BUDIDAYA BUNGA GLADIOL

Gladiol (Gladiolus), adalah tanaman bunga yang hanya dibudidayakan sebagai bunga potong (cut flower). Gladiol hampir tidak pernah dibudidayakan sebagai tanaman hias pot, atau sebagai elemen taman. Di halaman-halaman rumah di pedesaan di kawasan pegunungan, memang sering tampak tanaman gladiol di halaman rumah mereka. Tetapi gladiol tidak pernah secara formal dijadikan sebagai elemen taman, oleh para perancang eksterior lanskap. Terlebih dijadikan bunga pot seperti halnya krisan sprai. Sebaliknya, bunga gladiol sangat populer sebagai bunga potong, karena beberapa alasan.

Pertama, sosok bunga gladiol menunjukkan karakter kuat, dengan variasi warna yang kaya. Mulai dari putih bersih, merah cerah, pink, ungu, sampai ke merah gelap. Ukuran tangkai dan kelopak bunga sangat besar, hingga gladiol menjadi populer untuk menghias ruangan besar. Kuntum-kuntum gladiol aneka warna itu, tumbuh pada tangkai bunga yang memanjang dan kekar, dengan ujung tangkai meruncing. Karakter ini menunjukkan suasana gagah dan formal. Hingga pesta-pesta besar, atau perayaan keagamaan (Kristen, Katolik), senang menggunakan gladiol, sebagai hiasan meja, altar, dan sudut-sudut ruangan.

Sebelum krisan sprai dibudidayakan secara massal pada awal tahun 1990an, maka bunga potong yang paling banyak dibudidayakan adalah gladiol. Sentra budidaya gladiol terbesar di Indonesia, adalah kawasan Bandungan dan sekitarnya, di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kawasan wisata di lereng selatan Gunung Ungaran ini memang terkenal sebagai penghasil sayuran dataran tinggi, dan bunga potong. Termasuk bunga lily, yang dibudidayakan secara tradisional di antara tanaman jagung, singkong, keladi, dan bunga mawar di tepi petakan terasering. Krisan tunggal pun, hanya dihasilkan dari kawasan ini.

# # #

Nama gladiol sendiri berasal dari bahasa latin gladius, yang berarti pedang. Istilah gladiator yang sangat terkenal itu, juga berasal dari kata gladius, yakni orang yang bertarung memakai pedang di arena amphiteater pada jaman Romawi Kuno. Baik pertarungan antar gladiator, maupun antara gladiator dengan binatang buas. Bunga ini diberi nama gladius, yang kemudian menjadi gladiolus, karena daunnya mirip dengan bentuk pedang. Pipih kaku, salah satu tepinya tajam, dan ujungnya meruncing. Hingga kemudian bunga gladiol juga disebut sebagai sword lily (lili pedang), sampai sekarang.

Munculnya sebutan gladiol bagi bunga ini, sangat terkait dengan habitat aslinya, serta kultur Romawi Kuno yang sangat mengandalkan pedang bagi para tentara mereka. Habitat asli gladiol memang di sekitar Laut Tengah, termasuk di Italia. Genus gladiol terdiri dari 260 spesies. Sekitar 250 spesies gladiol berhabitat di Afrika, mulai dari Sahara sampai ke Afrika Selatan. Namun sebagian besar spesies tersebut, terkonsentrasi di habitat sekitar Gurun Sahara, dan tepi Laut Tengah. Hanya ada 10 spesies yang berhabitat di daratan Eropa Selatan, juga di sekitar Laut Tengah. Karena habitatnya yang merupakan kekuasaan Romawi Kuno, maka bunga ini kemudian disebut sebagai gladius atau gladiolus, alias bunga berdaun pedang.

Gladiol adalah tanaman berumbi. Umbi gladiol tampak seperti bawang bombai, hanya bentuknya pipih, dengan lekukan di bagian bawahnya. Kalau umbi bawang bombai berlapis-lapis (umbi lapis), maka umbi gladiol masif (utuh), meskipun tetap dibalut lapisan kulit kering berwarna cokelat. Di kawasan sub tropis, umbi gladiol akan mengalami masa dorman (istirahat), mulai dari musim gugur dan selama musim dingin. Pada musim semi, umbi akan bertunas, tumbuh menjadi tanaman selama musim panas, dan berbunga. Gladiol adalah tanaman semusim, yang setelah menghasilkan bunga akan mati, tetapi umbinya tetap hidup dalam kondisi dorman.

Yang disebut “tanaman gladiol” sebenarnya gabungan seludang tangkai daun, dan daun pedangnya yang memang kaku dan kokoh. Di tengah batang semu inilah pada musim panas akan muncul kenop bunga. Bunga gladiol bertangkai sampai sepanjang 1 m, dengan kuntum bunga mencapai belasan. Mekarnya bunga gladiol, berurutan mulai dari kuntum paling bawah, ke kuntum di atasnya. Kuntum bunga dipotong ketika satu sampai tiga kuntum paling bawah telah mekar. Dalam vas bunga, gladiol mampu bertahan sampai satu minggu. Dengan catatan, tiap hari air vas diganti, dan potongan pangkal tangkai diiris ulang. Gladiol yang dirangkai dalam karangan bunga tanpa vas, akan langsung layu dalam jangka waktu satu hari.

# # #

Bunga gladiol yang terserbuki, akan menghasilkan biji dalam buah polong. Karena bisa menghasilkan biji yang fertil, maka gladiol bisa disilang-silangkan hingga menghasilkan ratusan hibrida baru, dengan bunga yang sangat bervariasi. Budidaya gladiol asal biji, memerlukan waktu beberapa tahun, sebelum umbi tersebut cukup besar, hingga tanamannya menghasilkan bunga. Sebab ukuran biji gladiol yang sangat kecil, berdiameter kurang dari 0,5 mm. Selain dibudidayakan dengan biji, gladiol juga menghasilkan anakan umbi, disekeliling umbi induk. Anakan umbi ini ketika dijadikan benih, akan lebih cepat menghasilkan bunga, dibanding benih asal biji.

Umbi anakan, yang hanya berdiameter 2 sd. 3 cm. atau lebih kecil, biasanya akan disemai terlebih dahulu, hingga membesar menjadi umbi berukuran 5 sd. 6 cm. Umbi berukuran besar inilah yang akan dijadikan benih budidaya penghasil bunga. Penyemaian umbi anakan ini bisa memakan waktu 1 sd. 3 periode tanam, sangat tergantung dari ukuran benih awal. Tanaman semai ini, dipupuk dengan pupuk N dosis tinggi, hingga tidak menghasilkan bunga. Benih induk, akan disisihkan oleh petani, untuk dibudidayakan pada musim tanam berikutnya, dan akan kembali menghasilkan bunga. Hingga umbi anakan, hanya akan digunakan petani untuk perluasan areal tanam, juga untuk peremajaan tanaman.

Sebab umbi induk yang dibudidayakan terus-menerus, akhirnya akan kehabisan energi, hingga bunganya semakin mengecil. Biasanya, petani hanya membungakan umbi induk ini sebanyak tiga periode tanam, selanjutnya akan digunakan benih baru yang berasal dari pembesaran umbi anak. Di negeri tropis seperti Indonesia, umbi gladiol tetap memerlukan masa dorman paling sedikit selama tiga bulan. Hingga petani gladiol yang akan terus memroduksi bunga, selalu punya stok umbi sebagai benih yang sudah mengalami masa dorman. Umbi benih ini, oleh para petani di Bandungan, disimpan di para-para di atas perapian, untuk menghindari pembusukan dan kelembapan tinggi. (R) # # #

One thought on “BUDIDAYA BUNGA GLADIOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s