Kanpur, India, telah  mempatenkan produk olahan buah malaka sebagai obat flu, TBC, dan beberapa gangguan kekebalan tubuh. Di India, agroindustri pickle (asinan) buah malaka, telah berkembang dengan cukup baik. Kemasan pickle malaka banyak dijumpai di pasar swalayan.

# # #

Pickle adalah buah segar yang direndam dalam larutan cuka dan garam. Pickle jarang dikonsumsi langsung secara tunggal, melainkan dengan dipotong-potong, diberi tambahan gula, atau digunakan sebagai acar untuk penyegar santapan utama. Beda pickle dengan acar adalah, pickle berupa buah utuh yang langsung direndam larutan cuka dan garam. Sementara acar adalah buah yang terlebih dahulu dipotong-potong, baru dimasukkan ke dalam larutan cuka dan garam. Selain dianggap berkhasiat mengobati aneka penyakit, di India buah malaka sudah sampai ke tahap dikeramatkan.

Sampai sekarang cermai dan malaka masih menjadi buah liar yang tak pernah terperhatikan dengan baik. Cermai masih sedikit lebih beruntung, karena banyak dijumpai tumbuh di kebun dan halaman rumah. Sedangkan malaka masih tumbuh liar di kawasan yang gersang dan panas. Karena karakternya ini, malaka bisa digunakan sebagai salah satu tanaman penghijauan di lahan-lahan marjinnal. Kalau sekarang ini malaka sudah tumbuh di kawasan tersebut, itu disebabkan oleh penyebaran secara alami. Bukan merupakan hasil budidaya manusia.

Cermai dan malaka tidak mungkin dibudidayakan sebagai buah untuk dikonsumsi segar secara langsung. Hingga dua buah ini harus diolah terlebih dahulu, sebelum dikemas dan dipasarkan. Cermai paling  berpotensi diolah menjadi manisan. RRC, dengan populasi 1,3 milyar jiwa, merupakan potensi pasar yang sangat besar. Malaka paling berpotensi untuk diawetkan dalam bentuk pickle. India dengan populasi 1,1 milyar, adalah pasar pickle buah malaka yang sangat besar. Belum lagi, etnis China dan India yang tinggal di Singapura dan Malaysia. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s