AGROINDUSTRI DARI POHON LONTAR

Lontar, atau siwalan, (Borassus flabellifer), juga disebut the asian palmyra palm, toddy palm, sugar palm, dan cambodian palm. Disebut cambodian palm, karena di Kamboja, pohon lontar bisa dijumpai di mana-mana, termasuk di sekitar Angkor Wat. Di halaman dalam Situs Warisan Dunia ini, bahkan ada pohon lontar setinggi lebih dari 30 m, dan umurnya diperkirakan di atas 100 tahun. Lontar juga disebut sugar palm, karena sama halnya dengan aren, dan kelapa, merupakan penghasil gula palma (palm sugar). Disebut the asian palmyra palm, karena habitat aslinya Asia, dan juga untuk membedakannya dengan african palmyra palm, (Borassus aethiopium), dari Afrika.

Mulai dari sekolah dasar, anak-anak Indonesia selalu diberi pelajaran, bahwa naskah-naskah kuno ditulis di atas daun lontar. Hingga lontar identik dengan naskah-naskah kuno, berhuruf Palawa, Jawa kuno, Sunda, Bali. Sebelum budaya kertas masuk kepulauan nusantara, naskah kuno memang ditulis di atas daun lontar. Caranya, daun lontar di buang lidinya, kemudian dipotong sesuai ukuran, dan direbus dalam air garam, campur kunyit. Gunanya agar cendawan, bakteri, dan ngengat tidak merusak naskah penting itu. Garam menolak cendawan, kunyit merupakan anti bakteri. Dua bahan ini secara sekaligus tidak disukai ngengat.

Setelah direbus, daun siwalan dihaluskan (digosok) dengan batu apung, lalu dikeringkan, dan dipotong sesuai ukuran. Menulis di atas daun lontar memerlukan teknik tersendiri, sebab pensilnya berupa pisau kecil. Terlalu dangkal menorehkannya, huruf tidak terbaca, terlalu dalam daun bisa sobek. Menulis di atas daun lontar dengan pisau, juga memerlukan kecermatan tinggi, karena tidak boleh salah. Kalau salah tidak bisa ditipex. Dihapus dengan karet penghapus, apalagi didelete. Tiap lembar daun lontar, biasanya dijadikan dua halaman tulisan. Lembaran daun lontar ini, bagian pinggirnya dilubangi, untuk dirangkai (diikat) menjadi satu, dan disimpan.

# # #

Di Bali, NTB, dan NTT, daun lontar digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari untuk tikar, topi, tempat air, bahkan juga peralatan musik (sasando). Namun agroindustri lontar yang terpenting adalah gula merah (palm sugar). Gula merah bisa diproduksi dari air tebu, nira kelapa, aren, dan lontar. Menurut beberapa kalangan, gula merah dari nira lontar berkualitas paling baik. Sebab selalu lontar tumbuh di kawasan dataran rendah yang kering dan gersang. Selain rendemennya lebih tinggi, aroma, dan tingkat kekerasan gula merah dari lontar juga paling baik. Kualitas ini bisa diperoleh, apabila nira diproses menjadi gula dengan cara benar.

Sama halnya dengan kelapa, penyadapan nira lontar dilakukan terhadap seluruh malai bunga yang belum mekar. Sementara nira enau, diambil dari pengirisan pelepah malai bunga. Kalau nira kelapa dan enau ditambung dalam buluh bambu, maka nira lontar biasanya ditampung dalam wadah terbuat dari daun lontar itu sendiri. Produksi nira lontar lebih besar dari nira kelapa, tetapi lebih kecil dibanding dengan enau. Ke dalam wadah penampung nira itu, harus dimasukkan laru berupa kapur sirih, serpihan kayu nangka, atau bahan-bahan lain. Manfaat laru adalah untuk mencegah agar nira tidak menjadi masam.

Nira diambil pagi dan sore. Wadah berisi nira diturunkan, ikatan malai bunga diiris tipis dengan pisau tajam, kemudian wadah baru yang sudah diberi laru dipasang.
Proses ini sama dengan pada penyadapan nira kelapa, dan lontar. Penurunan wadah berisi nira dilakukan dengan tali (dikerek). Nira disaring, ditampung dalam panci atau kuali besar, kemudian direbus. Perebusan dilakukan sampai tiga atau empat jam, tergantung dari banyaknya nira. Meskipun volumenya masih kecil, nira harus segera direbus. Pemasakan lanjutan sampai menjadi gula, bisa dilakukan sambil menunggu hasil sadapan berikutnya.

Setelah nira mengental, perajin gula merah mencetaknya dalam tempurung kelapa, atau potongan buluh bambu, hingga menjadi gula padat. Gula semut, dibuat dengan memasukkan nira panas ke dalam alat pemutar, yang diberi lubang tempat keluarnya nira panas. Begitu keluar dari alat setrifugal, nira akan mengeras dan jadilah gula semut, yakni kristal gula merah, yang bentuknya mirip dengan gula pasir. Permintaan gula semut berbahan nira palma (kelapa, enau dan lontar) untuk ekspor, selama ini sulit terpenuhi, karena  faktor pasokan. Dari tiga jenis palma penghasil nira ini, harga gula lontar paling tinggi.

# # #

Di kawasan pantai utara Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, lontar sudah biasa disadap niranya. Namun nira lontar ini lebih banyak difermentasi menjadi tuak (minuman beralkohol). Di NTT, tuak didestilasi (disuling), hingga menjadi moke, dan sopi, dua jenis minuman yang kadar alkoholnya lebih tinggi dari tuak. Agroindustri minuman beralkohol ini, sebenarnya juga potensial untuk dikembangkan, dengan tujuan ekspor. Yang terjadi selama ini, moke dan sopi hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat untuk mabuk-mabukan.

Di Jakarta, buah siwalan muda, sering tampak dijajakan. Tempat pedagang menjajakan siwalan antara lain di kawasan Jatinegara, Pasar Baru, Ancol, dan kota, yang banyak dihuni oleh masyarakat etnis China. Sama halnya dengan kelapa, semua bagian tanaman lontar bisa dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari batangnya, daunnya, buahnya, sampai ke air niranya, semua bisa bermanfaat. Di Hawaii, masyarakat memanfaatkan pohon kelapa sebagai obyek wisata. Para wisatawan diajak ke bawah tegakan tanaman kelapa, diberi minum air kelapa muda, dan diberi cerita yang menarik tentang pohon kelapa.

Tanaman lontar bisa menghasilkan cerita yang lebih menarik dibanding dengan kelapa. Dimulai dari masa kerajaan-kerajaan hindu, wisatawan bisa diberi tahu, bahwa daun lontar adalah kertas tempat menulis karya sastra. Atraksi mengolah nira lontar menjadi gula merah, juga tidak kalah menarik dibanding dengan cerita tentang “kertas lontar”. Belum lagi manfaat lain daun lontar untuk bahan anyaman, sasando, dan lain-lain. Selain bisa minum nira lontar, wisatawan juga bisa disuguhi buah lontar yang masih muda. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s