SINGKONG MANIS DARI BRASIL

Singkong manis masih asing bagi masyarakat Indonesia. Beda dengan di Amerika Tengah, dan Selatan, terutama di Brasil. Di sini singkong manis sudah dibudidayakan secara luas, bersamaan dengan singkong biasa. Selain sebagai bahan pangan, singkong manis juga diolah menjadi ethanol.

Sebenarnya singkong (Manihot Sp), juga terdiri dari spesies serta varietas manis, dan biasa, untuk diolah menjadi tepung tapioka. Umbi singkong manis lebih banyak mengandung gula, dibanding dengan tepung. Sementara singkong biasa, lebih banyak mengandung tepung (karbohidrat), dibanding gula. Karena singkong biasa sering pahit karena kandungan HCN (asam biru, Hydrocyanic Acid) yang tinggi, maka jenis singkong ini juga sering disebut singkong pahit, singkong racun atau bitter cassava. Racun HCN akan hilang selama pencucian, atau pengeringan.

Spesies bitter cassava adalah Manihot utilissima Pohl. Sementara spesies sweet cassava, adalah Manihot palmata var. Aipi Pohl, yang di Brasil disebut makasera. Beda dengan bitter cassava yang tidak mungkin dikonsumsi mentah, sweet cassava bisa dikonsumsi segar dengan aman. Sebab kandungan HCN dalam sweet cassava tidak setinggi bitter cassava. Kandungan HCN dalam bitter cassava bisa mencapai lebih dari 100 ppm. Orang dewasa dengan bobot 50 kg, hanya bisa tahan terhadap 150 mg HCN. Kandungan HCN dalam sweet cassava kurang dari 50 ppm.

# # #

Komoditas penghasil pangan asal Amerika Latin, dan Tengah yang sekarang sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia adalah singkong (Manihot Sp), Jagung (Zea mays), kentang (Solanum tuberosum), ubi jalar (Ipomoea batatas), keladi (Xanthosoma Sp), garut (Marantha arundinacea), dan ganyong (Canna edulis). Jagung manis dan ubi jalar manis, sudah lebih dahulu dikenal masyarakat Indonesia. Salah satu varietas ubi jalar manis adalah Ubi Cilembu, dari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang mulai populer pada tahun 1990an. Jagung manis telah memasyarakat lebih awal, yakni pada tahun 1980an.

Karena ubi jalar umumnya manis (sweet potatoes), maka varietas ubi jalar yang tidak manis didebut unsweetened sweet potatoes. Pada awal tahun 2000an, pernah ada upaya untuk mendatangkan varietas singkong manis Manihot palmata var. Aipi Pohl, dari Brasil, melalui Kedutaan Besar Brasil di Indonesia. Namun sampai sekarang, belum kedengaran hasilnya. Sementara ubi jalar manis (Ubi Cilembu), pengembangannya sudah meluas sampai ke Jawa Timur, dan jagung manis sudah merata ke seluruh Indonesia. Komoditas singkong manis masih tertinggal jauh di belakang.

Di Brasil, dan juga di negara-negara Amerika Latin serta Amerika Tengah, budi daya singkong manis tetap tidak semassal singkong pahit untuk diambil patinya. Sebab pemanfaatan singkong manis, paling banyak untuk dikonsumsi segar. Sementara singkong pahit adalah raw material di pabrik tapioka. Namun keadaan ini berbalik, setelah Brasil merencanakan pengembangan singkong manis besar-besaran untuk bahan ethanol. Tahun lalu, The Brazilian Agricultural Research Enterprise (EMBRAPA) dan The Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences (CATAS), telah menjalin kerjasama pengembangan sweet cassava, sebagai bahan baku ethanol.

Dua lembaga ini, terutama CATAS, menawarkan bioteknologi untuk mengembangkan spesies bitter cassava, yang kaya tepung, menjadi varietas sweet cassava baru yang tinggi kandungan gulanya. EMBRAPA sendiri saat ini punya sekitar 500 plasma nutfah singkong, termasuk varietas sweet cassava. Sebenarnya, bitter cassava pun juga bisa menjadi bahan baku ethanol. Sebab karbohidrat yang dihasilkan, bisa diproses dengan fermentasi kapang, mapun enzim, hingga menjadi gula, dan selanjutnya ethanol. Namun proses ini menjadi terlalu mahal, dibanding dengan memroses sweet cassava langsung menjadi ethanol.

# # #

Singkong  adalah komoditas yang rakus hara. Baik singkong pahit maupun manis, memerlukan pemupukan urea dosis tinggi, yakni mencapai 300 sampai 400 kg, per hektar, per musim tanam (9 – 11 bulan). Hasil optimal per hektar per musim tanam mencapai 50 ton singkong segar. Hasil sebesar itu masih sulit untuk dicapai oleh rata-rata petani kita, yang per hektar per tahun hanya mampu memroduksi 20 sampai dengan 30 ton singkong segar. Selain memerlukan pupuk urea dosis tinggi, lahan singkong juga memerlukan bahan organik minimal 5 ton per hektar per musim tanam. Tanah yang sudah rusak, bahkan memerlukan bahan organik lebih besar lagi, yakni sampai sekitar 25 ton.

Tanpa pemberian bahan organik optimum, lahan yang sudah beberapa kali ditanami singkong akan menjadi kurus. Biasanya, lahan singkong akan dirotasi dengan nanas, dan sebaliknya, untuk memulihkan tingkat kesuburannya. Namun dengan pemberian pupuk urea dan bahan organik optimum, produktivitas singkong rata-rata bisa mencapai 50 ton umbi segar. Di Brasil, singkong manis dikonsumsi segar, direbus, dioven seperti ubi cilembu, atau dibuat cake. Dan dengan adanya program pengembangan sweet cassava untuk bahan baku ethanol, pengembangan komoditas ini akan dilakukan secara besar-besaran.

Belakangan, sweet cassava sudah mulai pula dibudidayakan di negara bagian Queensland, Australia, dengan tujuan sebagai bahan pangan. Seperti halnya di Indonesia, di Thailand, varietas singkong manis Manihot palmata var. Aipi Pohl, juga belum memasyarakat. Namun di hampir semua restoran di Thailand, bahkan juga restoran Thailand di Indonesia, selalu ada menu (dessert), berupa sweet cassava. Ini bukan singkong manis dari Manihot palmata var. Aipi Pohl, melainkan singkong biasa yang direbus dengan santan dan gula merah, atau gula pasir. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s