SAIMIN DARI HAWAII

Di Jalan Keeaumoku, Honolulu, Hawaii, ada sebuah neon sign besar, dengan tulisan : Likelike Drive Inn’s, Saimin. Orang Indonesia, terlebih orang Jawa, akan mengira bahwa restoran ini milik “Saimin”. Ternyata, Saimin adalah menu khas Hawaii, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama Jawa. 

Di Likelike Drive Inn’s, orang bisa menikmati “home cooked saimin“, yang sudah dibuat sejak 1953. Restoran ini buka selama 24 jam penuh, hingga  para ABG Hawaii, senang sekali ngedugem di sini, sambil menyantap saimin. Di Hawaii, saimin tidak hanya bisa dinikmati di Likelike Drive Inn’s, tetapi juga di Washington Saimin di Oahu, Hamura’s Saimin di Kauai, bahkan juga di McDonald’s. Saimin sudah menjadi “menu nasional” Hawaii, yang masyarakatnya multiras, dan multikultural. Beda dengan “poe” dari talas, yang merupakan menu penduduk asli.

Wujud saimin adalah mi kuah, sepintas mirip dengan udon (Jepang), mein (China), dan pancit (Filipina). Mi saimin sama dengan mi telor kita (bukan mi basah, bukan mi instan). Kemudian dalam mi kuah itu dimasukkan bawang daun, sawi putih (bok choy), kamaboko (produk olahan daging ikan dari Jepang), Char siu (irisan daging babi panggang), potongan korned (merk “Spam” merupakan pilihan utama), linguiça (saus/kecap Portugis), dan ditambah nori (rumput laut jepang). Semua itu disajikan dalam keadaan panas, dengan nama saimin.

Nama saimin sendiri tidak ada kaitannya dengan orang Jawa, karena berasal dari kosakata bahasa Mandarin , atau bahasa Kanton sai, dengan miàn (Mandarin), atau mein (Kanton). Xi atau sai artinya berkuah, dan miàn, atau mein, artinya mi. Jadi arti harafiah saimin adalah mi kuah, tetapi bukan sembarang mi kuah. Pertama, saimin benar-benar orisinil Hawaii, hingga tidak ada menu Jepang, Korea, atau RRC, yang sama dengan Saimin. Kedua, saimin bukan sekadar masakan, tetapi juga semacam semangat kebersamaan, di antara berbagai etnis di Hawaii.

# # #

Sejarah saimin dimulai pada awal abad XX. Ketika itu Hawaii adalah koloni AS, berupa perkebunan tebu, dan nanas. Tenaga kerjanya terdiri dari penduduk asli Hawaii sendiri, dan imigran dari Jepang, China, Korea, Filipina, dan Portugis. Kehidupan para buruh perkebunan ini cukup keras. Mereka bersama-sama tinggal di barak, dan berkomunikasi satu sama lain dengan Bahasa Inggris pasaran (Hawaii Pidgin English, Hawaii Creole English). Awalnya, masing-masing keluarga sepulang dari bekerja di kebun seharian, memasak sendiri-sendiri.

Agar bisa menghemat, mereka memutuskan untuk memasak secara kolektif. Masing-masing keluarga lalu shere apa saja yang mereka miliki. Kebetulan keluarga Filipina punya bawang daun yang mereka tanam di pekarangan bedeng. Keluarga Portugis ikut andil berupa saus leftover. Keluarga Hawaii sendiri karena punya ayam, bisa menyumbang telur. Keluarga Korea mengirim bok choy, yang biasa mereka gunakan untuk masak kimchi. Dari sinilah lahir sebuah menu, yang merupakan cerminan dari semangat kebersamaan, dan kemudian bernama “saimin”.

Saimin mulai dikenal sebagai menu komersial di Stadion Honolulu, di jalan King and Isenberg. Waktu itu sedang ada pertandingan baseball, yang dengan dua “bintang” yakni Babe Ruth (George Herman Ruth, Jr. 1895-1948), dan Joe DiMaggio (Joseph Paul DiMaggio, 1914-1999).  Pada awal tahun 1990an, mereka adalah dua pemain baseball yang banyak fansnya, hingga stadion dibanjiri penonton, termasuk residen setempat. Ketika itulah untuk pertamakalinya masyarakat bisa mencicipi kelezatan saimin. Dan sejak itu saimin menjadi terkenal.

Saimin bisa menjadi sangat terkenal, bisa distandardisasi, bahkan bisa dijual franchise-nya, karena peran pemerintah Negara Bagian Hawaii. Pelan-pelan Hawaii meninggalkan perkebunan, dan masuk ke industri pariwisata. Kebun tebu, nanas, dan pisang, hanya disisakan sedikit untuk atraksi wisata. Saimin, yang merupakan “warisan” dari era perkebunan, telah dilestarikan pemerintah, dimoderenkan, dan dijadikan salah satu daya tarik Hawaii, bagi para wisatawan mancanegara. Hingga ada motto : Belum ke Hawaii, kalau belum menyantap saimin.

# # #

Setelah distandardisasi, dan di- franchise-kan, saimin juga dikenal di luar Hawaii. Menu khas Hawaii ini sekarang bisa dijumpai di negara bagian Chicago, Illinois; Las Vegas, Nevada; Los Angeles, California; San Francisco, dan Washington (Seattle). Bahkan sekarang saimin juga sudah keluar dari negara AS, karena bisa dijumpai di Jepang dan Inggris. Di restoran cepat saji McDonald’s Hawaii, saimin juga tetap menjadi menu favorit, berdampingan dengan hamburger, hotdog, ayam goreng, dan menu-menu internasional lainnya.

Masuknya saimin di restoran cepat saji McDonald’s Hawaii, juga merupakan sebuah inovasi. Sebelumnya, McDonald’s hanya menyajikan burger, ayam goreng, frenchfries, dan softdrink. Di Hawaiilah untuk pertamakalinya McDonald’s, menyajikan menu lokal, dan laris manis. Sejak itu, McDonald’s, juga mulai menyajikan menu-menu lokal di outlet-outlet besarnya. Bahkan kemudian Ajinomoto, sebuah perusahaan MSG terkenal di Jepang, menyusun resep dan bumbu jadi untuk standardisasi saimim.

Indonesia, sebenarnya kaya menu. Masyarakatnya juga sangat inovatif. Masing-masing daerah pasti punya menu andalan, dan beberapa di antaranya bisa menjadi menu nasional. Masakan padang adalah salah satunya. Tetapi tidak pernah ada upaya, dari pihak manapun, untuk membuat standardisasi. Mi bakso juga sudah menjadi menu nasional. Tetapi tidak pernah ada upaya untuk membuat sebuah standar, hingga orang makan bakso dimana pun di Indonesia, rasanya akan tetap sama. Tampaknya kita memang harus belajar dari saimin, dari Hawaii. (R) # # #

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s