KONTROVERSI GOLDEN RICE

Di tingkat global, beras Emas (Golden Rice) adalah komoditas yang kontroversial. Mirip dengan padi Super Toy beberapa waktu yang lalu di Indonesia. Bedanya, kontroversi beras emas menyangkut isu kesehatan, sementara Super Toy berkaitan dengan masalah produktivitas.

Beras emas berawal dari sebuah keprihatinan. Di negara berkembang di Amerika Latin, Asia dan Afrika, jutaan anak-anak terancam buta karena kekurangan vitamin A. Vitamin A, banyak terkandung dalam buah-buahan dan sayuran yang berwarna merah, kuning dan oranye. Misalnya pepaya, tomat, dan wortel. Masyarakat miskin tidak mampu mengonsumsi buah dan sayuran tersebut secara rutin, demi memenuhi kebutuhan vitamin A. Maka muncullah pertanyaan, bagaimana caranya menciptakan produk pangan massal, yang kaya vitamin A? Sebenarnya produk pangan massal itu sudah ada cukup banyak.

Jagung, beras, gandum, sorgum dan ubi jalar, secara alami ada yang berwarna kuning, oranye, dan merah. Ini adalah produk pangan massal dengan kandungan beta karotin tinggi, yang merupakan perkusor dari vitamin A. Namun Ingo Potrykus seorang pakar bioteknologi tumbuhan dari Institute of Plant Sciences, Zurich, Swiss, punya ide lain. Ia ingin memasukkan gen pembawa beta karotin ke dalam tanaman padi, hingga beras yang dihasilkan kaya akan vitamin A. Sebenarnya ini sebuah upaya yang sia-sia, sebab Allah sudah menciptakan serealia, termasuk beras, yang secara alami sudah memiliki gen pembawa beta karotin, hingga mengandung vitamin A.

# # #

Sebenarnya, secara alami dalam biji padi beras putih juga terdapat geranyl geranyl diphosphate (GGDP), bahan dasar untuk biosintesa karotenoid, termasuk beta karotin. Namun tanaman padi beras putih, tidak menghasilkan phytoene, yang akan mengubah GGDP menjadi beta karotin. Hal ini terjadi karena adanya hambatan fungsi enzim phytoene synthase (PHY), hingga tidak mampu mengubah GGDP menjadi phytoene. Hambatan ini bisa dihilangkan dengan mengintroduksi gen enzim phy dan lycopene cyclase (LYC) dari tanaman daffodil (bunga narsis, Narcissus pseudonarcissus), serta crt1 dari bakteri tanah Erwinia uredovora.

Hasil rekayasa genetika padi Golden Rice dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science pada tahun 2000. Tahun 2005, Ingo Potrykus kembali mengumumkan penyempurnaan temuannya, yang kemudian diberi nama padi Golden Rice 2. Sejak publikasi tentang Golden Rice di jurnal Science, reaksi para penentangnya sangat keras. Para aktivis lingkungan yang tergabung dalam Green Peace, paling lantang mengritisi padi Golden Rice. Padi Golden Rice, mereka kategorikan sebagai padi transgenik, yang akan merusak sumber plasma nutfah alami, sementara manfaat langsungnya bagi kesehatan konsumen belum teruji dengan baik.

Beberapa pakar kesehatan malah memperkirakan, bahwa dampak negatif beras emas bisa saja lebih berat, dibanding dengan kekurangan vitamin A yang selama ini dikawatirkan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi beras emas, melainkan juga semua komoditas pertanian transgenik. Jepang dan Uni Eropa, selama ini paling kuat menentang masuknya produk-produk pertanian transgenik. Beda dengan AS yang gencar melakukan produksi sekaligus promosi produk pertanian transgenik, termasuk memasarkan benihnya. Yang terakhir ini juga dikawatirkan oleh para penentang beras emas. Sebab hak kekayaan intelektual hasil rekayasa genetika Ingo Potrykus ini, sudah dibeli oleh Monsanto.

Yang akan terjadi kemudian adalah, negara-negara miskin dan berkembang, justru akan membeli benih padi Golden Rice dengan harga tinggi. Sementara manfaat langsung dari Golden Rice belum terjadi. Para pengritik Golden Rice juga menunjukkan, bahwa bahaya kekurangan vitamin A pada anak-anak negara miskin dan berkembang, bukan sekedar memerlukan produk pangan massal berbeta karotin, melainkan karena distribusi pendapatan yang tidak merata secara global. Kemiskinan yang terjadi di Amerika Latin, Asia, dan Afrika, bukan karena kekurangan sumber daya alam, melainkan karena adanya eksploitasi dari negara maju.

# # #

Sama dengan padi Super Toy yang merupakan cermin dari kebodohan nasional, maka Golden Rice adalah cermin kebodohan global. Kalau tujuan rekayasa genetika padi Golden Rice sekedar untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, jawabnya sudah jelas, yakni produksi serealia yang secara alami berbeta karotin tinggi, dimassalkan. Terutama budidaya komoditas ini diprioritaskan di negara miskin dan negara berkembang. Padi-padi varietas lokal kita pun banyak yang berasnya berwarna kuning atau merah. Sekarang ini trend mengonsumsi nasi beras merah juga mulai kembali tumbuh di kalangan masyarakat perkotaan.

Selain mengandung vitamin A, beras merah juga kaya akan vitamin B, yang terkandung dalam kulit ari. Beras merah berarti beras pecah kulit. Sebab apabila beras merah disosoh hingga kulit arinya hilang, maka warna merahnya juga akan ikut tersosoh habis. Selain beras merah, vitamin A juga terdapat dalam jagung kuning, dan oranye. Ironisnya, selama ini yang dikonsumsi manusia justru jagung putih. Sementara jagung kuning diproduksi massal sebagai pakan ternak. Baik ternak ruminansia, maupun unggas. Nasib gandum dan sorgum merah juga sama dengan beras dan jagung merah. Masyarakat lebih memilih gandum dan sorgum putih yang tidak mengandung vitamin A.

Untunglah, pemerintah Indonesia, atau konglomerat papan atas kita, belum sempat mengintroduksi padi Golden Rice dan memromosikannya secara massal. Sebab kalau hal ini terjadi, kita telah melakukan kebodohan kebijakan pangan untuk ketiga kalinya. Pertama ketika pusat kekuasaan pemerintahan merestui Nutrisi, sekaligus Padi Saputra, kedua Padi Super Toy. Dan untunglah yang ketiga ini belum terjadi, yakni pengembangan padi Golden Rice. Sebab masalah utama dunia sekarang ini adalah, bagaimana bisa mengatasi krisis keuangan dan ekonomi, hingga tidak berlanjut berkepanjangan. Dan Golden Rice jelas bukan jawaban untuk itu. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s