AGROINDUSTRI JAGUNG PAKAN TERNAK

Sejak melambungnya harga BBM, harga jagung kuning pipilan, ikut pula terdongkrak naik. Penyebabnya, di AS jagung yang sebelumnya untuk pakan manusia dan ternak, terserap pula untuk bahan baku grain ethanol. Hingga komoditas ini diperebutkan sebagai bahan pangan manusia, ternak, dan sebagai bahan bakar. Naiknya harga jagung di AS, telah ikut pula menaikkan harga jagung di pasar dunia, termasuk di Indonesia. Sejak itulah para investor mulai berminat untuk menanam jagung, meskipun tanpa disertai pengetahuan teknis sedikitpun.

Jagung memang bisa tumbuh baik mulai dari ketinggian 0 m. dpl, sampai dengan 2.000 m. dpl. Yang bisa tumbuh baik dan berproduksi pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl, hanyalah jagung putih (jagung tepung), bukan jagung kuning untuk pakan ternak. Ketika jagung kuning pakan ternak ditanam pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl, maka umurnya akan tambah panjang, tongkolnya besar, tetapi tidak ada bijinya (hampa). Hingga agroindustri jagung kuning pakan ternak, hanya dimungkinkan pada lahan dengan ketinggian 0 sd. 800 m. dpl.

Lahan pertanian dataran rendah berketinggian 0 sd. 500 m. dpl, umumnya berupa sawah, yang relatif datar. Baik sawah tadah hujan, maupun yang beririgasi teknis. Sementara lahan pertanian berketinggian di atas 500 m. dpl, berupa ladang (lahan kering), berterasering di pegunungan. Lahan sawah di dataran rendah, merupakan milik petani. Sementara lahan di pegunungan, selain milik petani, juga berupa perkebunan milik PT. Perkebunan Nusantara (PTPN), dan lahan hutan milik Perum Perhutani. Lahan PTPN dan Perhutani bekas tebangan, selalu digarap petani.

# # #

Umur panen jagung pakan ternak 90 hari di lahan dataran rendah, 100 hari di dataran menengah, dan bisa sampai 110 hari (4 bulan) di dataran tinggi. Lahan kering di pegunungan, hanya bisa ditanami jagung paling banyak dua musim tanam. Setelah itu akan datang musim kemarau, hingga lahan menganggur. Lahan kering di pegunungan, pada umumnya tidak mungkin ditanami pada musim kemarau, karena tidak ada air sama sekali. Bahkan ketika musim penghujan terlambat datang, jagung pada musim tanam kedua (musim gadu, marengan), akan gagal panen.

Lahan sawah di dataran rendah yang berpengairan teknis sepanjang tahun, bisa ditanami padi sampai tiga musim tanam. Umur panen padi selama empat bulan. Akan tetapi, banyak lahan di dataran rendah, yang merupakan sawah tadah hujan. Sawah demikian hanya bisa ditanami padi paling banyak selama dua kali dalam setahun. Bahkan banyak di antara sawah tadah hujan itu, yang hanya bisa ditanami padi satu kali selama setahun. Berarti selama dua kali musim tanam, atau 8 bulan pada musim kemarau, lahan sawah itu akan menganggur.

Petani sering memanfaatkan sisa hujan pada musim gadu, untuk menanam kedelai. Caranya, ketika panen padi, petani menugal di antara tonggak-tonggak jerami padi, tanpa mengolah lahan terlebih dahulu. Kemudian benih kedelai dimasukkan ke dalam lubang tugal. Karena tanah sawah masih relatif basah, maka benih kedelai akan tumbuh baik. Seandainya hujan sudah tidak turun pun, air tanah di sawah tadi akan membuat tanaman kedelai tetap hidup. Kalau air masih cukup banyak, petani akan memberanikan diri untuk menanam jagung.

Pola bertani di lahan pulau Jawa ini, bisa diterapkan dalam pengembangan agroindustri jagung. Para investor tidak perlu membeli lahan, serta membangun sarana dan prasarana. Mereka cukup menyewa lahan di pegunungan untuk dua kali musim tanam, dan menyewa sawah di dataran rendah untuk duakali musim tanam. Dua kali penanaman jagung di lahan pegunungan 100% mengandalkan air hujan, sedangkan dua kali penanaman jagung di lahan sawah dataran rendah harus mengandalkan pompa air. Kalau tidak ada sungai, biasanya petani mengandalkan sumur pantek.

# # #

Pola ini bisa membuat seorang investor mampu menanam jagung sepanjang tahun, berapa pun luasnya, tanpa perlu investasi lahan. Di lahan pegunungan, investor bekerjasama dengan PTPN, dan Perum Perhutani, di dataran rendah menyewa lahan petani. Yang  sering menjadi masalah, investor ditipu oleh petani, atau hasil panen dicuri. Di lahan pegunungan, investor bisa mengandalkan aparat PTPN dan Perhutani, untuk membantu pengawasan. Di lahan sawah dataran rendah, sebenarnya juga ada penyuluh (PPL), namun akan lebih baik kalau investor membentuk koperasi.

Pembentukan koperasi, selain bermanfaat untuk mengurangi resiko, juga untuk menjadikan petani menjadi lebih independen. Caranya, setelah lahan sawah disewa, petani pemilik lahan maupun yang akan ikut bekerja (buruh tani), diminta untuk membentuk koperasi. Setelah koperasi terbentuk, investor merekrut tenaga S1, atau tenaga setempat yang kapabel, untuk jadi manajer koperasi. Uang investor, jangan diserahkan ke koperasi, melainkan dideposito di BRI, sebagai koleteral. Dengan koleteral itu, koperasi yang tidak punya agunan, bisa meminjam modal sesuai aturan yang ada.

Pola ini, bisa meminimalkan resiko, sebab investor hanya akan berhubungan dengan koperasi, melalui pengurus dan manajer. Kalau ada masalah on farm, maupun off farm koperasilah yang akan menanggulangi. Tetap ada resiko penanaman jagung gagal panen. Hingga investor harus menyiapkan modal, minimal untuk tiga kali musim tanam. Hitung-hitungannya, selama tiga tahun (12 kali tanam), hanya akan ada kegagalan sebanyak tiga kali. Hingga panen sebanyak 9 kali, akan mampu menutup kegagalan panen sebanyak 3 kali. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s