MASALAH KEDELAI SEBAGAI BAHAN PANGAN

Kebutuhan kedelai nasional kita sekitar 2,2 juta ton per tahun, sementara  produksi dalam negeri hanya 850.000 ton per tahun. Hingga kita selalu defisit sekitar 1,350 juta ton per tahun. Defisit ini dipenuhi dengan mengimpor kedelai dari AS dan Brasil. Benarkah Indonesia tidak bisa swasembada kedelai?

Kedelai (soybean, soya bean, Glycine max), adalah bahan pangan yang cukup penting bagi Indonesia. Dari komoditas ini, diproduksi tahu, tempe, dan kecap, tiga produk vital bagi rakyat Indonesia. Dari kedelai juga diproduksi susu, dan tepung kedelai. Selain itu, agroindustri peternakan kita, terutama peternakan unggas petelur dan pedaging, juga menyerap kedelai dalam bentuk bungkil. Bungkil adalah ampas kedelai, yang sudah diambil minyaknya. Di negara maju seperti AS, kedelai lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bukan makanan manusia. Meskipun merupakan komoditas pangan yang cukup penting, sampai saat ini Indonesia masih tergantung pada impor kedelai.

Dalam perkembangan lebih lanjut kedelai impor, dan kedelai lokal masing-masing diserap oleh industri yang berbeda, karena spesifikasinya. Hingga kedelai impor tidak bisa tergantikan oleh kedelai lokal, atau sebaliknya. Kedelai impor dengan harga Rp7.800 per kg, diserap oleh agroindustri tempe. Sementara kedelai lokal yang berharga Rp8.600 per kg, diperlukan oleh agroindustri tahu. Harga kedelai impor memang murah, meskipun butirannya berukuran besar, sebab rendemennya (kandungan proteinnya sebagai bahan tahu), lebih rendah dibanding kedelai lokal. Tetapi untuk bahan tempe, kedelai impor lebih cocok, sebab volume hasilnya lebih besar dibanding kedelai lokal.

# # #

Butiran kedelai impor dari AS dan Brasil, bisa berukuran sangat besar, karena beberapa faktor. Pertama, kedelai yang berasal dari Asia Timur (China, Korea, dan Jepang), memerlukan sinar matahari (panjang hari), sampai 17 jam. Ini bisa terjadi karena pada musim panas, panjang hari di negara beriklim sub tropis, bisa mencapai 17 jam sehari. Di negeri tropis seperti Indonesia, paling lama panjang harinya hanya 12 jam. Itulah sebabnya kedelai dan juga kacang tanah dari RRC, dan AS, bisa berukuran sangat besar, dengan tingkat produktivitas rata-rata mencapai empat ton per hektar per musim tanam. Di negeri kita, rata-rata produktivitas kedelai hanya 1,5 ton per hektar per musim tanam.

Butiran kedelai impor juga bisa berukuran sangat besar, karena faktor pemuliaan hingga tercipta benih unggul. Selain itu, AS juga menerapkan teknologi transgenik untuk pengembangan benih unggul. Dalam teknologi transgenik, ke dalam gen kedelai diselipkan gen bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia. Faktor pertahanan diri pada gen tanaman kedelai itu, memerintahkan gen pertumbuhan, untuk menciptakan batang, akar, ranting, daun, polong dan butiran biji hingga berukuran sangat besar. Produk pertanian transgenik, terutama gandum, jagung, dan kedelai, telah mengundang kontroversi internasional. Uni Eropa dan Jepang, secara tegas menolak produk pertanian dengan benih transgenik.

Selama ini, konsumen kedelai Indonesia, terutama tempe, tidak pernah mendapatkan penjelasan dari pemerintah melalui Badan POM, apakah kedelai yang kita impor merupakan kedelai biasa hasil pemuliaan melalui teknologi penyilangan, atau hasil rekayasa genetika. Para ahli kesehatan di dunia, sampai sekarang masih belum bisa merekomendasi, bahwa produk pangan dengan benih transgenik, aman untuk dikonsumsi. Sebab efek bakteri dalam rekayasa genetika itu, belum pernah ketahuan dampaknya pada kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Dengan fakta seperti ini, sebenarnya kedelai lokal kita yang berbutiran kecil-kecil, lebih aman dikonsumsi, dibanding dengan kedelai impor.

# # #

Diluar permasalahan tersebut, secara ekonomis budi daya kedelai berpotensi bisnis cukup baik. Impor kedelai kita selama ini sekitar 1,350 juta ton per tahun. Dengan harga kedelai impor Rp7.800 di tingkat konsumen, ada uang senilai Rp10.530.000.000.000 (sepuluh trilyun, limaratus tigapuluh milyar rupiah), yang bisa kita kelola sendiri. Dari kebutuhan 1,350 juta ton kedelai itu, dengan tingkat produktivitas petani kita hanya 1,5 ton per hektar per musim tanam, maka diperlukan lahan seluas 900.000 hektar lahan untuk ditanami kedelai. Di Jawa, lahan tersebut tersedia, berupa sawah yang pada musim kemarau selalu terbengkalai. Dengan catatan lahan sawah tersebut memerlukan pengairan berupa sumur pantek, atau pompa sedot dari sungai.

Sebenarnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian, dan juga Departemen Perdagangan, bisa dengan mudah menghentikan impor kedelai, dan segera memacu produksi dalam negeri. Yang jadi masalah, importir kedelai tidak mau kehilangan nafkah. Mereka akan melobi para pejabat di dua departemen itu, agar jangan melakukan regulasi impor kedelai, berupa bea masuk, atau persyaratan kualitas. Selama pemerintah belum mengeluarkan kebijakan regulasi, maka impor kedelai kita akan terus berlanjut. Kedelai barangkali masih agak lumayan, sebab meskipun hanya 850.000 ton, kita sudah mampu memperkecil volume impor. Pada komoditas gandum, yang impornya mencapai 7 juta ton per tahun, kita sama sekali tidak bisa mensubstitusi barang sedikit pun. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s