POTENSI BISNIS SASHIMI

Maraknya restoran jepang di kota-kota besar di Indonesia, berpeluang memperluas potensi bisnis ikan sebagai bahan sashimi. Inovasi menu sashimi akan menciptakan tren baru, seperti pada restoran ayam goreng cepat saji, yang kemudian juga menyajikan nasi pada gerai mereka di Asia.

Masyarakat Indonesia, masih sering kebingungan membedakan sashimi dengan sushi. Hingga di restoran jepang, mereka menolak makan sushi, karena dianggap sebagai sashimi, yang identik dengan ikan mentah. Padahal sushi dan sashimi adalah dua jenis menu khas Jepang, yang berbeda. Sushi adalah nasi yang digulung, dengan berbagai “lauk”. Lauk sushi, ada yang ditaruh di dalamnya, ada pula yang di atasnya (topping). Sushi sebagai nasi gulung, bisa diibaratkan dengan lemper di negeri kita. Saat ini di kota-kota besar di Indonesia, sushi bukan hanya disajikan oleh restoran jepang, melainkan juga “warung kakilima”.

Sementara sashimi adalah irisan daging ikan laut dan seafood, yang awalnya memang dikonsumsi segar. Meskipun dikonsumsi segar (mentah), sashimi tetap higienis, sebab proses penangkapan, pembersihan, sampai ke pemotongan (pengirisan) daging hingga siap santap, dikerjakan sesuai dengan standar kesehatan dan keamanan konsumen Jepang. Sashimi yang paling mahal berbahan baku ikan dan seafood yang benar-benar segar, dalam arti baru saja dipotong atau diangkat dari laut. Bahan sashimi yang umum disajikan di restoran jepang umumnya merupakan daging ikan dan seafood, yang sudah dimasak (direbus, steam), dan didinginkan dalam freezer.

# # #

Bahan utama sashimi yang paling populer adalah Salmon (Sake); Squid (Sotong, Ika), Shrimp (Udang, Ebi), Tuna (Maguro), Mackerel (Saba), Horse Makerel (Aji), Octopus (Gurita, Tako), Fatty Tuna (Toro), Yelowtail (Ekor kuning, Hamachi), Takifugu (Ikan Khas Jepang), Scallop (Kerang, Hotate-gai). Selain ikan dan seafood, yang juga populer sebagai bahan sashimi di Jepang adalah daging kuda (Basashi). Daging kuda memang sangat populer sebagai menu tradisional di kawasan Kumamoto, Matsumoto, dan Tohoku. Sebagai Sashimi Basashi, daging kuda bisa dijumpai di beberapa restoran di Osaka, Tokyo dan kota-kota besar lainnya di Jepang.

Bahan Sashami Basashi, bukan berasal dari kuda beban, atau kuda balap, tetapi kuda potong yang khusus diternak untuk diambil dagingnya. Selain disebut Basashi, daging kuda sashimi juga disebut sakura dan sakuraniku. Disebut demikian, karena warna daging kuda yang pink mirip dengan ikan salmon, mengingatkan masyarakat jepang pada bunga sakura. Selain untuk sashimi, daging kuda juga digunakan dalam masakan Yakiniku Barbeque. Sama dengan daging ikan dan seafood lainnya, daging kuda dalam Sashimi Basashi, juga dikonsumsi dalam bentuk irisan tipis dan dikonsumsi mentah.

Sashimi sebenarnya bukan sekadar daging ikan, seafood, dan daging kuda mentah. Irisan daging ikan dan seafood ini, sebelum dimasukkan ke dalam mulut, harus terlebih dahulu dicelupkan ke dalam kecap jepang, yang dicampur dengan Wasabi. Yang disebut wasabi adalah pasta terbuat dari batang Wasabia japonica, tanaman air keluarga kubis-kubisan, yang hanya tumbuh di Jepang. Fungsi wasabi dalam sashimi, sama dengan fungsi Mustard Sauce, cabai, dan lada, yang bertujuan untuk memberikan efek pedas. Bedanya, pedasnya wasabi, juba mustard, akan terasa pada rongga hidung. Sementara pedasnya cabai dan lada, terasa pada lidah.

Selain kecap jepang dan wasabi, sashimi juga harus dikonsumsi bersama dengan irisan jahe muda. Di Jepang, rimpang jahe adalah komoditas penting untuk menyantap seafood, termasuk sashimi. Yang disebut jahe muda adalah rimpang jahe gajah umur di bawah enam bulan. Rasa pedasnya belum terlalu tinggi, aroma jahenya kuat, dan seratnya hampir tidak ada. Rimpang jahe muda ini juga diiris tipis-tipis. Irisan jahe itu biasanya ditumpuk jadi satu dengan irisan daging ikan atau seafood, dicelupkan dalam kecap jepang yang sudah dicampur wasabi, lalu dimasukkan ke dalam mulut. Rasa jahe dan wasabi ini akan menetralkan aroma seafood.

# # #

Indonesia adalah negara kepulauan, yang cadangan pangannya lebih banyak berada di laut daripada di daratan. Cadangan pangan itu berupa rumput laut (seaweed), ikan, kerang, sotong, dan satwa laut lainnya. Cadangan pangan itu belum kita eksplorasi dengan baik. Yang paling banyak memanfaatkan laut kita sebagai cadangan pangan justru nelayan asing, baik yang menangkap ikan secara legal, maupun yang illegal. Cara kita mengonsumsi ikan juga masih sangat terbatas, dibanding dengan Jepang. Kita masih menganggap ikan, dan seafood lainnya sekadar sebagai lauk. Sementara Jepang telah memposisikan ikan sebagai menu utama.

Sashimi bagi masyarakat Jepang memang bisa sekadar menjadi makanan pembuka, sekadar sebagai makanan ringan di saat santai, tetapi juga bisa menjadi menu utama. Menyantap sashimi memang tidak mengenyangkan, tetapi gizi yang diperoleh dari sana sudah lebih dari cukup. Selain gizinya cukup, sashimi juga sehat karena dikonsumsi dalam keadaan segar, bahkan mentah. Ikan laut juga lebih sehat, karena hidup secara alami, dan menyantap makanan alami. Dibandingkan dengan ikan peliharaan manusia, ikan laut memiliki beberapa keunggulan, di antaranya karena kualitas dagingnya yang lebih baik.

Selain karena berasal dari alam, daging ikan dan seafood lainnya juga lebih sehat karena rendah lemak. Meskipun punya banyak keunggulan, popularitas sashimi di Indonesia, kalah dibanding dengan sushi. Kalau sushi sudah mulai memasyarakat hingga disajikan di restoran kecil, maka sashimi masih sebatas hanya bisa dijumpai di restoran besar, dan hotel bintang. Di Indonesia, sashimi juga masih dianggap sebagai menu eksklusif, yang disantap sebagai apetizer, atau makanan ringan di saat santai. Bangsa kita, masih agak sulit untuk menerima sashimi sebagai menu utama. Sebab bagi kita, menu utama adalah karbohidrat. Nasi, mi, atau roti, bukan ikan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s