PELUANG AGROINDUSTRI METE

Mete (Cashewnut), adalah biji dari buah tanaman jambu mete, atau jambu monyet (Anacardium occidentale; sinonim Anacardium curatellifolium). Mete berasal dari kawasan timur laut Brasil, Amerika Selatan. Setelah bangsa kulit putih datang ke benua baru ini, mete menyebar ke kawasan tropis di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mete dibawa ke Indonesia (Kepulauan Nusantara), oleh Bangsa Portugis. Mete menghendaki iklim yang kering dan panas, serta toleran terhadap lahan tandus berbatu-batu. Itulah sebabnya tanaman ini banyak dibudidayakan di Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jateng), NTT, dan Kendari.

Biji mete terdapat pada ujung buah. Sebenarnya yang disebut buah jambu mete adalah buah semu. Sebab buah mete yang sebenarnya adalah biji mete itu sendiri, sementara yang buahnya adalah tangkai yang menggembung. Ini merupakan strategi tumbuhan untuk menyebarluaskan spesiesnya di kawasan yang tandus. Hewan akan memakan tangkai buah yang menggembung itu, dan meninggalkan buah asli. Warna buah semu jambu mete ada yang kuning, merah tua dan oranye. Sementara warna “kepala monyetnya” abu-abu kecokelatan. Seakan masih belum merasa aman, tanaman jambu mete masih melindungi biji dengan dua lapisan kulit yang tebal dan keras.

Di dalam kulit tebal ini terdapat getah beracun yang bisa membuat kulit iritasi. Getah yang beraroma keras ini mengandung dermatogenic phenolic. Kulit yang tebal dengan getah inilah sebenarnya buah sejati jambu mete. Bentuk buah semuanya ada yang memanjang, ada yang gemuk. Sementara bentuk buah aslinya sepintas mirip dengan kepala monyet. Itulah sebabnya di negeri kita, jambu mete juga disebut jambu monyet. Buah semu jambu mete mengandung banyak air yang terasa segar, manis sedikit masam, dan sepet apabila bagian seratnya tergigit. Sementara bijinya dikenal sebagai kacang mete atau cashewnut, yang rasanya sangat gurih.

# # #

Meskipun berasal dari Brasil, saat ini penghasil utama biji mete justru Vietnam. Data mutakhir FAO (2006), menunjukkan bahwa negeri ini menghasilkan 941.600 ton biji mete (I), Nigeria 636.000 ton (II), India 573.000 ton (III), Brasil 236.140 ton (IV), dan Indonesia 122.000 ton (V). Tahun sebelumnya, Nigeria, di benua Afrika ini, masih merupakan penghasil mete nomor empat di atas Indonesia. Tiba-tiba dia menyodok ke urutan kedua menggantikan India. Lima besar penghasil mete tahun 2005 adalah Vietnam 827.000 ton (I), India 460.000 ton (II),  Brasil 251.268 ton (III), Nigeria 213.000 ton (IV), dan Indonesia 122.000 ton (V).

Salah satu upaya meningkatkan hasil mete adalah, dengan menciptakan klon-klon baru yang lebih unggul. Caranya dengan melakukan seleksi di alam, juga dengan penyilangan. Hasil seleksi maupun silangan ini, kemudian diperbanyak secara vegetatif, dengan cara diambil entresnya untuk disambungkan ke batang bawah berupa mete biasa. Ciri khas mete unggul ini adalah biji metenya sangat besar, sementara buah semunya justru tidak berkembang. Hingga buah mete unggul ini hanya berupa tangkai yang sedikit menggembung. Karena energi tumbuhan tidak diserap untuk menggembungkan buah, maka secara otomatis biji metenya akan lebih membesar.

Sebenarnya tahun 1980an, Indonesia juga sudah mengintroduksi jambu mete klon unggul dari Thailand. Tahun 2001, Menteri Pertanian telah melepas varietas mete unggul  Gunung Gangsir 1. Kemudian tahun 2004 ada dua varietas yang dilepas, yakni MR 851 dan PK 36. Namun benih-benih unggul ini belum diproduksi secara massal, hingga  belum bisa menyebar ke masyarakat. Akibatnya, jenis yang selama ini dibudidayakan      di kawasan penghasil mete, masih varietas biasa, yang lebih banyak menghasilkan buah. Dan buah jambu mete ini (chasew aple), sama sekali belum dimanfaatkan oleh petani. Padahal buah jambu mete bisa diolah menjadi minuman.

Selain masalah pasokan, agroindustri mete Indonesia, juga masih menghadapi kendala pasca panen. Di sentra penghasil mete, proses pengupasan masih dilakukan secara manual dengan kacip. Akibatnya biji mete banyak yang pecah atau terbelah. Biji yang pecah dua, oleh para pedagang kemudian dilem jadi satu. Ini tentu akan menurunkan kualitas. Sementara biji remuk, akan diserap oleh industri cokelat batangan, tentu dengan harga yang jauh lebih rendah dibanding biji utuh. Kendala lain pengupasan biji mete adalah, kemungkinan adanya pencemaran biji kupas, oleh getah dari kulit. Pengupasan yang tidak hati-hati akan memungkinkan getah mengenai biji.

# # #

Harga biji mete selalu berfluktuasi sangat tajam. Ketika panen raya mete, tengkulak akan berdatangan ke kampung-kampung untuk mencari mete gelondongan dengan harga semurah mungkin. Tengkulak akan mengupas mete gelondongan ini secara manual, kemudian menahannya. Harga mete kupas, akan melambung tinggi, sesaat menjelang lebaran. Ketika itulah tengkulak akan melepas stok mete kupasan mereka. Sebenarnya, Balai Besar Industri Hasil Pertanian (BBIHP), Bogor, juga sudah merancang mesin pengupas biji mete, dengan terlebih dahulu memanaskan gelondong. Tujuan pemanasan, selain untuk memudahkan pemecahan juga agar getah ternetralkan.

Fluktuasi harga biji mete juga sangat dipengaruhi oleh musim panen mete Vietnam. Sebagai penghasil mete terbesar di dunia, hasil panen dari negeri ini akan sangat berpengaruh terhadap harga mete di pasar dunia. Ketika Vietnam sedang panen raya, maka harga mete di pasar dunia akan jatuh. Termasuk harga di tingkat petani. Sebaliknya kalau Vietnam belum panen, maka harga biji mete akan melambung naik. Data FAO 2005 dan 2006, menunjukkan tidak stabilnya volume hasil mete dunia. Karena panen raya mete Nigeria melonjak tajam, maka hasil mete lima besar dunia naik dari    1.873.268 ton pada tahun 2005, menjadi 2.508.740 ton.

Kenaikan pasokan ini telah mengakibatkan harga mete pada tahun 2006 jatuh. Fluktuasi harga mete gelondong di tingkat petani, bisa bervariasi dari hanya Rp 2.000 per kg, sampai dengan Rp 6.000 per kg. Sementara biji mete kupas, bisa bervariasi antara         Rp 10.000 sampai dengan Rp 30.000 per kg. Selain karena faktor hari raya lebaran, panen mete di Vietnam, India, Brasil, dan Nigeria, perbedaan harga ini juga diakibatkan oleh lokasi penghasil mete itu sendiri. Semakin terpencil sentra mete itu, semakin murah harga yang ditawarkan oleh pedagang. Semakin baik akses transportasi sentra mete, semakin tinggi harga yang ditawarkan tengkulak. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s