RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER PANGAN

Salah satu bahan pelapis sushi, nasi gulung khas Jepang, adalah nori. Bahan pangan berwarna hijau gelap ini sebenarnya rumput laut jenis Porphyra terutama  Porphyra yezoensis dan Porphyra tenera. Di Indonesia, yang paling banyak dibudidayakan adalah rumput laut jenis Euchema, terutama Euchema cottonii.

Di Jepang nori sangat populer sebagai bahan pangan. Selain untuk pelapis sushi, nori juga digunakan untuk membungkus Onigiri, yang juga disebut Omusubi. Onigiri juga terbuat dari nasi, namun dibentuk bulatan, dan tiga bulatan itu digandeng menjadi satu, dengan dibungkus nori di bagian tengahnya. Di pasar-pasar Jepang, Korea, dan Taiwan, rumput laut jenis Porphyra, mudah sekali kita jumpai dijajakan bersama dengan sayuran lainnya. Nori itu sudah dibuat gulungan (gumpalan), sekitar 20 X 10 Cm, dengan ketebalan 5 Cm, dengan warna khasnya hijau tua yang sangat mencolok.

Di Indonesia, rumput laut jenis Euchema cottonii sebenarnya sudah dibudidayakan dalam skala massal di banyak lokasi. Namun di sini, rumput laut tersebut jarang sekali dikonsumsi masyarakat secara langsung. Meskipun di beberapa daerah sudah ada masyarakat yang mengolah dan memasarkan rumput laut ini menjadi minuman sehat. Namun sebagian besar rumput laut Euchema, hanya dikeringkan oleh petani, kemudian dijual ke pengusaha, yang akan mengekspornya ke Filipina. Di negeri ini, rumput laut kering akan diolah menjadi karaginan (carrageenan). Filipina adalah penghasil dan pengekspor karaginan utama dunia.

# # #

Sebenarnya semua jenis rumput laut, adalah algae, dan bukan rumput (graminae) dalam arti sesungguhnya. Ragam dan habitat algae cukup banyak. Ada yang tumbuh di perairan air tawar, air payau, di laut dangkal, bahkan ada pula yang bersimbiosis dengan lumut dan menempel di batang pohon atau batu. Bentuk algae mulai dari yang bersel satu, yang sering membuat kolam berwarna hijau, dan ada pula yang berbentuk pita selebar 10 Cm, dan memanjang sampai belasan meter. Namun secara umum, algae dikelompokkan menjadi Red Algae, Green Algae, Brown Algae, Golden Algae, Yellow-Green Algae, Chlorophyta, Coccolithophore, Cyanobacteria, Diatom.

Meskipun rumput laut Euchema cottonii, berwarna kuning kehijauan, sebenarnya jenis ini termasuk Red Algae, dan bukan Green Algae atau Yelow Algae. Indonesia sebagai negara tropis dengan pantai terpanjang nomor dua di dunia (nomor satu Kanada), sebenarnya punya peluang untuk menjadi penghasil sekaligus pemasok karaginan terbesar di dunia. Saat ini sebenarnya kita sudah menjadi penghasil rumput laut Euchema cottonii terbesar di dunia. Namun kita baru sampai pada tahap menghasilkan bahan mentah, berupa rumput laut kering. Beberapa pengusaha memang sudah sampai ke tahap mengolahnya menjadi karaginan, namun volumenya masih terlalu kecil, dibanding dengan total produksi rumput laut kita.

Selama ini rumput laut yang dibudidayakan petani kita masih sebatas jenis Euchema terutama Euchema cottonii. Beberapa petani kita juga sudah membudidayakan rumput laut jenis Gracelaria. Padahal sebenarnya jenis yang bisa dibudidayakan sangat banyak, dengan variasi pemanfaatan yang sangat tinggi. Mulai untuk bahan pangan manusia, obat-obatan, industri, sampai ke bahan bakar. Produktivitas rumput laut sangat tinggi, sebab seluruh permukaan tumbuhan itu bisa menyerap nutrisi, yang terlarut dalam air laut, lalu fotosintesis juga dilakukan pada seluruh bagian tumbuhan tersebut. Hingga produksi protein bisa menjadi sangat efektif, sekaligus efisien.

Syarat budidaya rumput laut hanya dua, yakni perairan itu dangkal, hingga sinar matahari untuk keperluan fotosintesis bisa menjangkau tanaman. Kedua, permukaan air laut itu tenang, hingga tanaman aman dari terjangan ombak. Rumput laut tidak memerlukan perawatan apa pun. Biaya budi daya rumput laut juga sangat murah sebab tidak perlu membeli lahan, tidak perlu investasi irigasi, tidak perlu pupuk dan pestisida. Yang diperlukan hanya tiang pancang, atau drum apung yang diberi jangkar, dan tali untuk mengikat benih rumput laut. Selanjutnya petani hanya cukup menunggu, agar rumput laut itu tumbuh hingga mencapai ukuran yang dikehendaki.

# # #

Wilayah Indonesia, sebagian besar berupa laut. Untuk mengatasi pemanasan global, selama ini kita hanya terpaku pada penanaman pohon. Padahal kemampuan pohon untuk mengubah karbon dioksida (CO2), menjadi oksigen (O2), yang dilepas di udara, dan karbon (C), yang ditahan dalam bentuk protein atau karbohidrat, sangat terbatas. Sebab dalam tumbuhan modern berupa pohon, proses penyerapan nutrisi, hingga ke fotosintesis, tidak akan secepat pada tumbuhan purba seperti pada rumput laut. Hingga mengatasi emisi karbon, akan lebih efektif sekaligus efisien dilakukan di laut, dengan cara penanaman rumput laut secara massal. Kalau pemanfaatan produk ini sebagai bahan pangan manusia secara langsung tidak memungkinkan, rumput laut bisa dijadikan pakan ternak.

Negara-negara maju sebagai produsen CO2, yang mencemari atmosfir sebagai penyebab pemanasan global, wajib menyisihkan dana emisi karbon. Dana tersebut digunakan untuk program mereduksi emisi karbon di negara-negara, yang punya hutan paling banyak, yakni Brasil, Indonesia, dan Zaire. Dibanding dengan Brasil dan Zaire, Indonesia lebih bisa bersaing untuk menarik dana tersebut, kalau yang kita tawarkan budidaya rumput laut, bukan menanam pohon. Sebab potensi Brasil dan Zaire, untuk program ini hampir tidak ada. Penanaman rumput laut sebagai bahan pangan ini bisa dijadikan oleh pemerintah daerah, dengan bantuan pihak swasta, hingga bisa dilakukan secara massal, untuk menarik dana emisi karbon, melalui lembaga-lembaga donor internasional.

Budi daya rumput laut juga aman dari penjarahan, aman dari konflik “tanah adat”, tidak perlu pembebasan lahan dan lain-lain proses, yang biayanya bisa sangat tinggi. Selain bisa menarik dana emisi karbon, dan menghasilkan produk pangan, budi daya rumput laut secara massal juga akan menyerap tenaga kerja massal pula. Sebab budi daya rumput laut tidak bisa dikerjakan secara mekanis. Merentangkan tali, memasang drum apung, atau tiang panjang, terlebih mengikat benih rumput laut satu per satu pada tali, harus dilakukan secara manual. Demikian pula halnya dengan proses pemanenan. Pada era krisis finansial global dewasa ini, program budi daya rumput laut secara massal, menjadi alternatif yang sangat menarik. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s