LERAK SEBAGAI SOAPBERRY

Lerak (Sapindus rarak), adalah pohon yang buahnya dimanfaatkan untuk sabun (soapberry, soapnut). Buah lerak, selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk mencuci kain batik. Dulu, sebelum ada sabun dan shampo, buah lerak adalah komoditas untuk mencuci baju, mandi, dan keramas. Selain dengan lerak, masyarakat juga sering keramas dengan air rendaman abu malai padi (londho merang). Setelah sabun, deterjen, dan shampo diproduksi massal, lerak hanya digunakan untuk mencuci kain batik, agar kain itu awet, batikannya tidak luntur, dan warnanya tetap cemerlang.

Buah lerak berukuran sebesar kelereng, terletak dalam malai yang tumbuh di pucuk ranting. Kulit dan daging buah menyatu, setebal sekitar  2 sd. 3 mm. Kulit dan daging buah ini membungkus biji yang juga bulat, berwarna hitam, berukuran sekitar 7 sd. 9 mm, dalam kondisi kering. Ketika masih segar, buah, daging buah, dan biji lerak berukuran sedikit lebih besar. Buah lerak tahan disimpan sampai lebih dari setahun. Di pasar-pasar tradisional, lerak dijual dalam  keadaan utuh, atau telah dikupas, hingga tinggal kulit serta daging buahnya.

Kulit dan daging buah lerak yang sudah dipisahkan dari bijinya, bisa langsung digunakan, dengan cara dihancurkan, dan digosok-gosokkan pada kain batik yang akan dicuci. Selain untuk mencuci kain batik, lerak juga digunakan oleh masyarakat tradisional untuk mandi, termasuk keramas, dan juga untuk mencuci perhiasan, terutama emas dan perak. Cairan dalam daging buah lerak, menghasilkan busa yang sama dengan sabun, shampo dan deterjen. Aroma lerak juga harum khas lerak, yang beda dengan aroma sabun cuci, deterjen maupun shampo.

# # #

Lerak adalah tumbuhan genus Sapindus, yang terdiri dari  13 spesies. Salah satunya adalah Sapindus rarak dari Asia Tenggara. Spesies lainnya adalah Sapindus delavayi, dari China dan India, Sapindus drummondii, sinonim Sapindus saponaria var. drummondii atau Western Soapberry, dari AS selatan dan Meksiko, Sapindus emarginatus dari Asia Selatan, Sapindus marginatus atau Florida Soapberry dari Florida dan South Carolina, Sapindus mukorossi atau Chinese Soapberry dari India, China bagian selatan, dan Himalaya, Sapindus oahuensis atau Hawaii Soapberry,  alias Lonomea, yang endemik Hawaii, Sapindus saponaria atau Wingleaf Soapberry dari Florida, Karibia dan Amerika Tengah, Sapindus tomentosus dari  China, dan Sapindus trifoliatus atau South India Soapnut, alias Soapberry dari India Selatan, dan Pakistan.

Dari 13 spesies genus Sapindus itu, para ahli botani masih merincinya lagi menjadi 135 sub spesies, varietas, forma, dan kultivar. Tanaman lerak dikembangbiakkan dari biji. Biji lerak mudah sekali tumbuh. Tetapi daya kecambahnya akan segera menurun, apabila biji dipisahkan (dikeluarkan) dari daging buah. Daging buah lerak yang mengandung saponin, sebenarnya berfungsi sebagai pelindung biji lerak dari cuaca (panas, lembap), serta serangan serangga. Hingga biji lerak akan tetap berdaya kecambah tinggi, apabila tetap dibiarkan terlindung di dalam daging buahnya. Ketika biji itu dikeluarkan, maka panas, udara lembap, dan serangga dengan cepat akan merusaknya, hingga biji kehilangan daya kecambah. Maka, biji yang sudah dipisahkan dari kulit dan daging buah, harus segera disemai, atau langsung ditanam di tanah yang sudah disiapkan.

Tanaman lerak akan tumbuh berupa pohon setinggi 20 m. Tajuknya jarang, dengan cabang-cabang yang liat. Kayu lerak sebenarnya tidak terlalu keras, tetapi sangat liat. Kulit batang abu-abu kecokelatan. Daun lerak tersusun dalam tangkai sepanjang sekitar 25 – 30 cm. Posisi daun berhadap-hadapan, dalam satu tangkai terdapat antara           1 – 12 helai. Daun berbentuk oval atau lanset, dengan ujungnya meruncing, panjang antara 7 – 13 cm, lebar 1,5 – 4 cm. Habitat lerak kawasan hutan hujan tropis, dengan elevasi antara 500 sd. 2.000 m. dpl. Habitatnya tersebar di India bagian selatan, Srilangka, seluruh kawasan Asia Tenggara, Cina bagian selatan, dan Taiwan.

Lerak sebenarnya potensial untuk dibudidayakan secara monokultur untuk dipanen buahnya. Bisa pula sebagai pohon peneduh jalan, karena batang, tajuk serta daunnya cukup estetis. Lerak juga bisa digunakan sebagai pohon pelindung di perkebunan kopi, kakao, vanili atau teh, karena tajuknya tidak terlalu rapat, tetapi cukup rindang sebagai pelindung tanaman pokok pada musim kemarau. Budidaya lerak harus dimulai dengan penyemaian benih, baik langsung di bedengan, atau di polybag. Pertumbuhan benih lerak cukup pesat, hingga pada umur satu tahun sudah bisa dipindahkan ke lapangan.

# # #

Bulan November tahun lalu, di internet ada permintaan buah lerak sebanyak 10 ton per bulan. Namun tampaknya permintaan ini akan sulit untuk bisa dipenuhi, sebab sampai sekarang memang belum ada budidaya lerak secara monokultur. Di India, lerak sudah dibudidayakan secara monokultur maupun sebegai tumbuhan peneduh. Hasil buah lerak dari India juga sudah diekspor. Selain sebagai bahan pencuci, sebenarnya saponin dalam buah lerak juga bisa digunakan sebagai bahan pestisida. Penelitian di Indonesia telah menunjukkan, bahwa larutan saponin buah lerak, mampu membasmi keong mas (hama padi sawah), tanpa mengganggu keong sawah dan biota air lainnya.

Naiknya harga minyak bumi, pada akhirnya juga akan berdampak pada produk bahan pembersih, terutama deterjen yang bahan bakunya berasal dari produk minyak bumi. Sabun mandi, dan shampo yang berbahan baku minyak nabati, juga akan ikut terseret naik harganya. Hingga bahan pembersih alternatif seperti lerak, akan kembali dicari-cari konsumen. Selain harganya yang diharapkan bisa lebih murah, budidaya lerak juga akan menunjang gerakan pengurangan emisi karbon. Selain bisa digunakan secara langsung untuk mencuci, mandi, dan keramas, lerak juga bisa diekstrak, dan dijadikan bahan sabun, dan shampo modern.

Yang juga akan menyebabkan produk lerak kembali diminati adalah, masyarakat juga makin sadar kesehatan. Bahan pembersih deterjen, shampo, dan sabun mandi modern, sarat dengan bahan kimia. Lerak yang digunakan secara langsung, sangat alami dan bebas bahan kimia apa pun. Hingga penggunaan lerak sebagai sabun mandi maupun shampo jelas lebih sehat. Penggunaan lerak juga sangat hemat. Dua butir biji lerak, cukup untuk mandi dan keramas sampai bersih. Meskipun masyarakat tradisional lebih senang keramas dengan air abu merang. Malai padi dibakar,  abunya direndam air, diendapkan, dan airnya yang jernih diambil, untuk keramas. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s