PRODUKSI PESTISIDA ORGANIK

Harga pestisida pabrik, sekarang makin sulit untuk dijangkau oleh para petani. Padahal tanpa pestisida, petani bisa terancam gagal panen. Pestisida adalah racun pembasmi hama tanaman, yang terdiri dari insektisida (serangga), fungisida (jamur), bakterisida (bakteri), herbisida (gulma), nematisida (nematoda), algaesida (lumut), virusida (virus), moluskisida (siput), rodentisida (tikus), avisida (burung), larvisida (larva), dan akarisida (tungau). Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah, dengan memanfaatkan pestisida organik, terutama insektisida.

Bahan untuk pestisida organik, sebenarnya cukup banyak. Salah satu insektisida organik paling ampuh adalah rotenon, yang dihasilkan oleh akar tuba. Tuba adalah tumbuhan asli Asia Tenggara, dan Pasifik Baratdaya. Bisa tumbuh baik pada ketinggian  0 – 1.000 meter dpl.  Tuba berupa liana (tanaman memanjat, berkayu), yang memerlukan batang pohon lain sebagai panjatan. Bagian yang dimanfaatkan untuk pestisida organik adalah akarnya. Cara memanen tuba tanaman dibongkar, akarnya diambil, lalu bonggolnya kembali ditanam. Selanjutnya akar ini dikeringkan, dan disimpan.

Ketika akan digunakan, akar tuba kering ini dihancurkan, kemudian direndam dalam air, hingga rotenonnya larut. Larutan rotenon berwarna putih susu, dan beraroma sangat keras. Larutan ini disaring, kemudian dimasukkan ke dalam sprayer, lalu disemprotkan ke tanaman yang diserang hama. Rotenon (Rotenonne, C23H22O6), pertama kali diisolasi oleh Emmanuel Geoffroy, dari tumbuhan barbasco (Lonchocarpus nicou),  yang tumbuh di Guyana Perancis. Hasil temuannya ini dipublikasikan tahun 1895. Masyarakat Indian setempat, menggunakan tumbuhan ini untuk meracun ikan, seperti halnya masyarakat di Indonesia menggunakan tuba.

# # #

Selain terdapat dalam tuba, dan barbasco, rotenon juga diketemukan pada tumbuhan Hoary Pea, Goat’s Rue, Jicama plant (Tephrosia virginiana), Corkwood Tree (Duboisia myoporoides), Great Mullein (Verbascum thapsus), dan biji bengkuang, (Jícama, hee-kah-mah, Mexican Potato, Mexican Turnip, Pachyrhizus erosus). Kandungan rotenon pada akar tuba, paling tinggi dibanding dengan tumbuhan-tumbuhan tersebut. Dari sekian banyak tumbuhan tadi, yang paling berpeluang untuk agroindustri pestisida organik adalah tuba dan bengkuang. Tuba mudah sekali dibudidayakan.

Tuba bisa berumur sampai ratusan tahun. Perkembangbiakannya bisa dengan biji, tetapi yang paling mudah dengan stek batang, atau cabang. Meskipun merupakan liana, tuba baru akan memanjat, setelah berumur lebih dari setahun. Hingga tuba berpeluang untuk dibudidayakan di lahan secara monokultur, tanpa perlu ajir atau tiang panjatan. Sebab dalam jangka waktu antara satu sampai dengan dua tahun, tuba belum tumbuh menjalar dan memerlukan panjatan. Baru setelah lebih dari dua tahun, sulur tuba akan mencari tiang panjatan.

Agar produksi bisa optimal, tuba harus dibudidayakan pada tanah yang kaya bahan organik. Selain akar akan bisa tumbuh optimal, budidaya tuba pada tanah organik juga akan memudahkan pemanenan. Panen dilakukan dengan membongkar tanaman, dan harus dijaga agar akar bisa terambil semua. Bonggol tanaman, dipangkas bagian atasnya, dan bisa kembali ditanam. Demikian pula dengan bagian atasnya, yang bisa dipotong-potong menjadi stek sebagai benih. Pada agroindustri modern, rotenon harus diambil dari akar tuba dengan cara ekstraksi.

Pada penggunaan secara tradisional, akar tuba bisa langsung dihancurkan, dilarutkan dalam air, dan disemprotkan ke tanaman yang terserang serangga (larvanya), nematoda, aphid, dan tungau. Bengkuang sebenarnya lebih mudah dibudidayakan dibanding dengan tuba. Selama ini tumbuhan asli Meksiko ini sudah biasa dibudidayakan untuk dipanen umbinya. Agar umbinya bisa tumbuh optimal, bunga bengkuang harus terus-menerus dipotong, hingga tanaman tidak pernah menghasilkan biji. Pada budidaya bengkuang untuk menghasilkan pestisida, bunga dibiarkan menjadi polong.

# # #

Polong inilah yang akan dipanen, dijemur, dan diambil bijinya. Bengkuang yang dipanen polongnya, tidak akan menghasilkan umbi yang cukup besar dan enak dimakan. Tanaman bengkuang yang polongnya dipelihara,  umbinya berserat, dan tidak akan mengembang sempurna. Hingga budidaya bengkuang tidak bisa sekaligus untuk dipanen umbi dan bijinya. Pengambilan rotenon dari biji bengkuang juga dilakukan dengan ekstraksi. Tetapi biji bengkuang bisa dimanfaatkan langsung dengan cara direndam air, ditumbuk, dan diperas atau disaring, agar air dan ampasnya terpisah.

Air perasan biji ini diencerkan lagi dengan tambahan air, lalu disemprotkan ke tanaman yang terserang hama. Meskipun kandungan rotenon pada biji bengkuang tidak setinggi pada akar tuba, namun secara teknis dan ekonomis, biji bengkuang tetap punya prospek sebagai bahan pestisida organik. Terutama apabila digunakan secara langsung, tanpa ekstraksi. Budidaya, dan panen biji bengkuang juga lebih mudah, dibandingkan budidaya dan panen tuba. Bahan pestisida alami tidak hanya rotenon. Nikotin pada tembakau, saponin pada biji teh, dan lerak, serta diosgenin pada umbi gadung, selama ini juga sudah banyak dimanfaatkan sebagai pestisida alami oleh masyarakat kita.

Tembakau dan biji teh, paling banyak dimanfaatkan oleh para petambak, untuk membasmi hama bandeng serta udang. Lerak masih belum dimanfaatkan sebagai pestisida, sebab komoditas ini lebih ekonomis dijual sebagai bahan sabun alami. Gadung juga lebih banyak diserap sebagai bahan pangan, terutama untuk keripik gadung. Dari empat komoditas ini, prospek tembakau lebih besar. Sebab suplai tembakau bisa lebih kontinu dibanding biji teh, terlebih dengan lerak. Saponin dari biji teh, sebenarnya lebih efektif sebagai pestisida. Kendalanya, kebun teh yang dipanen pucuknya, selalu rutin dipangkas, hingga hasil bijinya tidak akan banyak. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s