ALGAE SEBAGAI PEREDAM EMISI CO2

Planet bumi ini, permukaan lautnya lebih luas dibanding dengan datarannya. Demikian pula halnya dengan Indonesia. Hingga upaya menurunkan emisi CO2 di atmosfir bumi dalam rangka meredam pemanasan global, akan lebih efisien dilakukan di laut, dari pada di daratan. Selama ini kita sering mendengar bahwa ikan paus, mamalia terbesar di planet ini, makanannya justru plankton yang berukuran mikro. Ikan paus tentu akan punah kalau populasi plankton di laut tidak melimpah ruah. Ada dua macam plankton, yakni zooplankton (hewan bersel satu), dan phytoplanton (tumbuhan bersel satu).

Phytoplankton adalah salah satu bentuk algae (seaweed), yang kemampuannya melahap CO2 memang luarbiasa. Karena hanya bersel satu, phytoplankton sangat efisien menyerap air, nutrisi, termasuk limbah laut, dan CO2. Kemudian dengan bantuan sinar matahari, ia akan mengubah air, nutrisi dan CO2 itu menjadi karbohidrat dan protein. Phytoplankton inilah kemudian yang dimakan oleh zooplankton, dan mereka menjadi santapan utama ikan paus, serta semua hewan laut yang herbifora. Selain phytoplanton, algae bersel satu lainnya adalah microalgae, microphytes, planktonic algae atau cyanobacteria.

Namun algae tidak hanya bersel satu. Ada algae yang disebut rumput laut. Tumbuhan laut yang satu ini sudah dibudidayakan manusia, dan diolah menjadi makanan yang disebut agar-agar. Selain rumput, algae juga ada yang berupa semak, terdiri dari pita selebar 10 cm, dengan panjang mencapai belasan meter. Algae juga bisa hidup di air payau dan tawar. Tambak dan empang ikan, setelah dikeringkan, diberi pupuk, dan kemudian kembali digenangi air, akan berwarna hijau atau cokelat. Itulah algae. Algae bahkan ada yang bisa hidup tidak di air, tetapi bersimbiosis dengan lumut yang hidup di batu atau batang pohon.

# # #

Algae bersel satu sangat efektif menyerap air, nutrisi, CO2 dan sinar matahari, justru karena kesederhanaannya. Tumbuhan berupa pohon, harus mengambil air dan nutrisi jauh dari dalam tanah, melalui akar. Dari akar, air dan nutrisi itu dialirkan melalui batang, cabang, dan ranting, menuju daun. Daun kemudian menyerapCO2 langsung dari udara. Kemudian dengan bantuan sinar matahari,daun berfotosintesis untuk mengubah air, nutrisi, dan CO2 itu menjadi karbohidrat serta protein, untuk selanjutnya didistribusikan ke seluruh bagian tumbuhan itu. Birokrasi dalam tumbuhan berupa pohon, menjadi sangat rumit dan lamban.

Pada algae bersel satu di laut, air, nutrisi dan CO2 langsung diambil dari sekitar sel tersebut. Begitu berada dalam jaringan sel, air, nutrisi, dan CO2 langsung diubah menjadi karbohidrat, dan protein dengan bantuan sinar matahari. Proses ini bisa berlangsung dalam hitungan menit, bahkan detik. Setelah itu, sel algae itu akan membelah diri menjadi dua, dan segera menyerap air, nutrisi, CO2, serta berfotosintesis. Karena cepatnya proses pertumbuhan, maka populasi algae di laut dangkal yang subur, menjadi sangat berlimpah.

Algae bersel satu ini juga merupakan makanan utama udang kril (udang yang sangat kecil). Populasi udang kril di Pasifik Tenggara misalnya, sangat melimpah, karena algae Phytoplanton dan zooplankton di sana juga tumbuh subur. Udang kril inilah yang kemudian dipanen sebagai “tepung ikan” untuk bahan pakan unggas serta ikan, dan ternak ruminansia. Hingga secara tidak langsung, ketika orang makan ikan mas, telur atau daging ayam, susu dan beefsteak, sebenarnya mereka telah menyantap algae. Sebab konsentrat pakan ternak itu selalu terdiri dari jagung, bungkil, serta tepung ikan yang sebenarnya udang kril.

Efisiensi dan efektifitas algae dalam mengubah air nutrisi, terutama NPK, CO2, menjadi karbohidrat dan protein, bisa digambarkan melalui perbandingan ini. Dari tiap hektar lahan kebun jarak, dalam satu tahun hanya akan dihasilkan 1.500 liter minyak (biofuel). Kelapa menghasilkan 2.200 liter minyak. Sawit 5.500 liter minyak. Algae bersel banyak 40.000 liter minyak, dan algae bersel satu 90.000 liter minyak. Itulah sebabnya ikan paus yang memakan phytoplankton serta zooplankton, bisa menjadi mamalia raksasa, yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari lamak (minyak).
Hingga potensi algae, sebagai sumber BBM, menjadi paling unggul.

# # #

Indonesia yang wilayahnya lautnya lebih luas, sebenarnya sangat berpotensi membudidayakan algae. Tujuannya untuk meredam emisi karbon, sekaligus menghasilkan BBM. Saat ini, Jepang telah mengembangkan satu juta hektar “kebun algae” di laut dangkal Yamatotai. Perancang proyek ini Universitas Teknologi dan Ilmu Kelautan Tokyo, bersama Mitsubishi. Mereka memperkirakan dari kebun algae ini akan dihasilkan 5,3 milyar galon bioethanol per tahun. Itu merupakan 33% dari kebutuhan BBM Jepang. Hampir semua negara maju di dunia, saat memang tengah berlomba-lomba mengembangkan algae.

Namun sampai sekarang, belum ada upaya penelitian, apalagi pengembangan budidaya algae secara serius. Bahkan banyak pejabat kita yang belum tahu, apa itu algae. Ketika mendengar informasi tentang komoditas ini, yang disampaikan justru keraguan mereka: “Apakah benar ada komoditas sehebat itu?” Sebab tampaknya, para pengambil keputusan di negeri ini, sudah terlebih dahulu diberi informasi tentang jarak, yang cenderung dihebat-hebatkan. Padahal sehebat-hebatnya jarak, hasilnya hanya 1.500 liter minyak per hektar per tahun. Jauh di bawah sawit yang mencapai 5.500 liter, terlebih algae yang paling sedikit mampu memroduksi minyak sebesar 40.000 liter.

Budidaya algae, paling murah dilakukan di sebuah atol, yakni pulau karang yang berbentuk tipis dan melengkung. Perairan di bagian tengah atol inilah yang digunakan sebagai lahan budi daya algae. Bisa pula budidaya dilakukan di sebuah teluk, yang dangkal. Itu kalau yang dibudidayakan algae bersel satu. Kalau yang dibudidayakan algae pita, lahannya bisa laut lepas yang tidak perlu dibendung menjadi kolam raksasa. Yang dikembangkan oleh Jepang adalah algae bersel banyak yang berbentuk pita. Meskipun biaya untuk membendung teluk atau atol cukup tinggi, namun masih murah jika dibandingkan dengan pembebasan lahan di daratan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s