PELUANG BUDI DAYA KACANG HIJAU

Kacang hijau adalah komoditas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat metropolis, urban, sub urban, dan juga pedesaan. Komoditas ini dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah, menengah dan atas sekaligus. Namun tanaman kacang hijau sendiri kurang dikenal oleh masyarakat. Budidaya kacang hijau juga tidak sepopuler budidaya kacang tanah atau kedelai. Harga kacang hijau sangat stabil. Tidak pernah ada lonjakan permintaan luarbiasa, hingga harga naik. Sebaliknya juga tidak pernah ada suplai yang luarbiasa, hingga harga jatuh. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan rumit, dan relatif tahan hama serta penyakit.

Pemanfaatan biji kacang hijau juga sangat luas. Mulai dari dimasak langsung menjadi bubur, dicampurkan pada beras dan jagung sebagai makanan pokok, dijadikan isi kue (onde-onde), untuk dessert, es krim, dan terakhir sebagai bahan sayuran (tauge). Cara mengkonsumsi tauge pun juga sangat beragam. Mulai untuk urap, pecel, soto, rawon (khusus kedelai pendek), bakwan, tahu isi, cah tauge, sampai ke tauge goreng khas Bogor. Dengan variasi menu yang sangat luas, tauge menjadi sayuran wajib yang harus ada setiap hari di pasar tradisional, tukang sayur keliling, warung di gang-gang sempit, sampai ke pasar swalayan besar.

Kacang hijau (Vigna radiata (L.) R. Wilczek), adalah spesies kacang-kacangan yang dulunya dikategorikan sebagai genus Phaseolus, kemudian direvisi masuk ke genus Vigna. Meskipun sampai sekarang, kacang hijau masih sering disebut sebagai Phaseolus aureus atau Phaseolus radiatus. Dalam perdagangan internasional, kacang hijau disebut sebagai mung bean, mung dal, moong dal, mash bean, munggo atau monggo, green gram, golden gram, dan green soy. Sebutan “mung” dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa Hindi mung, yang di Filipina menjadi munggo atau monggo. Kita menyebutnya sebagai kacang hijau, karena warna kulit bijinya yang hijau tua.

# # #

Budidaya kacang hijau, persis sama dengan budidaya kedelai. Meskipun tingkat kesulitan dan kerewelan tanamannya, lebih tinggi kedelai. Ada dua lokasi  budidaya kacang hijau. Pertama budidaya di lahan tegalan (ladang), kedua budidaya di lahan sawah. Budidaya di lahan tegalan, juga ada dua waktu. Pertama budidaya di lahan tegalan pada akhir musim tanam jagung. Ini hanya bisa dilakukan, di kawasan dengan panjang musim hujan 4 sd. 5 bulan. Misalnya di Jawa Barat. Jagung ditanam pada awal musim penghujan, yang jatuh pada bulan Oktober atau November. Hingga pada bulan Februati atau Maret, jagung sudah bisa dipanen.

Ketika itulah petani nenugal dan menebar benih kacang hijau, pada bekas lahan jagung. Biasanya di kawasan basah seperti ini, hujan baru akan berakhir pada bulan Mei. Hingga kacang hijau masih cukup mendapatkan hujan, untuk bisa tumbuh baik dan dipanen hasilnya. Cara kedua, menanam kacang hijau di ladang, bersamaan dengan penanaman padi ladang, jagung dan lain-lain. Ini dilakukan, terutama di kawasan yang curah hujannya hanya tiga bulan dalam setahun. Hingga panen kacang hijau, dan jagung, justru terjadi lebih awal daripada padi ladang (4 sd. 5 bulan, dan keladi serta singkong (9 bulan).

Budidaya kacang hijau di lahan sawah berpengairan teknis, hanya cocok dilakukan pada bulan Juni atau Juli, yakni setelah panen padi gadu (padi musim tanam kedua). Di kawasan-kawasan tertentu, pada bulan Juni dan Juli, volume air sudah tidak memungkinkan untuk budidaya jagung, terlebih lagi padi. Tetapi tanah sawah  masih terlalu basah, hingga sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan ditanami sesuatu. Budidaya kacang hijau (juga kedelai), dilakukan dengan tanpa mengolah lahan. Cukup dengan menugal tanah di antara tonggak jerami, dan memasukkan butiran biji kedelai atau kacang hijau. Tidak lama kemudian, tanaman akan tumbuh.

# # #

Di kawan yang sangat kering, hingga penanaman padi sawah hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun, budidaya kacang hijau dilakukan dengan menyelipkan benih pada tonggak jerami. Ketika tanaman kacang hijau tumbuh, petani hanya tinggal menyisir rumput dan gulma di antara tonggak jerami, dan menumpuknya di sekitar tanaman kacang hijau yang baru saja tumbuh. Kelembapan tanah sawah masih cukup tinggi, hingga mampu menumbuhkan kacang hijau sampai bisa dipanen tiga bulan kemudian. Cara ini cukup menghemat, hingga biaya yang harus dikeluarkan petani untuk mengolah lahan menjadi nol.

Budidaya kacang hijau pada lahan sawah berpengairan teknis agak sedikit berbeda. Tanah sawah bekas tanaman padi atau jagung tetap tidak diolah. Cukup ditugal dan ditebari benih kacang hijau. Namun setelah benih tumbuh setinggi 10 sd. 15 cm, tanah di antara deretan tanaman kacang hijau itu dicangkul, dan ditimbunkan di sekeliling pangkal tanaman. Hingga jarak antar barisan kacang hijau itu akan terdapat alur parit selebar mata cangkul yang memanjang. Alur ini bermanfaat ketika petani menggenangi areal kacang hijau mereka, karena air irigasi akan cepat merambah seluruh petak lahan, tanpa kesulitan.

Sama halnya dengan kedelai, hama utama kacang hijau adalah ulat, yang akan memangsa daun maupun polong buah. Namun dengan memilih waktu budi daya yang tepat sesuai dengan karakteristik lahannya, hama ulat bisa ditekan keberadaannya. Beda dengan panen kedelai yang dilakukan dengan membabat tanaman mulai dari pangkal batang. Panen kacang hijau dilakukan dengan pemetikan polong yang sudah cukup tua, namun belum kering benar. Sebab polong yang sudah kering, akan pecah dan bijinya terlempar ke mana-mana. Polong yang dipetik kemudian dijemur sampai pecah, dan biji serta kulitnya dipisahkan dengan cara ditampi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s