BUDI DAYA NILAM DI HALAMAN

Nilam (Pogostemon cablin), adalah terna tegak penghasil minyak nilam (patchouli oil).  Bagian yang diambil minyaknya mulai dari pucuk, daun, ranting, bahkan juga batang, termasuk bonggolnya. Hingga nilam dipanen dengan cara dipotong pucuk, ranting, atau seluruh tanaman sampai dengan bonggolnya. Kualitas minyak nilam dari hasil penyulingan pucuk, ranting, dan seluruh bagian tanaman, juga berbeda-beda. Konsumennya juga berbeda-beda. Konsumen patchouli oil dari AS, misalnya, justru lebih senang minyak nilam hasil penyulingan seluruh bagian tanaman, termasuk bonggolnya.

Kata patchouli  sendiri berasal dari bahasa Tamil patchai, yang berarti hijau, dan  ellai yang berarti daun. Dua komponen penting dalam minyak nilam adalah patchoulol dan norpatchoulenol. Minyak nilam digunakan untuk pengikat parfum, wewangian dalam kosmetik, dan juga sebagai bahan industri farmasi. Minyak nilam diperoleh melalui penyulingan raw material. Pucuk, ranting atau seluruh bagian tanaman yang dipanen, dijemur sampai setengah kering (magel), baru kemudian disuling. Rendeman minyak nilam, berkisar antara 1,5 sampai dengan 5%.

Nilam bisa tumbuh pada elevasi 0 sampai dengan 2000 m. dpl, dengan elevasi optimal antara 700 sd. 1200 m. dpl. Pada ketinggian 0 m. dpl, nilam bisa tumbuh optimal, apabila ternaungi, atau hanya menerima sinar matahari 50%. Air dan bahan organik harus cukup intensif. Pada ketinggian 0 m. dpl, nilam akan tumbuh optimal, apabila dibudidayakan dalam pot, atau polybag, dengan media bahan organik 100%.  Pupuk urea bisa diberikan tanpa membuat media tersebut menjadi padat. Media juga harus sering disiram pestisida untuk membasmi cacing.

# # #

Nilam dibudidayakan dengan benih hasil perbanyakan vegetatif.  Bisa dengan bahan setek, bisa pula cangkokan. Bahan setek bisa diperoleh secara massal, lebih mudah dan juga lebih murah, dibanding dengan benih cangkokan. Bahan setek nilam, paling baik adalah bagian pucuk ranting. Pucuk dengan tiga sampai empat ruas, paling baik sebagai bahan setek. Bagian paling bawah bakal setek, harus pas pada bagian ruas. Hingga pemotongan ranting untuk bahan setek, harus satu sd. dua cm. dari pangkal tangkai daun. Daun paling bawah dibuang, daun nomor dua dan tiga dari bawah dipotong hingga tinggal separo.

Ranting bahan setek yang telah dibuang sebagian daunnya, disemai dalam wadah atau lubang, dengan media pasir. Wadah atau lubang itu disungkup dengan plastik bening, ditaruh di lokasi yang terkena sinar matahari tidak langsung. Penyungkupan dilakukan selama sekitar dua minggu. Ketika sungkup dibuka, semai akan langsung layu, tetapi dibiarkan saja, sebab tidak akan sampai kering atau mati. Sorenya, semai ini akan kembali segar. Esoknya, pada hari kedua setelah sungkup dibuka, semai masih akan layu, tetapi tidak sehebat kemarin. Pada hari ketiga, dan keempat, tanaman sudah akan tetap segar pada siang hari.

Sekitar dua minggu setelah sungkup dibuka, semai sudah bisa dibongkar, dan dipindah ke pot atau polybag. Bagian pangkal semai sudah ditumbuhi akar, meskipun masih sangat halus. Media pot untuk semai ini harus 100% bahan organik. Bisa berupa pupuk kandang yang sudah jadi, kompos, atau humus. Pon dengan semai baru ini, ditaruh di tempat teduh selama sekitar satu minggu, dan disiram rutin. Dalam waktu singkat, semai ini akan menumbuhkan tunas-tunas baru. Harus dilihat, apakah tunas ini berwarna putih kekuningan atau hijau segar.

Semai yang sehat, pucuknya harus berwarna hijau segar. Pucuk yang berwarna putih kekuningan, menunjukkan adanya kelainan. Bisa akibat kebanyakan sinar matahari, kebanyakan pupuk urea, atau medianya sudah dihuni cacing. Semai yang sudah tumbuh dengan baik, bisa dipindah ke pot atau polybag yang lebih besar, atau langsung ke lapangan. Penanaman nilam di lapangan di dataran rendah seperti di Jakarta, harus di lokasi yang menerima sinar matahari hanya 50%. Benih nilam tidak boleh ditanam di tanah, melainkan di media bahan organik, yang dibentuk menjadi bedengan di atas tanah.

# # #

Kalau nilam dibudidayakan di dataran rendah langsung di tanah, maka pertumbuhannya cenderung kerdil. Demikian pula kalau lokasi budidayanya terkena sinar matahari langsung secara penuh 12 jam. Hingga bahan organik untuk penanaman nilam, cukup hanya ditaruh di atas permukaan tanah, dan dibentuk bedengan. Agar bahan organik itu tidak berceceran dan cerai-berai, bisa dibatasi dengan batu bata, atau bahan lain. Halaman rumah di Jakarta, kebanyakan hanya menerima sinar matahari dari pagi sampai siang, atau dari siang sampai sore.

Lokasi penanaman nilam di tempat yang menerima sinar matahari langsung lebih dari 8 jam, memerlukan naungan. Bisa berupa pohon, maupun paranet. Nilam yang tumbuh subur, akan tampak dari ranting serta daunnya yang rimbun, daunnya lebar dan tebal, dengan warna hijau tua. Nilam yang sudah tumbuh subur ini, bisa dipanen daun maupun pucuknya. Hasil panen ini bisa dijemur sebentar, kemudian dikeringkan dalam suhu kamar. Caranya dengan dihamparkan di atas lembaran kertas koran. Setelah kering, pucuk nilam ini disimpan dalam kantong plastik, agar kandungan minyaknya tidak menyusut.

Hasil panen nilam di halaman rumah ini, setelah terkumpul cukup banyak, yakni antara 10 sd. 20 kg, bisa disulingkan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) di Cimanggu, Bogor. Raw material yang bisa disulingkan di Balittro, minimal 5 kg. Selain untuk dibuat minyak, pucuk nilam kering ini bisa langsung ditaruh di lemari pakaian, rak buku, tempat tidur dan lain-lain, sebagai pengharum. Selain bisa mengharumkan pakaian, aroma daun nilam kering ini, juga bisa menghalau ngengat, kecoak, dan serangga pengganggu lainnya. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s