PELUANG BUDI DAYA KECIPIR

Dulu, polong muda kecipir hanya dijual di pasar-pasar tradisional, terutama di Jawa. Sekarang, komoditas ini sudah masuk ke pasar swalayan besar di Jakarta. Selain kecipir, “sayuran kampung” lain juga ikut naik daun. Misalnya pucuk labu siam, jantung pisang, daun pepaya, genjer, kenikir, leunca, dan daun kacang panjang. Sayuran kampung ini bisa naik daun, sebab penghuni metropolis Jakarta, umumnya juga berasal dari kampung. Selain itu masyarakat kota besar pada umumnya sudah mulai sadar, bahwa sayuran kampung ini justru lebih sehat dari sayuran modern, karena tidak diberi pupuk kimia dan disemprot pestisida.

Masuknya produk sayuran kampung seperti kecipir ke pasar swalayan, telah mendorong para petani untuk membudidayakannya secara kontinu. Sebab pasar swalayan, menuntut pasokan sayuran segar dalam volume yang sangat terbatas, tetapi harus selalu ada setiap harinya. Hingga pasokan sayuran kampung tersebut, tidak mungkin hanya mengandalkan budidaya secara tradisional. Oleh masyarakat pedesaan, kecipir hanya dibudidayakan berdasarkan musim. Mereka menabur biji di bawah tegakan pohon, atau di pagar kebun pada awal musim penghujan, dan akan mulai panen polong muda tiga bulan kemudian.

Budidaya secara tradisional demikian, tidak mungkin mampu memasok pasar swalayan. Sebab pada musim kemarau dan awal musim penghujan, pasti tidak ada pasokan. Itulah sebabnya diperlukan budidaya secara modern, hingga panen bisa dilakukan minimal setiap minggu, sepanjang tahun. Hingga pasar swalayan juga bisa memperoleh pasokan setiap minggu sepanjang tahun. Sayuran yang daya serap pasarnya tinggi, bahkan memerlukan pasokan yang lebih sering lagi, misalnya setiap lima atau tiga hari sekali. Itulah sebabnya, petani juga harus menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar.

# # #

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), juga disebut winged bean, goa bean, atau di Malaysia dinamakan kacang botol. Disebut winged bean, karena polong kecipir berpenampang melintang segi empat, dengan “sayap” di ke empat sisinya. Disebut goa bean, karena orang Inggris melihat kecipir banyak dibudidayakan di Goa, India. Meskipun sebenarnya kecipir berasal dari Papua Nugini. Yang tidak terlalu jelas adalah sebutan kacang botol di Malaysia. Sebab bentuk polong kecipir, sama sekali tidak mendatangkan asosiasi bentuk botol. Lain dengan labu botol, yang bentuk buahnya memang sangat mirip dengan bentuk botol.

Selain polong mudanya, seluruh bagian tanaman kecipir, bisa dikonsumsi. Mulai dari daun muda (pucuk), bunga, biji, sampai ke umbinya biasa dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan. Pucuk daun dan bunga, terutama yang belum mekar, biasa dikukus untuk dijadikan urap, atau disayur bobor. Biji dari polong yang sudah mengering, bisa disangrai dan dikonsumsi sebagai “nut”, bisa untuk campuran sayur lodeh, bahkan bisa ditepungkan, untuk dimasak menjadi berbagai menu. Biji kecipir juga sering diberi zat pewarna hijau, dan digoreng lalu dikemas sebagai “kacang kapri”. Potensi biji ini masih lebih banyak lagi, antara lain untuk bahan kecap, dan bungkil pakan ternak.

Tanaman kecipir juga menghasilkan umbi. Bentuk umbi tidak beraturan, tetapi ukurannya cukup besar, dengan penampang sekitar 15 cm. Rasa umbi kecipir mirip dengan kentang. Pada budidaya kecipir secara tradisional, umbi ini biasa dipanen pada akhir musim kemarau, ketika tanaman mulai mati. Sebenarnya pada musim kemarau, tanaman kecipir tidak mati, melainkan masuk ke fase dorman (istirahat). Kalau umbi kecipir tidak diambil, maka pada awal musim penghujan tanaman akan tumbuh kembali, dan berproduksi lebih besar dibanding panen tahun pertama. Namun pada musim kemarau berikutnya, umbi sudah tidak bisa dipanen karena kemungkinan akan berkayu atau menjadi seperti gabus.

Karena umbi ini akan terus bisa bertahan di dalam tanah, maka para petani tradisional cukup menanam kecipir sekali. Pada musim kemarau tanaman akan masuk masa dorman, lalu pada musim penghujan kembali tumbuh dan berproduksi. Biasanya tanaman kecipir dibiarkan merambat secara liar pada pagar kebun, atau pada tanaman lain. Misalnya lamtoro. Oleh masyarakat, kecipir akan dipanen daun, bunga, dan polong mudanya, sekaligus. Para petani juga biasa membudidayakan kecipir dengan koro (keratok, Phaseolus lunatus), yang juga akan dipanen polong mudanya. Pada musim kemarau, petani akan memanen polong kering untuk diambil bijinya.

# # #

Untuk bisa memasok pasar swalayan secara kontinu, petani tidak mungkin hanya mengandalkan budidaya secara tradisional. Hingga kecipir harus dibudidayakan pada lahan yang dibentuk menjadi bedengan, dan diberi ajir sebagai rambatan. Biasanya kecipir dibudidayakan bersamaan dengan pare, terutama pare pahit (Momordica charantia), ketimun (Cucumis sativus) dan oyong (Luffa acutangula). Kalau budidaya kecipir secara tradisional cukup dilakukan sekali, dan tiap musim hujan umbinya akan menumbuhkan tanaman baru, maka budidaya kecipir secara modern dilakukan setiap bulan secara bergiliran pada bedeng yang berbeda.

Tujuan budidaya dengan populasi terbatas, tetapi secara rutin setiap satu atau dua bulan sekali, adalah agar dihasilkan panen secara kontinu. Hingga lahan untuk  budidaya sayuran secara modern, mutlak memerlukan irigasi teknis. Sebab pada musim kemarau, tanaman tidak mungkin hidup tanpa adanya air irigasi. Para petani biasanya memanfaatkan lahan sawah, setelah panen pertama atau panen kedua, untuk budidaya sayuran. Para petani di pinggiran kota besar, memanfaatkan air sungai atau kanal, untuk mengairi tanaman mereka. Kebanyakan petani menyiram tanaman sayuran ini secara manual dengan gembor. Meskipun sudah banyak pula petani yang menggunakan pompa sedot.

Sama dengan pare, oyong, dan ketimun, kecipir harus diberi ajir untuk rambatan. Namun beda dengan tiga sayuran ini, kecipir memanjat dengan cara membelit. Bukan dengan akar panjat. Pada umur tiga bulan sejak tanam, polong muda sudah mulai bisa dipanen. Panen akan berlangsung terus tiga sampai dengan empat bulan kemudian, sebelum tanaman masuk ke masa dorman. Ketika itulan tanaman kecipir harus dibongkar untuk dipanen umbinya. Panen akan terus berlangsung dari bedeng-bedeng lain, hingga dalam satu tahun, petani tetap akan bisa menghasilkan panen untuk memasok pasar swalayan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s