SERAT RAMI UNTUK ROMPI ANTI PELURU

Rami (haramai, Boehmeria nivea), adalah tanaman penghasil serat, yang sudah dibudidayakan sejak jaman Mesir Kuno. Pembalut mumi para Firaun di Mesir, adalah kain yang terbuat dari serat rami. Hingga tingkat kekuatan dan keawetan rami, nomor dua setelah sutera alam. Kekuatan dan keawetan kapas, nomor tujuh setelah sutera. Karena kekuatan dan keawetannya, kain kanvas lukisan selalu berbahan serat rami, dan bukan serat kapas. Puslitbang Industri, Badan Litbang  Departemen Pertahanan, saat ini juga sedang meneliti potensi serat rami sebagai bahan rompi anti peluru, untuk menggantikan fiber glass, kevlar, dan spectra yang masih diimpor.

Dibanding tiga bahan sintetis itu, kekuatan serat rami memang dibawahnya. tetapi keunggulan serat alami ini adalah, bisa diproduksi di dalam negeri, dan lebih ringan dari bahan sintetis. Rompi anti peluru dari bahan fiber, kevlar atau spectra, bobotnya antara 5 sd. 6 kg. Serat rami hanya berkisar antara 4 sd. 5 kg. Dengan substitusi serat rami, rompi anti peluru para anggota TNI, bisa berharga lebih murah, sekaligus lebih ringan ketika dipakai. Hasil penelitian Departemen Pertahanan tersebut, menunjukkan bahwa kualitas serat rami kita tidak kalah dibanding rami dari RRC, Brasil, Filipina, Taiwan, Korea, Komboja, Thailand dan Vietnam.

Selain Puslitbang Industri, Balitbang Dephan, yang juga meneliti potensi rami sebagai bahan rompi anti peluru adalah, Laboratorium Uji Polimer, Pusat Penelitian Fisika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saat ini kebutuhan serat rami dunia, mencapai 400.000 ton per tahun. Sementara produksi rami dunia, baru sekitar 130.000 ton. Hingga masih ada kekurangan 270.000 ton. Indonesia saat ini baru bisa memroduksi serat rami sekitar 1.000 ton. Dengan rincian, Wonosobo 100 ha, 225 ton; OKU 105 ha, 236 ton; Lahat 20 ha, 45 ton; Pagar Alam 20 ha, 45 ton; Muara Enim 20 ha,  45 ton; Musi Rawas 20 ha, 45 ton; Rejang Lebong 20 ha, 45 ton; Way Kanan 20 ha, 45 ton; Lampung Utara 20 ha, 45 ton; Lampung Barat 20 ha, 45 ton; Tanggamus 20 ha, 45 ton; Toba Samosir (Tobasa) 20 ha, 45 ton; Jabar (Garut, Sukabumi, Subang) 50 ha, kawasan lain 112 ton.

# # #

Rami dipanen pada umur sekitar 6 bulan sejak tanam. Yang dipanen adalah batangnya, dengan cara dipangkas di bagian pangkal. Dengan budidaya yang baik, tinggi batang rami bisa mencapai 2 m, dengan diameter batang sekitar jari orang dewasa. Karena tanaman ini berizoma (menumbuhkan anakan), maka rumpun rami bisa dipanen terus-menerus antara 5 sampai dengan 6 tahun. Baru kemudian dibongkar, untuk dirotasi dengan tanaman lain. Batang rami yang dipanen, segera dibersihkan dari daun dan pucuknya dibuang. Daun dan pucuk tanaman, adalah pakan ternak ruminansia (kambing, domba, sapi, kerbau), dengan nilai gizi tinggi.

Setelah dibersihkan daunnya, batang rami dikupas kulitnya. Caranya, batang rami digaris memanjang menggunakan ujung pisau, lalu kulit dibuka dan ditarik. Proses ini disebut dekortikasi, dan bisa dilakukan secara manual, maupun masinal (dengan mesin). Kayu rami kemudian dijemur sebagai kayu bakar, untuk pulp (bubur kertas), bahkan bisa diolah menjadi Nitro Selulosa, sebagai bahan amunisi (mesiu). Kulit rami hasil dekortikasi, harus segera diolah lebih lanjut, dijemur, atau diberi threatment, agar tidak tercemar bakteri atau kapang. Sebab kulit rami sangat peka busuk, yang berakibat rusaknya serat. Serat rami mentah hasil dekortikasi ini disebut China Grass.

Selanjutnya kulit rami mentah, diolah lebih lanjut menjadi serat rami. Proses ini disebut deguming (penghilangan getah atau zat pektin). Caranya dengan merebus China Grass selama 1 sd. 2 jam, dalam larutan alkali (larutan kaustik soda, soda api, natrium hidroksida, NaOH) sekitar 5%. Rasio larutan dengan bahan 5 : 1.  Semakin banyak China Grass  yang dideguming, semakin lama prosesnya pemasakan. Deguming dengan larutan NaOH, selama ini terbukti paling efektif. Tetapi, limbahnya akan mencemari lingkungan. Proses deguming yang ramah lingkungan, adalah dengan cara biologis (fermentasi), melalui perendaman dalam lumpur.

Namun lumpur sawah, juga mengandung bekteri  Pseudomonas, Achromobacter, Bacillus, dan Clostridium. Bakteri ini selain menghancurkan pektin, juga sekaligus merusak selulosa serat rami. Bakteri yang mampu menghancurkan pektin (bakteri pektinolitik), tetapi tidak merusak serat selulosa, antara lain  Boehmeria nivea, Crotalaria juncea, dan Sesbania oculeateata Pers. Dalam agroindustri serat rami skala besar, bakteri pektinolitik ini diisolasi (dimurnikan), dibiakkan, dan dicampurkan ke dalam lumpur yang sudah disterilkan. Ke dalam lumpur yang mengandung bakteri pektinolitik inilah China Grass direndam, sampai menjadi serat rami.

# # #

Serat rami hasil deguming ini, masih harus diproses Softening, yakni proses pelepasan dan penghalusan. Proses ini bisa dilakukan secara kimia maupun mekanis. Proses softening diperlukan agar serat rami bisa dipintal dan ditenun. Proses terakhir adalah Cutting dan Opening, untuk memisah serat rami menjadi dua macam. Serat panjangnya disebut Rami Top, dan serat pendeknya Staple Fibre. Dengan dihasilkannya dua produk ini, berakhirlah proses pengolahan kulit batang rami, hingga menjadi serat yang siap pintal dan tenun.

Seluruh proses agroindustri ini, bisa dilakukan dalam skala besar yang padat modal, bisa pula dalam skala rumah tangga. Keuntungan rami dibanding Jute (Corchorus capsularis), dan kenaf (Hibiscus cannabinus), bisa diproses secara bertahap. Kenaf dan yute harus ditanam dan dipanen serentak. Sementara rami bisa dipanen secara bertahap. Hingga petani rami bisa punya pekerjaan, dan punya daun rami untuk pakan ternak, setiap hari. Hanya saja, proses pengolahan serat rami memerlukan keterampilan khusus. Hingga petani rami harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu, sebelum mulai mengolah kulit raminya menjadi rami top.

Dengan potensinya yang demikian besar, rami layak untuk diusahakan secara masal. Terlebih lagi, selama ini industri tekstil kita 95% tergantung dari kapas impor. Selain menggunakan bahan kapas, industri tekstil juga memakai polimer (serat nilon), dan rayon (serat selulosa kayu). Kapas, polimer dan rayon, sebentar lagi akan mengalami kenaikan harga, akibat terus melambungnya harga minyak bumi. Kapas yang masih harus diimpor, akan naik harganya karena kenaikan ongkos angkut. Selain itu, lahan kapas di AS, sekarang juga mulai didesak jagung untuk bahan ethanol. Polimer yang berasal dari gas alam, jelas akan ikut naik harganya. Demikian pula dengan rayon yang merupakan kombinasi antara serat sintetis dengan selulosa kayu. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s