LABU PARANG SEBAGAI BAHAN PANGAN

Di Indonesia, labu parang dikenal sebagai salah satu bahan kolak, menu selama bulan puasa. Di AS dan Eropa, labu parang yang disebut pumpkin, adalah “kepala” boneka, salah satu asesoris dalam perayaan halloween. Padahal aslinya, labu parang adalah bahan pangan masyarakat indian kuno.

Setiap menjelang bulan puasa, harga komoditas bahan kolak akan melonjak tinggi. Salah satunya adalah labu parang. Yang disebut labu parang adalah labu (waluh), dari spesies Cucurbita pepo, Cucurbita mixta, Cucurbita maxima, atau Cucurbita moschata, dari genus Cucurbita, famili Cucurbitaceae. Labu parang juga disebut labu merah, labu kuning, labu manis, labu ambon, dan labu besar. Labu parang bulat warna doreng hijau tua, yang paling banyak ditanam di Indonesia, adalah Cucurbita pepo var. styriaca. Sementara yang kulit buahnya kuning oranye adalah varietas dari Cucurbita maxima. Variasi bentuk labu mulai dari yang bulat, bulat gepeng (pipih), sampai ke bulat panjang. Warnanya mulai dari hijau gelap, sampai ke oranye, baik polos maupun doreng.

Labu parang asli dari Amerika Tengah dan Utara. Di sana, masyarakat Indian sudah membudidayakan labu parang sejak ribuan tahun sebelum masehi. Hasil panen, mereka belah, lalu mereka jemur hingga kisut dan mengering. Potongan labu kering ini kemudian mereka hancurkan menjadi pasta, dan disimpan untuk dikonsumsi selama musim dingin. Pasta labu parang ini mereka konsumsi sebagai saus ikan, atau daging hewan buruan, selain juga mereka konsumsi sebagai menu utama bersama dengan jagung dan kentang. Bagi masyarakat Indian Kuno, labu parang adalah komoditas pangan yang cukup penting, sebab budidayanya sangat mudah, dengan hasil yang melimpah.

# # #

Sampai sekarang pun, labu parang yang disebut pumpkin, masih merupakan komoditas yang populer di kalangan petani AS.  Setiap tahunnya dihasilkan  680.388 ton labu, di sentra-sentra pumpkin utama seperti Illinois, Indiana, Ohio, Pennsylvania, dan California. Di kawasan ini, agribisnis pumpkin tidak hanya menghasilkan buah labu parang, melainkan juga madu, dan terutama polen. Sebab tanaman labu parang menghasilkan sangat banyak bunga jantan, dengan volume polen yang sangat besar. Hingga para petani labu parang di AS, selalu memanfaatkan jasa lebah madu untuk menyerbukkan bunga pumpkin, sekaligus memanen polen dari bunga jantannya. Polen labu parang berkualitas lebih baik dibanding polen dari bunga jantan jagung.

Labu parang yang paling banyak dibudidayakan di AS adalah varietas Atlantic Giant (Cucurbita maxima), yang bulat dengan bagian ujung dan pangkal rata, dan berwarna oranye cerah. Atlantic Giant inilah yang paling populer dijadikan sebagai kepala “hantu” pada perayaan Halloween tiap tanggal 31 Oktober. Buah labu Atlantic Giant yang cukup besar ini dipotong hingga membentuk lubang mata, hidung, dan mulut yang bergigi tajam. Ke dalam buah labu ini kemudian ditaruh lampu, hingga dari lubang mata, hidung dan mulut kepala labu itu akan terpancar sinar pada malam yang gelap. Puncak acara Halloween adalah karnaval dengan aneka kostum hantu serta horor.

Sekarang labu parang sudah dibudidayakan di seluruh tempat di bumi, kecuali di Antartika. Baik di kawasan tropis yang lembap, di kawasan gurun, maupun di negara bersalju, labu parang bisa tumbuh dengan baik, dan menghasilkan buah. Di Indonesia, labu parang bisa dibudidayakan mulai dari dataran rendah dengan ketinggian 0 m. dpl, sampai ketinggian 2.000 m. dpl, mulai dari kawasan Jawa Barat yang sangat basah, sampai ke NTT yang kering kerontang. Daya adaptasi labu parang memang luar biasa. Tanaman ini juga bandel, hingga hampir tidak memerlukan perawatan apa pun. Tanaman labu parang akan menjalar ke mana-mana, dan menutup gulma pengganggu tanaman, hingga cocok sebagai “cover crops”.

# # #

Labu parang ditanam pada awal musim penghujan (November), dan mulai dipanen pada puncak musim kemarau (Agustus, September). Kalau penanaman dimajukan pada bulan September (dengan pengairan), maka panen sudah akan terjadi pada bulan Juni dan Juli. Puasa tahun ini akan jatuh antara akhir Agustus, sampai dengan akhir September. Hingga petani sudah mulai panen labu parang. Ketika puasa jatuh pada bulan Oktober, maka labu parang sangat murah, karena pas puncak panen. Harga labu parang akan melambung tinggi, apabila puasa jatuh pada bulan Februari, Maret, April. Sebab labu parang yang dipasarkan, adalah hasil panen tahun sebelumnya.

Sebenarnya genus Cucurbita cukup banyak varietasnya. Termasuk labu spageti (Spaghetti squash), yang setelah dikukus, daging buahnya bisa diurai seperti halnya spageti. Spesies Cucurbita pepo misalnya, terdiri dari varietas squash, gourd, dan pumpkin. Mulai dari Acorn squash, Delicata squash, Gem squash, Pattypan squash, beberapa tipe Pumpkin, Spaghetti squash, Yellow crookneck squash, Yellow summer squash, dan Zucchini. Spesies Cucurbita moschata juga terdiri dari varietas squash maupun pumpkin. Antara lain Butternut squash, Dickinson field pumpkin, Kentucky field pumpkin, Long Island cheese squash, Calabaza pumpkin, Seminole pumpkin, dan Neck pumpkin.

Di Indonesia, labu parang masih sebatas dikonsumsi sebagai bahan kolak, atau masuk industri sebagai bahan saus makan (saus “tomat”). Padahal labu parang juga potensial menjadi bahan pie yang sangat lezat, dengan warna yang atraktif. Produksi pasta labu parang seperti yang dilakukan oleh masyarakat Indian Kuno, juga potensial untuk dikembangkan di NTT yang berudara kering serta panas. Sementara di Jawa, labu parang bisa tahan disimpan selama sekitar enam bulan, tanpa mengalami kerusakan yang berarti. Hingga hasil panen labu parang tahun lalu, masih bisa dipasarkan dalam kondisi baik pada bulan-bulan Februari sampai Mei, ketika tanaman  tahun ini masih belum menghasilkan buah. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s