TANAMAN HIAS DAN SAYUR KATUK

Katuk (Sauropus androgynous), juga sering disebut star gooseberry, atau sweet leaf bush. Katuk merupakan tumbuhan semak, setinggi 2 sd. 3 meter. Batang katuk tumbuh lurus ke atas, dan hanya bagian yang benar-benar tua berwarna kecokelatan, sementara batang muda tetap berwarna hijau. Cabang katuk berfungsi sebagai batang cadangan yang juga tumbuh lurus ke atas, dengan ranting tumbuh menyamping berwarna hijau, panjang sekitar 30 sd. 40 cm. Pada ranting katuk inilah tumbuh daun, bunga dan buah. Katuk disebut star goosberry, karena bentuk bunganya mirip bintang. Meskipun sebenarnya, bentuk kelopak bunga katuk bukan meruncing melainkan tumpul, mirip bentuk subang (suweng).

Daun katuk tumbuh pada ranting secara berselang-seling. Hingga sepintas, ranting katuk ini tampak seperti tangkai daun majemuk. Daun katuk berbentuk jorong, berwarna hijau gelap. Kadang ada ornamen putih pada bagian tengah daun, terutama pada tanaman muda. Genus Sauropus sendiri terdiri dari 40 spesies, termasuk katuk. Hingga kemungkinan bisa terjadi persilangan antar spesies, dengan hasil hibrida katuk dengan daun warna-warni. Katuk hibrida ini, umumnya hanya berfungsi sebagai tanaman hias. Sebenarnya, dengan daun tetap berwarna hijau gelap pun, penampilan katuk sebagai tanaman hias tetap indah.

Keindahan katuk sebagai tanaman hias, pertama-tama terletak pada bentuk batang dan rantingnya yang unik, dengan daunnya yang hijau gelap mirip warna hijau beludru. Kemudian bunga kecil-kecil berbentuk subang berwarna merah, sangat kontras di antara ranting dan daun yang berwarna hijau. Bunga katuk tumbuh pada ranting, di setiap ketiak daun (pangkal tangkai daun). Kalau dalam satu ranting tumbuh 10 daun, maka pada ranting itu juga akan tumbuh 10 kuntum bunga. Hingga ranting itu akan menjadi seperti untaian bunga, yang masing-masing terlindung oleh daun. Kalau seluruh ranting pada tanaman katuk ditumbuhi bunga, maka seluruh tanaman itu akan menjadi seperti rangkaian bunga.

# # #

Katuk berbuah berry, berwarna putih kekuningan, berbentuk bulat, berdiameter sekitar satu sentimeter. Dalam buah berry ini terdapat beberapa segmen biji katuk. Kelopak buah katuk yang berada pada panggal buah, tetap berwarna merah. Sebab warna merah kelopak buah ini, sebenarnya merupakan warna merah kelopak bunga yang tetap bertahan. Warna putih buah dengan kelopaknya yang merah, akan menjadi kombinasi hiasan yang cukup menarik. Dalam satu ranting katuk bisa tumbuh sampai belasan buah katuk, sesuai dengan jumlah daun dalam ranting tersebut. Sebab kalau tanaman cukup subur, hampir semua bunga pada ranting katuk, akan menjadi buah.

Buah berry katuk, akan menjadi makanan burung. Daging buah berry akan dicerna oleh perut burung, tetapi bijinya tetap utuh. Biji katuk ini justru terfermentasi dengan sempurna dalam perut burung. Ketika fases burung itu dikeluarkan dan jatuh pada tanah yang subur, maka biji katuk akan tumbuh dengan baik. Itulah sebabnya tiba-tiba saja di kebun atau halaman rumah kita bisa saja tumbuh tanaman katuk. Meskipun tanpa perawatan yang baik, katuk liar ini akan tetap bertahan hingga menjadi tanaman dewasa. Sebab katuk termasuk tumbuhan yang bandel. Dia tahan kekeringan, dan pemangkasan. Ketika kemarau panjang, tanaman ini akan mengering. Tetapi pada musim hujan, ranting-ranting baru akan bertumbuhan. Ketika tanaman ini dimakan kambing sampai habis, akan segera tumbuh tunas yang akan menjadi ranting-ranting baru.

Sifat bandel katuk ini, menjadikannya sebagai penghasil sayuran yang handal. Selama ini katuk dikenal sebagai bahan sayuran yang cukup banyak penggemarnya. Di Jakarta, daun katuk biasanya dimasak sayur bening, dengan bumbu bawang merah dan temu kunci. Daun katuk dipercaya berkhasiat melancarkan dan memperbanyak produksi ASI pada ibu-ibu yang baru melahirkan. Selain itu, daun katuk juga dipercaya bisa meredakan panas dalam, menurunkan tekanan darah, serta kandungan kolesterol dan asam urat pada darah. Hingga daun katuk banyak digemari sebagai sayuran sehat. Di pasar-pasar tradisional dan tukang sayur keliling di Jakarta, selalu ada daun katuk. Demikian pula halnya di pasar-pasar swalayan.

Sayangnya, di Indonesia katuk masih menjadi sayuran kelas tiga yang sangat tidak prestisius. Katuk hanya dibudidayakan sebagai selingan di antara singkong yang dibudidayakan untuk diambil daun mudanya. Volume produksi daun katuk masih sangat kecil dibanding dengan daun singkong. Pemetikan daun katuk juga dilakukan dengan ala kadarnya, demikian pula dengan pengikatannya. Penanganan demikian juga ikut mengakibatkan posisi daun katuk tetap menjadi sayuran yang tidak prestisius. Meskipun sebenarnya, minat masyarakat terhadap sayuran ini cukup baik. Terutama untuk dikonsumsi dengan tujuan kesehatan.

# # #

Konsumen sayuran katuk di Indonesia, kebanyakan etnis Cina. Hal ini bisa dimaklumi, sebab tradisi mengkonsumsi sayuran katuk untuk kesehatan, berasal dari tradisi bangsa China. Tradisi sangat menghargai daun katuk ini, juga menyebar di kawasan Indochina, Filipina, Taiwan, Indonesia dan juga India. Di Thailand, katuk sudah menjadi komoditas sayuran yang sangat penting, dengan pasar ekspor. Di dunia internasional, pucuk katuk bukan hanya dikenal sebagai sweet leaf bush, melainkan juga tropical asparagus. Hingga cara mengkonsumsinya juga beda dengan di Indonesia. Di negeri kita, katuk dipetik ranting berikut daunnya yang telah tumbuh sempurna.

Di Thailand, India, dan juga Taiwan, katuk justru dikonsumsi pucuk cabang vertikalnya, dengan batang mudanya diikutsertakan. Daun pada pucuk katuk itu memang telah ada, namun belum tumbuh sempurna. Hingga yang akan dikonsumsi memang seluruh pucuk katuk tersebut. Pucuk katuk ini dipetik sepanjang sekitar 15 sd. 20 cm, dan diikat rapi, hingga sepintas mirip dengan asparagus. Karena penampilannya inilah, di pasar internasional katuk disebut sebagai tropical asparagus. Karena katuk lebih banyak dipasarkan segar, maka pemetikan, pengemasan, dan pengangkutan dalam coldstorage, harus dilakukan secepat mungkin.

Di Thailand dan juga Taiwan, pucuk katuk juga sudah dikemas dalam kaleng. Karena khasiatnya yang dinilai cukup besar, maka daun katuk juga diekstrak, dan kemudian dikapsulkan. Karena diperlukan tiap hari dalam volume cukup besar, budidaya katuk di Thailand sudah dilakukan secara monokultur dalam skala komersial, dengan pengairan dan pemupukan intensif. Keuntungan budidaya katuk adalah, cukup menanam sekali, dan akan dipanen secara terus-menerus selamanya. Sebab pangkal batang katuk demikian kokohnya, hingga ia akan tahan hidup justru ketika menghadapi pemotongan dan pemangkasan berat. (R) # # #

One thought on “TANAMAN HIAS DAN SAYUR KATUK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s