LONTONG CAP-GO-MEH

Cap-Go-Meh adalah hari raya malam ke 15 setelah Imlek. Tahun 2009 ini, hari raya Tahun Baru Imlek 2560, akan jatuh pada hari Senin, 26 Januari. Berarti Cap-Go-Mehnya jatuh pada hari Senin, 9 Februari 2009. Lontong Cap-Go-Meh, meskipun menyandang nama Cap-Go-Meh, sama sekali tidak ada kaitannya dengan hari raya ini.

Lontong Cap-Go-Meh, adalah menu khas Jawa, yang setiap hari bisa dijumpai di beberapa restoran di Jakarta, maupun beberapa kota besar lainnya. Menu ini terdiri dari lontong biasa, dengan sayur nangka, opor ayam, sambal goreng lengkap, dan sate abing. Biasanya masih ditambah dengan kerupuk udang dan dalam opor ayam juga ada telurnya. Lontong Cap-Go-Meh merupakan salah satu bentuk kultur gado-gado, penggabungan antara kultur Jawa (lokal), dengan kultur China (pendatang), dalam sosok sebuah menu.

Lontong Cap-Go-Meh, berasal dari Semarang. Di Semarang sendiri, saat ini banyak variasi resep lontong Cap-Go-Meh. Terlebih lagi di luar kota ini, terutama di Jakarta. Di beberapa restoran di Jakarta misalnya, kelengkapan sate abing dalam lontong Cap-Go-Meh, sudah mulai ditinggalkan. Meskipun disebut sate, masakan sate abing lebih mirip dengan rendang kering. Bahannya bisa daging ayam, kambing maupun sapi. Perkembangan variasi menu lontong Cap-Go-Meh di Semarang, mirip dengan perkembangan variasi resep lumpia, yang juga menu khas kota ini.

# # #

Menu utama lontong Cap-Go-Meh adalah lontong, beras yang dikaron, dibungkus daun pisang, kemudian direbus sampai memadat seperti halnya ketupat. Meskipun berbahan dan berbentuk sama, rasa lontong (yang dibungkus daun pisang), berdeda dengan ketupat (yang dibungkus anyaman daun kelapa). Perbedaan rasa ini disebabkan oleh aroma bahan pembungkusnya, serta cara memasaknya. Sekarang banyak lontong yang dimasak dengan dibungkus plastik, karena lebih murah dan lebih praktis. Namun rasa lontong “plastik” tidak selezat lontong daun pisang.

Sama dengan sate abing, nangka muda yang dimasak model sayur padang (berkuah), merupakan kelengkapan lontong Cap-Go-Meh yang tidak wajib. Ada yang menggunakan sayur nangka, ada pula yang meninggalkannya. Hingga yang akan selalu ada pada lontong Cap-Go-Meh adalah lontongnya sendiri, opor ayam, dan sambal goreng lengkap. Opor ayam adalah daging ayam dimasak dengan kuah santan, berbumbu bawang merah/putih, ketumbar, merica, kemiri, kunyit, sereh, lengkuas, daun jeruk purut, gula, garam dan santan kelapa.

Yang disebut sambal goreng dalam menu Jawa Semarangan, sebenarnya juga bukan sambal, melainkan masakan dengan bahan: 1). hati sapi, kentang, tahu dan kerecek (kerupuk kulit); dan 2). hati/ampela ayam, udang kupas. Bumbunya bawang merah/putih, cabai merah, lengkuas, daun salam, asam jawa, gula merah, garam, dan santan kelapa. Dua macam sambal goreng ini juga berkembang dengan berbagai variasinya, termasuk yang berbahan daging kambing. Sebagai sayuran (tidak wajib), biasanya digunakan polong kapri dan petai.

Di beberapa restoran lontong Cap-Go-Meh, berbagai menu ini disajikan (dicampur) dalam satu mangkuk, dengan ditambah kerupuk udang, atau kerupuk bawang, lalu ditaburi bubuk kedelai goreng. Namun dalam menu yang dihidangkan dalam keluarga, masing-masing masakan ini tetap dibiarkan terpisah, dan mereka yang mau menyantapnya yang akan mengambil lontong, opor, sambal goreng, sayur nangka, dan sate abing sesuai dengan selera dan kemampuan menyantapnya. Sampai sekarang, keluarga etnis China asal Semarang, masih tetap setia menyajikan lontong Cap-Go-Meh dalam perayaan malam 15 hari setelah Imlek.

# # #

Kata Cap-Go-Meh sendiri berasal dari dialek Tio Ciu dan Hokkian, yang berarti malam ke 15. Dalam dialek Hakka, Cap-Go-Meh disebut Cang Njiat Pan, yang berarti pertengahan bulan satu. Dalam bahasa Mandarin, Cap-Go-Meh disebut  Yuan Xiau Jie yang artinya festival malam bulan satu. Cap-Go-Meh mulai dikenal dan dirayakan di Indonesia mulai abad ke 17 (tahun 1600an), ketika Belanda mendatangkan penduduk etnis China dari China daratan, untuk urusan bisnis di negeri jajahan mereka.

Di daratan China sendiri (sekarang RRC),  Cap-Go-Meh  diketahui mulai dirayakan semenjak dinasti  Zhou (770 – 256 SM).  Ketika itu, pada malam tanggal 15, bulan pertama, para petani akan memasang lampion yang disebut Chau Tian Can, dan menabuh peralatan musik, di lahan pertanian mereka. Tujuannya untuk mengusir penyakit dan hama perusak tanaman. Pada dinasti Han (206 SM – 220 M), Kaisar secara khusus akan keluar untuk ikut merayakan malam Cap-Go-Meh bersama masyarakat.

Pada perkembangan lebih lanjut, Cap-Go-Meh juga dirayakan dengan permainan Liong dan Barongsai. Tradisi ini oleh para imigran China terus dilanjutkan di tanah perantauan mereka, termasuk di Indonesia. Dan kemudian di Jawa, khususnya di Semarang, tradisi Cap-Go-Meh, ditambah dengan sebuah menu khas yang disebut lontong Cap-Go-Meh. Beda dengan kue keranjang yang hanya bisa dijumpai di sekitar Imlek, maka lontong Cap-Go-Meh, bisa dinikmati kapan saja di banyak restoran, sebagai menu sehari-hari. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s