AGROINDUSTRI TEH WANGI

Teh wangi juga dikenal sebagai jasmine tea, dan chinese tea. Disebut teh wangi, karena aromanya memang lebh harum, dari teh hijau ataupun teh hitam. Aroma wangi ini bukan hanya datang dari pucuk daun teh, melainkan juga dari kuncup bunga melati kering.  Karena diberi kuncup bunga melati, maka teh wangi juga disebut jasmine tea. Berhubung yang memperkenalkan teh wangi ini bangsa China, maka jasmine tea juga disebut sebagai chinese tea. Tiga sebutan ini: teh wangi, jasmine tea, dan chinese tea, digunakan sebagai pembeda dengan teh hitam (black tea, english tea), teh hijau (japanese tea), serta teh olong.

Bahan utama teh wangi adalah teh hijau atau teh olong, yakni pucuk teh yang tidak digiling, tetapi digulung. Secara tradisional, teh hijau dan teh olong dibuat dengan cara meremas-remas pucuk teh yang sudah dilayukan. Teh hijau langsung dikeringkan, dengan dioven atau disangrai, tanpa melalui proses oksidasi. Sementara teh olong diproses melalui pemeraman sebentar, agar terjadi oksidasi 50%. Pada teh hitam, pucuk teh yang sudah dilayukan langsung digiling dan diperam agar teroksidasi 100%. Baru kemudian dikeringkan dan disortir. Teh hitam adalah produk final, yang tidak mungkin diproses lebih lanjut menjadi jasmine tea.

Dalam perkembangan lebih lanjut, pewangi teh tidak hanya terdiri dari kuncup melati. Bisa helaian mahkota bunga mawar (rosa tea), helaian mahkota bunga krisan chrysanthemum tea, dan lain-lain. Guest house perkebunan teh Gunung Mas, di kawasan Puncak, Jawa Barat, bahkan telah memperkenalkan teh yang diseduh bersama dengan jahe, dan kayu manis (gingger chinamon tea). Gabungan antara aroma teh, aroma kayu manis dan pedasnya jahe, merupakan paduan yang sangat tepat, dalam udara dingin di kawasan Puncak. Meskipun, kreativitas ini belum mereka wujudkan berupa gingger chinamon tea dalam kemasan.

# # #

Di RRC, dan Taiwan, kemudian juga berkembang jasmine tea, chrisanthemum dan lain-lain, yang sama sekali tidak ada pucuk daun tehnya. Jadi yang diseduh merupakan 100% kuncup melati, helaian bunga krisan, dan bahan-bahan lain. Sama dengan di Indonesia kemudian ada teh tempuyung, teh daun murbei, yang sebenarnya merupakan simplisia. Pada tahun 1940an dan 1950an, masyakarat Indonesia malahan sering menaruh daun kopi pada air yang sedang dididihkan. Warna air kemudian akan menjadi kemerahan seperti seduhan teh. Aromanya juga harum khas daun kopi, yang beda dengan aroma seduhan teh.

Meskipun banyak alternatif pewangi teh, namun semuanya belum bisa menggeser kuncup bunga melati. Ada sekitar 200 spesies melati, tetapi hanya tiga yang berpotensi untuk digunakan sebagai pewangi teh. Aslinya, chinesse tea menggunakan melati china Jasminum officinale, atau dikenal pula sebagai common jasmin, common jessamine, true jasmine, dan poet’s jasmine. Selain itu, bisa pula digunakan melati eropa Jasminum grandiflorum. Di Eropa Selatan, Jasminum grandiflorum paling banyak dibudiayakan untuk diambil minyaknya. Dua jenis melati inilah yang sering kita sebut sebagai “melati gambir”.

Kadang-kadang agroindustri teh wangi juga menggunakan melati asia tenggara Jasminum sambac. Melati sambac inilah yang paling banyak dijumpai sebagai tanaman hias di halaman rumah. Melati sambac adalah jenis melati yang digunakan kuncupnya sebagai rangkaian dalam upacara adat dan keagamaan di Asia Tenggara. Jasminum sambac juga merupakan bunga nasional bagi Filipina, dan bersamaan dengan anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), serta Raflesia arnoldi, juga menjadi bunga nasional di negeri kita.  Tiga jenis melati inilah yang paling banyak dibudidayakan di dunia, karena tingkat kewangiannya paling tinggi.

Di sekitar sentra penghasil teh wangi, di kawasan Tegal, Jawa Tengah, sekaligus bisa kita jumpai tiga jenis melati ini. Karena berasal dari negeri sub tropis, Jasminum grandiflorum dan Jasminum officinale, banyak dijumpai di dataran menengah di sekitar sentra agroindustri teh wangi tadi. Sementara Jasminum sambac, paling banyak dijumpai di dataran rendah, mulai dari Kab. Brebes, Tegal, Pemalang, Batang, sampai ke Kendal. Kalau Jasminum grandiflorum dan Jasminum officinale hanya bisa digunakan dalam agroindustri teh wangi, dan juga untuk diambil minyaknya, maka Jasminum sambac, lebih banyak digunakan sebagai rangkaian melati.

# # #

Tiga jenis melati ini harus dipanen sebelum pukul 09.00 pagi. Bunga yang dipanen harus yang masih kuncup, tetapi hari itu akan mekar. Melati akan mekar mulai dari siang sampai dengan sore hari, dan puncak kewangiannya akan terjadi antara pukul 06.00 sampai dengan tengah malam. Bunga yang telah dipetik, harus tetap menguncup, sampai dengan proses pencampuran dan pengeringan dengan pucuk teh. Cara membuat kuncup bunga ini tidak mekar adalah, dengan menaruhnya dalam kantung plastik yang ditutup rapat, dan menjaga suhunya agar selalu di bawah 14° C. Para pedagang biasa menaruh kantung plastik berisi kuncup  melati  dalam wadah yang diberi es batu.

Sesampai di pabrik, kuncup melati Jasminum grandiflorum, Jasminum officinale, maupun Jasminum sambac, segera dicampurkan dalam teh hijau kemudian segera dikeringkan dengan cara dioven atau dialiri udara panas. Pengeringan ini harus dilakukanb secepat mungkin, hingga kuncup melati langsung mengering, tanpa sempat mekar. Sebab apabila pengeringan dilakukan dengan menaikkan suhu secara pelan-pelan, maka kuncup melati akan mekar, dan zat parfumnya segera menguap di udara. Setelah proses pencampuran dan pengeringan selesai, teh wangi sudah bisa dikemas, dan kemudian dipasarkan.

Selama ini, agroindustri teh wangi masih lebih banyak menghasilkan teh dalam kemasan bungkusan kecil (sekali seduh), sedang, dan besar. Hanya sedikit sekali agroindustri teh wangi yang mengemas produk mereka dalam bentuk sase. Kualitas produk teh wangi dalam kemasan non sase, jauh lebih tinggi dibanding dengan teh hitam dalam kemasan sase. Sebab teh wangi kemasan biasa, masih menyertakan kuncup daun teh paling atas, yang disebut peco. Sementara teh sase, umumnya hanya menggunakan teh hitam kualitas paling rendah, sebab kualitas atasnya khusus untuk diekspor. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s