PELUANG PEMANFAATAN PEWARNA ALAMI

Permintaan kunyit (Curcuma domestica) dari Uni Eropa, khususnya dari Jerman, tidak pernah bisa kita penuhi dengan baik. Uni Eropa memerlukan kunyit, untuk bahan pewarna alami, terutama pewarna makanan. Sebab Masyarakat Uni Eropa semakin sadar, bahwa pewarn alami untuk produk makanan, jauh lebih sehat dibanding dengan pewarna dari bahan-bahan sintetis. Indonesia, dan juga negara-negara tropis pada umumnya, sebenarnya merupakan gudangnya tumbuh-tumbuhan penghasil zat warna alami. Baik untuk pewarna makanan, juga untuk bahan pakaian.

Sayangnya, produsen pangan Indonesia, sekarang justru beralih ke zat warna sintetis. Sementara masyarakat negara maju justru mencari bahan pewarna alami, seperti kunyit. Para produsen tapai ketan misalnya, dulunya menggunakan daun suji (Pleomele angustifolia). Awalnya, daun suji digunakan dalam proses pembuatan tapai ketan, bukan sebagai pewarna.  Sari daun suji digunakan sebagai penghambat pertumbuhan kapang Acetabecter aceti, dan pemacu pertumbuhan kapang Saccharomyces cerevisiae, agar tapai tidak menjadi masam.

Sebenarnya, baik tapai ketan hitam maupun ketan putih, dulunya menggunakan sari daun suji. Pada ketan hitam, ekstrak daun suji tidak menimbulkan efek warna. Sebab warna hijau daun suji akan kalah oleh warna ketan hitam. Lain halnya ketika daun suji ini digunakan untuk tapai ketan putih. Warna hijau daun suji akan membuat tapai ketan putih itu mejadi kehijauan. Para produsen tapai sekarang, mengira bahwa daun suji hanyalah pewarna. Karena warna hijau daun suji pada tapai tampak kusam, mereka menggantinya dengan pewarna sintetis.

# # #

Sinetron Indonesia yang menceritakan jaman Majapahit, menampilkan para tokoh yang bajunya warna-warni. Padahal, jaman Majapahit hanya mengenal warna putih, merah saga (kecokelatan), biru indigo, hitam, kuning, dan biru muda. Putih adalah warna serat kapas, merah saga berasal dari kulit kayu soga (Peltophorum pterocarpum), biru indigo dari tarum daun (Indigofera arrecta), tarum akar (Marsdenia tinctoria), tarum hutan (Indigofera gelegoides), dan tarum bunga (Indigofera suffruticosa).

Warna hitam, dan wulung (ungu kehitaman), diperoleh dari pencelupan kain putih, dengan warna soga, kemudian dicelup ulang dengan warna tarum. Warna kuning biasanya diperoleh dari akar kayu secang (Caesalpinia sappan), kayu nangka (Artocarpus heterophyllus) dan masih banyak lagi. Warna putih, kuning, dan biru muda pada kain yang dikenakan raja, bangsawan dan orang-orang kaya, merupakan warna asli kokon ulat sutera (Bombyx mori).  Warna merah cerah seperti warna bendera merah putih kita, sama sekali tidak dikenal pada jaman Majapahit.

Sampai sekarang, banyak etnis Indonesia yang merebus telur ayam, dengan daun jambu kelutuk, untuk memperoleh warna cokelat gelap. Mungkin karena faktor adat yang masih sangat kuat, hingga masyarakat tidak berani mengganti daun jambu kelutuk ini dengan zat pewarna lain. Sebab telur rebus yang diberi warna cokelat, biasanya digunakan dalam pesta adat. Sebab para perajin kue tradisional yang diperdagangkan, umumnya sudah tidak mau lagi menggunakan zat warna alami. mereka cenderung memilih pewarna sintetis.

Padahal, pewarna alami digunakan oleh nenek moyang kita, bukan sekadar agar mekanan menjadi lebih menarik, melainkan karena ada fungsi utama yang akan dicapai. Misalnya daun suji pada tapai ketan putih seperti telah disebut di atas. Hingga nasi, dan tahu kuning, yang diberi kunyit, pertama-tama bukan agar tampak lebih menarik, melainkan agar tidak cepat basi. Penggunaan kunyit pada waktu menggoreng ikan, ayam, dan daging kare, bukan agar masakan tampak lebih cerah, melainkan agar bau amis hilang.

# # #

Agroindustri zat warna alami sebenarnya punya prospek yang cukup baik di masa mendatang. Sebab masyarakat di negara maju, bersedia membayar dengan harga tinggi, produk-produk pewarna alami ini. Produk pewarna alami yang peluangnya  paling besar adalah, yang akan digunakan untuk pewarna makanan, minuman, dan obat-obatan. Peluang kita menjadi lebih besar lagi, sebab tumbuh-tumbuham penghasil pewarna alami di negeri kita, variasinya cukup banyak. Warna kuning misalnya, bukan hanya bisa didapat dari rimpang kunyit.

Selain menggunakan pewarna alami, yang berasal dari luar, makanan atau minuman tersebut juga bisa sudah punya warna alami yang cukup menarik. Gula merah dan kakao misalnya, bisa menghadirkan makanan atau minuman yang berwarna kecokelatan secara alami, tanpa tambahan zat warna apa pun. Ubi jalar ada yang berwarna oranye kemerahan, kuning, bahkan juga ungu. Cake atau menu lain dari ubi jalar, tentu tidak memerlukan warna tambahan apa pun, karena warna ubi itu sendiri sudah cukup menarik.

Pewarna alami tidak harus digunakan dengan cara tradisional, seperti halnya pada perebusan telur dengan daun jambu kelutuk. Sebab zat warna pada akar, umbi, kulit batang, kayu, daun, bunga, buah, dan biji tumbuhan, bisa diisolasi, kemudian distabilkan, dikemas, dan dipasarkan sebagai zat warna alami. Agroindustri pewarna alami, termasuk padat karya. Sebab mulai dari budidaya, panen, pasca panen, sampai ke prosesing menjadi bahan setengah jadi, akan melibatkan tenaga kerja secara massal. Kalau produk ini diekspor, nilai tambahnya juga cukup besar. (R) # # #

2 thoughts on “PELUANG PEMANFAATAN PEWARNA ALAMI

  1. Terima kasih untuk pencerahannya..
    Mohon Informasi lebih lanjut mengenai potensi industri zat pewarna alam. Industri yang sudah eksis, UKM yg bergerak dibidang ini atau kontak person yg bisa dihubungi terkait dengan pewarna alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s