KEMIRI SEBAGAI PENYELAMAT LAHAN KRITIS

Gambaran stereotip kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah kering dan gersang. Namun kenyataannya, banyak kawasan NTT yang hijau dan produktiv. Lereng pulau di kawasan NTT yang mendapat angin basah dari arah barat dan selatan, akan tampak hijau. Sementara lereng yang menghadap ke utara dan timur, kering dan gersang. Kawasan NTT yang gersang ini telah dihijaukan oleh Dinas Kehutanan dengan tanaman eukaliptus dan mete. Sebab hanya tanaman inilah yang bisa hidup baik di kawasan demikian.

Beberapa kawasan yang relatif basah di NTT, dihijaukan secara swadaya oleh masyarakat dengan kemiri, hingga  benar-benar menjadi hutan kemiri. Batang kemiri di hutan ini rata-rata berdiameter 70 cm. Dari kejauhan, hutan kemiri ini mudah dibedakan dengan eukaliptus atau mete. Sebab kawasan hutan kemiri akan tampak hijau, dengan pucuk tanaman berwarna keputihan. Sementara pada hutan eukaliptus, yang dominan hanya batangnya yang berwarna putih. Hutan kemiri ini berfungsi sebagai penyelamat lahan kritis, dan bisa dipanen buahnya.

Meskipun diameter batangnya rata-rata 70 cm, dengan ketinggian sampai 30 m, masyarakat NTT tidak kesulitan memanen kemiri. Sebab buah yang tua akan berjatuhan. Hingga yang disebut panen kemiri, sebenarnya hanya datang ke hutan kemiri tersebut, lalu memungut buah yang telah berjatuhan. Dalam satu buah ada dua biji kemiri yang bertempurung sangat keras. Sementara kulit dan daging buahnya akan segera hancur. Biji kemiri yang sudah terpisah dari buahnya ini, harus dijemur sampai kering, agar ketika tempurungnya dipecahkan, daging bijinya utuh.

# # #

Kemiri (Candlenut, Aleurites moluccana), adalah tumbuhan kepulauan tropis, yang tersebar mulai dari India sampai ke kepulauan Pasifik. Di Hawaii, kemiri adalah pohon nasional. Kemiri yang disebut kukui, adalah pemberi terang, perlindungan, dan perdamaian. Masyarakat Hawaii percaya bahwa kemiri adalah penjelmaan dewa babi. Sebutan candlenut pada kemiri, berasal dari Hawaii. Dulu, di kepulauan pasifik, biji kemiri berfungsi sebagai lampu. Biji yang sudah dikupas tempurungnya, ditusuk dengan lidi dan dibakar. Satu biji kemiri akan habis selama 15 menit.

Satu lidi yang diberi 6 biji kemiri, akan terbakar dalam waktu 1,5 jam. Hingga untuk penerangan selama 12 jam, diperlukan 8 lidi dengan masing-masing 6 biji kemiri, atau total 48 butir biji kemiri. Namun kemiri pada umumnya lebih banyak digunakan sebagai bumbu, dan kosmetik. Di Indonesia, kemiri adalah bumbu sayuran yang cukup penting. Selain itu kemiri juga digunakan untuk sourtening, yakni membuat gorengan menjadi lebih renyah. Tepung untuk menggoreng tempe, biasanya diberi kemiri. Selain akan membuat rasa tempe menjadi lebih gurih, kemiri juga akan menjadikan tepung menjadi lebih renyah dan tidak lembek.

Dalam dunia kosmetik, kemiri dikenal sebagai penumbuh, penyehat, dan penghitam rambut yang handal. Secara tradisional, masyarakat membakar kemiri sampai hangus, daging buah yang telah hangus itu diambil, dihancurkan hingga menjadi pasta minyak, lalu dioleskan ke rambut dan kulit kepala. Dalam industri kosmetik modern, daging buah kemiri terlebih dahulu diambil minyaknya. Minyak inilah yang kemudian digunakan sebagai bahan kosmetik. Saat ini produsen minyak kemiri  candlenut oil utama di dunia adalah Hawaii. Permintaan minyak kemiri di pasar dunia, volumenya sangat terbatas. Hingga candlenut oil produksi Hawaii, sebagian besar hanya dimanfaatkan di dalam negeri sendiri.

Kemiri tua yang akan diremajakan, masih menghasilkan kayu. Kayu kemiri berwarna putih dan lunak, tidak liat, tidak mudah pecah, terksturnya halur dan ringan. Karena sifatnya ini, kayu kemiri merupakan bahan terbaik untuk kerajinan topeng. Dalam volume massal, kayu kemiri juga bisa diolah menjadi pulp. Tetapi potensi terbesar untuk bahan partisi. Jepang, sebagai negeri yang paling sering diguncang gempa, sangat menyenangi kayu kemiri sebagai dinding dan partisi bangunan. Untuk keperluan ini, kualitas kayu kemiri lebih baik dibanding dengan albisia, gamelina, dan balsa. Hingga buah kemiri, sebenarnya hanya hasil sampingan sebelum kayunya  dipanen.

# # #

Menanam kemiri harus dari benih biji. Sebab tanaman ini tidak bisa dicangkok atau setek. Biji kemiri bisa tumbuh secara alami di bawah tegakan tanaman. Semai yang tumbuh alami ini bisa dicabut, dan ditanam di lokasi lain. Selain mengambil benih cabutan, kemiri juga bisa disemai secara massal di bedeng pesemaian. Benih kemiri berupa biji, harus diamplas bagian ujungnya, tempat lembaga akan tumbuh, agar perkecambahan bisa berlangsung lebih cepat. Bedeng penyemaian kemiri lebih ideal dibuat di bawah tegakan tanaman tua. Kompos untuk bedeng penyemaian, paling baik terbuat dari daun-daun kemiri.

Setelah semaian ini mencapai ketinggian 1 sd. 1,5 m, baru bisa dicabut dan dipindahkan ke lapangan. Pencabutan dan pemindahan semai, dilakukan pada awal musim penghujan. Di NTT, curah hujannya sangat rendah, dalam waktu hanya tiga bulan. Karenanya, pencabutan semai dan penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan. Hingga pada musim kemarau nanti, tanaman sudah cukup kuat. Petani NTT biasanya terlebih dahulu menghijaukan lahan kriris mereka dengan kaliandra. Setelah kaliandra rimbun, sebagaian dipanen sebagai kayu bakar. Bekas tebangan kaliandra ini, kemudian ditanami semai kemiri.

Kemiri adalah tumbuhan yang benar-benar bandel. Selain tahan kering, tanaman ini juga sama sekali tidak memerlukan perawatan. Baik pemupukan, maupun pemberantasan hama serta penyakit. Sebab kemiri sama sekali tidak punya hama dan hampir tidak pernah terserang penyakit. Tajuk kemiri sangat rumbun dan rapat. Hingga lahan di bawah tegakan kemiri sama sakali tidak mungkin ditanami komoditas lain. Daun kemiri lebar, tebal dan tumbuh sangat lebat. Hingga daun-daun tua yang jatuh, akan menyuburkan lahan di bawahnya. Itulah sebabnya kemiri sangat cocok sebagai penyelamat lahan kritis dan sekaligus penekan emisi karbon di udara. (R) # # #

One thought on “KEMIRI SEBAGAI PENYELAMAT LAHAN KRITIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s