KARA PEDANG SEBAGAI BAHAN PANGAN

Di kios oleh-oleh, toko snack, bahkan sekarang juga di kakilima, ada snack berbentuk seperti kacang berukuran besar (1,5 cm), pipih, dan digoreng berikut kulit bijinya. Warna kulit biji “kacang” itu kecokelatan, dengan biji putih kehijauan agak terang. Rasa snack ini gurih, meskipun agak keras.

Itulah biji kara pedang Sword Bean (Canavalia gladiata, Canavalia cathartica dan Canavalia ensiformis). Ada 70 sampai dengan 75 spesies Canavalia, yang tersebar mulai dari India, sampai ke Kepulauan Pasifik. Kara pedang merupakan tanaman leguminase, yang sangat cepat pertumbuhannya. Spesies yang paling cepat pertumbuhannya adalah Canavalia ensiformis, yang juga disebut jack-beans. Spesies ini endemik Kepulauan Hawaii. Pertumbuhan jack-beans sedemikian cepatnya, hingga dalam bahasa Hawaii disebut “yang tercepat” (ʻāwikiwiki). Nama jenis kara Hawaii inilah, yang diadopsi menjadi nama ensiklopedi bebas Wikipedia, untuk menunjukkan kecepatannya.

Kara pedang merupakan tumbuhan dataran rendah sampai menengah. Dia cocok tumbuh di kawasan kering, dengan kelembapan udara rendah. Kara pedang termasuk golongan legum memanjat. Untuk pertumbuhannya diperlukan ajir, atau pohon sebagai tempat rambatan. Namun demikian, kara pedang juga bisa dibudidayakan tanpa rambatan, dengan cara dibiarkan menjalar ke tanah. Jenis kara ini memerlukan sinar matahari penuh sepanjang hari, hingga tidak mungkin dibudidayakan secara tumpangsari di bawah naungan tanaman lain. Kara pedang dibudidayakan dengan menggunakan biji, dan ditanam pada awal musim penghujan.

# # #

Di Indonesia, ada empat genus leguminase, yang disebut sebagai “kara” (koro). Pertama adalah kara biasa (Phaseolus lunatus), kedua kara uceng (Lablab purpureus), ketiga kara benguk (Mucuna pruriens), dan keempat kara pedang. Semua genus kara biasa (Phaseolus), termasuk Phaseolus lunatus, berasal dari Amerika Tropis. Sementara genus Lablap (lalap), Mucuna, dan Canavalia, asli Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Namun yang banyak dijumpai di pedesaan Indonesia, terutama Jawa, justru kara Phaseolus lunatus, yang dibawa oleh Bangsa Portugis dan Belanda dari Amerika Latin.

Meskipun asli Indonesia, kara pedang pernah dilupakan. Orang tidak mau membudidayakannya, karena nilai ekonomis kara ini sangat rendah, bahkan hampir tidak ada. Sebenarnya, polong muda kara pedang juga enak disayur, tetapi rasanya tidak seenak kara biasa, dan kara uceng. Hingga sama dengan kara benguk, hasil utama kara pedang adalah biji polongnya. Polong kara pedang bisa dikonsumsi langsung setelah direbus sampai lunak. Biji yang sudah dibuang kulitnya dan dikukus, bisa dibuat getuk, diberi bumbu dan digoreng menjadi perkedel, atau disayur dengan bahan-bahan lain.

Polong kara pedang memang benar-benar berukuran raksasa. Lebar polong 3 cm, tebal 2 cm, dan panjang 30 cm. Diameter biji kara pedang segar 2,5 cm, dengan tebal 1,5 cm. Warna kulit biji bervariasi dari putih, sampai merah cerah. Warna kulit polong hijau ketika masih muda, dan kecokelatan setelah tua. Polong tua bisa dipetik ketika masih agak segar lalu dijemur, bisa pula tetap dibiarkan mengering di lahan. Polong yang belum dibuka, bisa tahan disimpan sampai satu tahun, tanpa mengalami kerusakan. Terlebih apabila disimpan di atas tempat perapian. Polong kara pedang untuk dikonsumsi, bisa dikeringkan terlebih dahulu baru dikupas, bisa pula langsung dikupas baru dijemur untuk disimpan.

Cara menghilangkan kulit biji kara pedang, sama dengan menghilangkan kulit biji kacang tanah. Pertama, biji kara pedang kering, dijerang air mendidih, sampai kulit bijinya menggembung dan lunak. Selanjutnya kulit biji ini bisa dibuang secara manual satu persatu, digilas di dalam keranjang, atau menggunakan mesin penggilas. Kara pedang goreng memang sengaja tidak dihilangkan kulit bijinya, karena inilah yang menjadi ciri khasnya. Biji kara pedang segar, bisa langsung digoreng, hingga kulit bijinya pecah dan mekar. Biji yang sudah kering, harus dijerang air panas terlebih dahulu, baru kemudian digoreng dalam genangan minyak panas.

# # #

Kara pedang cocok dibudidayakan di lahan marjinal, di kawasan beriklim ekstrim kering, seperti halnya di Provinsi NTT. Hasil kara pedang di kawasan ekstrim kering, justru lebih tinggi, dibanding dengan yang dibudidayakan di kawasan beriklim basah, seperti di Jawa Barat. Budi daya kara pedang bisa secara monokultur, bisa tumpangsari dengan komoditas lain, hanya ditanam sebagai border, juga dirambatkan pada pohon peneduh di sela-sela tanaman pokok. Budi daya kara pedang secara monokultur bisa menggunakan atau tanpa ajir. Budi daya sebagai tanaman sela, biasanya dengan cara dirambatkan pada pohon peneduh.

Musim hujan di kawasan kering seperti NTT, hanya berlangsung selama tiga bulan, dari November sampai Januari. Selanjutnya kemarau. Kara pedang yang tahan kering akan terus produktif meskipun hujan tidak turun. Sebab batang, dan daun kara pedang keras dan kuat hingga tahan panas serta kekeringan. Akar tanaman juga mampu menembus lapisan tanah yang lembap, hingga tanaman tetap segar meskipun keadaan disekitarnya kering kerontang. Pada bulan-bulan Mei, Juni, dan Juli, polong kara pedang tua sudah bisa dipanen. Polong yang akan dikonsumsi, atau dijadikan benih pada musim tanam berikutnya, sebaiknya dibiarkan tetap utuh, untuk menghindarkan hama kutu bubuk menyerang biji.

Snack biji kara pedang, pelan-pelan mulai memasyarakat. Yang masih menjadi kendala adalah, kualitas biji yang masih belum semuanya sesuai dengan standar. Kebanyakan snack kara pedang goreng itu masih keras (bantat). Penyebabnya, bisa karena kualitas biji, misalnya karena dipanen terlalu muda. Bisa pula karena proses penggorengan. Biji yang sudah terlalu kering, langsung digoreng tanpa melalui penjerangan air panas. Idealnya, panen polong kara pedang diseleksi yang benar-benar sudah tua. Polong dikeringkan, dikupas, dan bijinya kembali diseleksi sebelum dijerang air panas. Setelah itu pun biji kembali diseleksi, hingga setelah digoreng, hasilnya gurih dan renyah. (R) # # #

One thought on “KARA PEDANG SEBAGAI BAHAN PANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s