UBI SINGAPUR YANG DILUPAKAN

Ubi singapur juga dikenal sebagai air potato (kentang udara), maksudnya umbi kentang yang berada di tajuk tanaman. Bentuk ubi singapur memang mirip dengan kentang, terutama ubi singapur yang berkulit halus berwarna cokelat. Rasanya pun juga dekat sekali dengan rasa kentang.

Ada empat varietas ubi singapur. Pertama yang berkulit halus berwarna cokelat seperti kentang, daging umbinya berwarna putih kekuningan, dan enak dimakan. Kedua juga berkulit halus berwarna cokelat seperti kentang, dengan daging umbi berwarna putih kekuningan, tetapi rasanya pahit dan baracun. Ketiga yang berkulit kasar, bertotol-totol, dan berwarna ungu gelap, daging umbinya juga berwarna ungu gelap, dan enak dimakan. Keempat, juga berkulit kasar, bertotol-totol, dan berwarna ungu gelap, daging umbinya berwarna ungu gelap, tetapi pahit dan baracun. Varietas yang beracun dan tidak beracun, memang sulit dibedakan penampilannya, kecuali dari rasanya (pahit dan tidak pahit).

Ubi singapur merupakan tumbuhan asli Asia dan Afrika Tropis, meskipun sekarang sudah diintroduksi ke Amerika Tropis, termasuk ke Florida, AS. Di Afrika, ubi singapur dibudidayakan, dan dikonsumsi sebagai bahan pangan secara luas. Di Asia, khususnya di Indonesia, ubi singapur justru tidak terlalu dikenal. Di Jawa, ubi singapur disebut jebubug, jebug, uwi gandul, huwi buah, dan huwi upas. Sebutan huwi upas, menunjukkan bahwa ada varietas yang pahit dan beracun. Nama latin ubi singapur adalah Dioscorea bulbifera.

# # #

Racun dalam ubi singapur terdiri dari steroid dan diosgenin. Dua kandungan ubi singapur ini merupakan bahan baku steroidal hormones, yang antara lain dimanfaatkan sebagai hormon kontrasepsi. Secara tradisional, masyarakat Afrika dan Asia memang memanfaatkan ubi singapur sebagai bahan obat radang mata, dan gangguan pencernaan. AS sangat tertarik dengan ubi singapur, bukan sebagai bahan pangan, melainkan justru karena kandungan steroid dan diosgeninnya. AS sangat tertarik dengan tumbuhan yang mengandung bahan obat.

Ubi singapur juga mengandung umbi di bagian bawahnya. Hingga setelah mengalami masa dorman pada musim kemarau, pada awal musim hujan, dari umbi dalam tanah ini akan tumbuh tanaman baru. Beda dengan genus Dioscorea lainnya, misalnya ubi gadung (Dioscorea hispida), ubi huwi (uwi, Dioscorea alata), ubi sunda (Dioscorea pentaphylla), ubi gembili/gembolo (Dioscorea aculeata), umbi dalam tanah ubi singapur, tidak akan bertambah besar, atau bertambah banyak. Sebab produksi umbi justru berada di atas tanah, diketiak-ketiak daun.

Sebenarnya ubi huwi, juga menghasilkan umbi di atas tanah, di antara ketiak daunnya. Namun produktivitasnya tidak sebesar ubi singapur. Umbi ubi singapur yang tumbuh di atas tanah, juga bisa dijadikan benih, dan akan tumbuh seperti induknya. Ukuran umbi singapur yang berada di tajuk tanaman, bervariasi mulai sebesar kelereng, sampai sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ukuran umbi, sangat tergantung dari umur tanaman. Tanaman dari benih umbi kecil, pada tahap awal juga akan menghasilkan umbi udara berukuran kecil.

Umbi ubi singapur bisa dikonsumsi dengan direbus, atau dikukus. Umbi yang berukuran besar, harus dipotong-potong, agar masak dengan merata. Baik umbi putih maupun umbi ungu yang tidak beracun, sama-sama bisa dikonsumsi dengan aman. Beracun atau tidaknya umbi ubi singapur, ditandai dengan rasanya yang pahit. Kalau setelah direbus/dikukus umbi terasa pahit, selanjutnya umbi dari tanaman jangan dikonsumsi. Sebaliknya, tanaman yang menghasilkan umbi enak, hasil umbinya akan enak selamanya. Sebab sifat genetik tanaman akan menetap.

# # #

Budidaya ubi singapur, bisa bersifat monokultur, maupun tumpang sari dengan tanaman lain. Budidaya secara tumpang sari dilakukan dengan cara merambatkannya ke tanaman lain. Sedangkan secara monokultur, dengan diberi ajir seperti budidaya kacang panjang, buncis, dan tanaman merambat lainnya. Budidaya tanaman umbi-umbian merambat, jarang dilakukan dengan menggunakan para-para. Benih ubi singapur berupa umbi atas, berukuran sebesar telur ayam. Sebab umbi yang cukup besar bisa dikonsumsi, umbi yang terlalu kecil lamban pertumbuhannya.

Secara ekonomis, ubi singapur putih dan ungu sama-sama menguntungkan. Namun untuk dikonsumsi sebagai substitusi kentang, ubi singapur putih lebih tepat. Sementara ubi singapur ungu, lebih cocok dibudidayakan sebagai bahan tanaman obat. Sebab pada umumnya, jenis yang berumbi ungu lebih sering beracun dibanding dengan yang berumbi putih. Masyarakat pedesaan sudah terbiasa menggunakan ubi singapur putih sebagai pengganti kentang. Hingga sebutan “air potato” untuk ubi singapur memang sangat tepat.

Meskipun ubi ini jelas merupakan tanaman penghasil pangan, dan di AS diharapkan menjadi penghasil bahan obat, namun banyak pula yang membudidayakannya sebagai tanaman hias. Selama ini yang populer sebagai tanaman hias adalah ubi gajah (Dioscorea elephantipus), asal Afrika Selatan. Namun ubi singapur pun, terutama yang umbinya ungu, cukup menarik dibudidayakan dalam pot, dengan ajir di halaman rumah. Daunnya yang berbentuk jantung, dan umbinya yang bergelantungan merupakan paduan yang menarik. (R) # # #

One thought on “UBI SINGAPUR YANG DILUPAKAN

  1. saya pernah dapat bibitnya bahkan dari seseorang yang pernah tinggal di jepang. saya pernah menanamnya, tapi karena tidak tahu cara mengolahnya ( yang umbinya putih), saya biarkan hingga tumbuh/ bertunas sendiri. lalu saya tawarkan pada beberapa teman dan merekapun menanamnya. sekarang sudah pada berbuah (umbi) dan saya belum bisa menjawab ” bagaimana cara mengolahnya?” tolong saya untuk memberikan jawabannya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s