PELUANG BUDI DAYA ALOCASIA

Para pelaku bisnis tanaman hias, khususnya potplant, selalu bertanya-tanya. Tahun 2008 ini, tanaman apa lagikah yang akan mengalami booming seperti halnya anthurium pada tahun 2007 lalu, dan aglaonema selama 2005 dan 2006? Beberapa tanaman memang pernah diharapkan akan naik daun, dan mengalami booming. Misalnya adenium, caladium, sansiviera, nephentes, puring, dan euphorbia. Adenium memang tidak pernah sampai booming seperti halnya aglaonema dan anthurium. Namun tanaman yang dijuluki “kamboja jepang” ini masih mampu bertahan dan diminati pehobi sampai sekarang.

Tanaman hias pot plant yang juga pernah direkayasa untuk naik daun adalah Alocasia. Orang sering menyebut alocasia sebagai sente (sénté). Sebutan ini untuk membedakannya dengan talas (Colocasia), dan keladi (Xanthosoma). Sebab masyarakat awam memang sulit membedakan talas, keladi, sente, bahkan juga Caladium, dan kuping gajah (Anthurium crystallinum). Sebab bentuk batang (umbi), pelepah, tangkai daun, dan helai daun tanaman hias ini sepintas memang tampak sama. Sente adalah tanaman yang berdaun lebar, yang daun serta pelepahnya dijadikan pakan ikan gurami.

Namun yang yang belakangan ini naik daun, bukan sente pakan ikan gurami tersebut. Meskipun kadang-kadang jenis sente ini juga sering dijadikan elemen taman, terutama taman-taman terbuka yang luas, dengan kolam dan paritnya. Sente yang akhir-akhir ini digemari masyarakat, adalah jenis yang lebih kecil, dengan daun keunguan, atau hijau dengan garis-garia perak. Baik dengan tepi daun menggelombang maupun rata. Sebenarnya jenis sente ini juga bukan tanaman hias baru. Sebab sejak jaman Belanda, sente hitam ini (sente wulung), sudah biasa ditanam di halaman rumah-rumah Belanda.

# # #

Tahun 1980an, salah satu jenis sente ini juga pernah populer di kalangan pehobi tanaman hias. Ketika itu masyarakat menyebutnya sebagai “keladi tengkorak”. Meskipun sebutan ini sebenarnya juga salah kaprah. Sebab tanaman hias ini bukan jenis keladi. Disebut tengkorak juga salah, sebab hiasan perak pada tulang daunnya, memberi kesan deretan tulang-tulang iga, dengan tulang daun utamanya sebagai tulang dada. Sementara tengkorak adalah tulang kepala. Tetapi kalangan tanaan hias sudah terlanjur memberinya sebutan keladi tengkorak. Sebenarnya, sente pakan ikan gurami, keladi hitam, dan juga keladi tengkorak, adalah tanaman hias yang sekarang dikenal sebagai Alocasia.

Kalau genus Anthurium terdiri dari 908 spesies, dan seluruhnya berasal dari Amerika tengah dan Latin, maka Alocasia, hanya terdiri dari 70 spesies, dan sebagian besar berasal dari Asia Tenggara, khususnya Kalimantan. Alocasia  Kalimantan ini sudah sejak lama menjadi incaran para huters, untuk diselundupkan ke luar negeri. Sampai sekarang masih saja diketemukan spesies-spesies Alocasia baru yang belum terdiskripsikan taksonominya. Spesies yang banyak diminati para kolektor luar negeri, khususnya AS, adalah yang ukuran daunnya mungil, dengan warna ungu, cokelat, atau kehitaman, dan ornamen pada tulag daun yang cukup jelas.

Spesies-spesies asli Kalimantan ini, oleh para breeder di Thailand, dan Hawaii, telah disilang-silangkan hingga tercipta hibrida-hibrida baru. Sebagai tanaman hias, Alocasia hibrida ini lebih menarik, karena ukuran, bentuk, dan warna daunnya yang lebih unik. Oleh para breeder di Thailand dan Hawaii, Alocasia hasil silangan mereka ini diperbanyak secara massal dengan kultur jaringan. Hingga harga per satuan tanaman bisa menjadi sangat murah. Itulah sebabnya para nurseri di Jakarta, secara rutin mendatangkan Alocasia baru dari Bangkok. Selain dengan kultur jaringan, Alocasia juga bisa diperbanyak dengan pemecahan umbi.

Salah satu perbedaan antara Alocasia, Colocasia, dan Xanthosoma, adalah, umbi Alocasia hanya tumbuh memanjang dan rata. Anakan Alocasia berupa bintil umbi kecil-kecil, yang ketika terpisah dari induknya akan tumbuh menjadi individu tanaman baru, yang juga kecil-kecil. Umbi Colocasia sebenarnya juga tumbuh memanjang, namun bagian tengahnya menggembung. Anakan Colocasia berupa sulur memanjang yang kemudian tumbuh agak berjauhan dari tanaman induknya. Colocasia yang juga berhabitat asli Asia Tenggara sampai ke kepulauan Pasifik ini, hanya terdiri dari sekitar 8 spesies. Beda dengan Alocasia dan Colocasia, anakan Xanthosoma tumbuh sebagai umbi besar yang menempel pada umbi induk.

# # #

Salah satu kelemahan Alocasia, juga Caladium adalah, tanaman akan mengalami masa dorman, hingga sama sekali tidak berdaun. Tetapi hal itu hanya akan terjadi di alam, ketika kemarau panjang. Dalam pot yang medianya selalu basah, Alocasia akan terus menumbuhkan daun, juga anakan, hingga sama sekali tidak pernah mengalami masa dorman. Hanya saja, secara rutin Alocasia harus direpoting, hingga media tanam tidak memadat karena dipenuhi akar. Kelemahan lain Alocasia adalah, apabila kekurangan air, pelepah dan tangkai daunnya akan loyo, sementara helaian daunnya menguncup. Hal ini tidak akan pernah terjadi, kalau media tanam selalu basah dan lembap.

Namun para pehobi tanaman hias, umumnya terlanjur diberi tahu oleh para nurseri, bahwa Alocasia peka basah dan lembab, sebab akar dan umbinya mudah membusuk. Hal ini memang juga benar. Hingga repoting dan penggantian media, harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, tanpa melukai akar apalagi umbi tanaman. Caranya, cukup dengan mengangkat rumpun tanaman berikut medianya, lalu langsung memasukkannya ke pot baru yang lebih besar, dengan media tanam yang juga baru. Media tanam Alocasia harus berupa bahan organik yang subur. Sebab habitat asli Alocasia adalah hutan hujan tropika basah, dengan hubus tebal di bagian bawahnya.

Perbanyakan Alocasia bisa melalui dua cara. Vegetatif dengan pemotongan umbi, dan generatif melalui biji. Umbi Alocasia sangat peka pembusukan. Hingga umbi yang baru saja dipotong harus diangin-anginkan terlebih dahulu agar bekas potongan mengering, dan tunas umbi kelihatan tumbuh. Bisa pula irisan umbi dicelup dalam larutan desinfektan, baru setelah itu dikering anginkan. Perbanyakan secara generatif, harus dilakukan dengan pertama-tama menyerbukkan bunga Alokasia. Biji Alocasia yang telah masak dan berwarna kemerahan, dipetik, dibuang daging buahnya, dicuci berkali-kali, dan dikering anginkan. Biji inilah yang kemudian disemai dalam media pasir malang dicampur kompos. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s