QUINOA PANGAN BANGSA INCA

Quinoa (dibaca /ˈkinwɑ/KEEN-wah/ˈkinoʊə/KEE-no-uh), atau dalam bahasa Spanyol quinua, adalah tumbuhan penghasil biji-bijian dari pegunungan Andes, Amerika selatan. Quinoa merupakan bahan pangan penting bagi bangsa Inca, sebelum kedatangan bangsa kulit putih (spanyol).

Amerika Selatan memang “gudangnya” tanaman sumber karbohidrat sebagai bahan pangan. Mulai dari jagung, singkong, kentang, ubi jalar, keladi, garut, ganyong, biji bayam (amaranth grain), dan quinoa, adalah tumbuhan endemik Amerika Latin. Setelah kedatangan bangsa Eropa, tumbuhan sumber karbohidrat itu menyebar ke seluruh dunia. Kita lalu tidak pernah sadar, bahwa jagung, singkong, ubijalar, dan lain-lain itu, baru ada di Jawa karena dibawa Portugis, dan Belanda. Singkong bukan tumbuhan asli Gunung Kidul, dan jagung bukan makanan tradisional orang Madura.

Dari sembilan tumbuhan sumber karbohidrat itu, biji bayam dan quinoa paling tidak populer di Indonesia. Biji bayam kemudian dibudidayakan secara lebih serius di India, Nepal, dan RRC. Di Indonesia, bayam penghasil biji yang disebut “bayam jengger” atau “jengger ayam”, justru hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Quinoa pun bernasib sama. Kalau kita datang ke kawasan Puncak, Lembang, Batu, dan lain-lain, akan tampak tanaman hias yang mirip dengan bayam, tetapi bentuknya meruncing ke atas seperti “cemara mini”, dengan warna-warni yang sangat mencolok. Itulah quinoa.

# # #

Habitat asli quinoa di Amerika Selatan, memang pegunungan Andes, dengan ketinggian sekitar 4000 m. dpl. Di kawasan ini, tumbuhan sumber karbohidrat yang bisa hidup hanyalah kentang, bayam biji, dan quinoa. Jagung, singkong, ubi jalar, keladi, ganyong, dan garut, hanya bisa hidup di dataran rendah, dataran menengah, dan dataran tinggi sampai dengan sekitar 2000 m. dpl. Kentang dan quinoa, justru hanya bisa dibudidayakan di dataran tinggi. Di Indonesia tanaman hias quinoa dengan warna merah, dan kuning juga hanya bisa dijumpai di kawasan pegunungan.

Quinoa (Chenopodium quinoa), hanyalah salah satu spesies, dari sekitar 150 spesies dalam genus Chenopodium. Sebagian besar dari 150 spesies genus Chenopodium tersebut,  merupakan tanaman hias, penghasil pseudo-cereals (sebagai substitusi sereal asli), dan juga pucuknya untuk sayuran. Dari sekitar 150 spesies Chenopodium itu, yang paling menarik sebagai penghasil biji-bijian bahan pangan, sayuran, dan juga tanaman hias, hanyalah Chenopodium quinoa. Selain bentuknya yang unik, warna quinoa yang ungu, merah, oranye, kuning, dan hijau memang sangat atraktif.

Biji quinoa, berukuran sebesar beras, hanya bentuknya lebih bulat tak beraturan. Beda dengan biji bayam yang berukuran sangat kecil. Karenanya, di Amerika Latin, khususnya di Peru, Bolivia, dan Equador, quinoa dikonsumsi seperti halnya kita memasak dan makan nasi. Salah satu kelemahan quinoa adalah, punya lapisan kulit biji tipis, yang mengandung saponin, mirip dengan biji sorgum. Saponin ini akan menimbulkan rasa sepet, dan pahit pada nasi quinoa. Cara menghilangkannya, selain dengan disosoh, juga melalui pencucian, dengan digilas, dan disiram air beberapa kali.

Biji quinoa juga bisa ditepungkan, dan dimasak sebagai bubur, kue, atau roti. Quinoa tidak mengandung gluten, zat yang hanya terdapat pada biji gandum. Hingga tepung quinoa tidak bisa dijadikan bahan substitusi gandum. Meskipun bisa ditepungkan, di Amerika Latin, quinoa lebih banyak dikonsumsi seperti nasi. Saat ini budidaya quinoa untuk bahan pangan, sudah mulai menyebar ke Amerika Tengah, dan AS, meskipun masih dalam skala terbatas. Di Indonesia, quinoa potensial untuk dikembangkan di Brastagi, Pangalengan, Dieng, Batu, Tengger, Ijen, dan terutama di pegunungan Jaya Wijaya, Papua.

# # #

Di Andes, quinoa tumbuh liar di lembah yang datar. Masyarakat Inca sendiri jarang membudidayakannya, karena populasi quinoa di alam asli cukup besar. Penyebaran quinoa disebabkan bijinya yang disukai burung. Sebagian dari biji yang tidak tercerna, akan menyebar dan tumbuh di habitat yang tepat. Budidaya quinoa sebenarnya sangat mudah, mengingat tumbuhan ini dikenal “bandel”. Quinoa tahan kekeringan, tahan hidup di lahan gersang, serta tahan terpaan angin. Budidaya quinoa menggunakan benih biji, seperti halnya serealia lainnya.

Quinoa adalah tumbuhan semusim. Ditebar pada musim semi, dan akan dipanen pada akhir musim panas. Di negeri tropis seperti Indonesia, quinoa potensial untuk dibudidayakan sepanjang tahun. Kendala utama budidaya quinoa di Indonesia, justru faktor kelembapan udara yang tinggi. Sebab di Amerika Selatan, habitat quinoa adalah kawasan pegunungan sub tropis yang udaranya sangat kering. Angin laut yang lembap, yang datang dari barat (Samudera Pasifik), telah habis menjadi hujan di lereng barat Pegunungan Andes.

Dalam mengatasi ketahanan pangan nasional, sembilan tumbuhan penghasil karbohidrat asal Amerika Latin, yang telah kita kembangkan secara serius baru jagung, singkong, ubijalar, dan kentang. Keladi, ganyong, garut, masih dibudidayakan secara sambil lalu. Bayam biji dan quinoa, malahan baru sebatas dibudidayakan sebagai tanaman hias. Barangkali para pejabat kita di Departemen, dan Dinas  Pertanian, juga sama sekali tidak menduga kalau tanaman hias warna-warni yang sering mereka jumpai di kawasan pegunungan itu, merupakan penghasil pangan penting bagi bangsa Inca. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s