BUDI DAYA SAWO MANILA

Apakah budidaya sawo manila bisa menguntungkan? Di Thailand, seorang pemilik kebun sawo (lamoot) dengan luas lahan sekitar 4 hektar, sudah bisa hidup sangat layak. Punya rumah bagus, mobil bagus, dan bisa menyekolahkan dua anaknya sampai ke perguruan tinggi. Padahal ia 100% hanya mengandalkan pendapatan, dari menjual buah sawo yang dihasilkan kebun miliknya. Dan harga buah sawo, juga tidak setinggi durian, manggis, atau mangga. Mengapa dia tidak mengebunkan durian, manggis atau mangga? Sebab lahan miliknya hanya cocok ditanami sawo. Karena lahannya berbatu-batu, dengan udara panas serta kering.

Pohon sawo manila milik petani Thailand ini tidak menjulang setinggi belasan meter, dengan diameter batang 70 cm, dan tajuk yang rindang, seperti di negeri kita. Tinggi tajuk pohon sawo milik petani Thailand ini hanya 3 sampai 4 m. Diameter batangnya hanya 10 sd. 15 cm. Ia menggunakan jarak tanam 4 X 6 m, hingga populasi per hektarnya 400 tanaman. Karena ia punya lahan 4 hektar, maka total ada 1.600 pohon sawo di kebunnya. Umur tanaman sawonya sudah 10 tahun, dengan produksi buah rata-rata 50 kg. per tanaman. Hingga dari 4 hektar kebun tersebut, ia akan bisa memanen 80 ton buah sawo. Dengan harga jual ke pasar grosir Rp 2.000,- per kg. (6,5 bath), maka pendapatan kotornya Rp 160.000.000,-

Beda sawo dengan durian, manggis dan mangga adalah, ia bisa penen dua kali dalam setahun. Hingga pendapatan kotornya dalam setahun dari 4 hektar kebun sawo itu, mencapai Rp 320.000.000,- Namun ia harus mengeluarkan biaya pemupukan, pemangkasan, pengairan, dan yang paling tinggi adalah pemanenan, pasca panen dan packing serta pemasaran. Total biaya itu bisa mencapai 60% dari pendapatan kotor. Hingga pendapatan bersihnya selama setahun hanya Rp 128.000.000,- atau tiap bulannya Rp 10.500.000,- Dengan pendapatan sebesar itu, pantas saja kalau seorang petani sawo memiliki rumah bagus, mobil bagus dan mampu menyekolahkan dua anak mereka sampai perguruan tinggi.

# # #

Buah ini disebut sawo manila, karena sejak abad ke 16 sudah dibawa dari Amerika Tengah ke Filipina oleh Bangsa Spanyol. Dari Filipina (Manila) inilah kemudian buah sawo menyebar ke negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hingga kita pun kemudian mengenalnya sebagai sawo manila. Sebutan sawo manila (chikoo, sapota, Manilkara zapota), digunakan untuk membedakannya dengan sawo kecik (Manilkara kauki), sawo beludru (sawo durian, kenitu, Chrysophyllum cainito), dan sawo ubi (sawo mentega, alkesa, Lucumma nervosa). Sawo-sawo ini kesemuanya masih tergolong famili sawo-sawoan (Sapotaceae). Yang juga masih masuk keluarga Sapotaceae adalah tanjung (Mimusops elengi).

Sapotaceae adalah famili dengan sekitar 65 genus, yang terdiri dari kurang-lebih 800 spesies. Genus Manilkara sendiri, terdiri dari 70 sampai dengan 90 spesies. Sebagian besar keluarga sawo-sawoan berasal dari benua Amerika. Namun beberapa spesies juga terdapat di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia. Spesies sawo-sawoan yang berhabitat asli Indonesia antara lain sawo kecik dan tanjung. Sawo manila sendiri berhabitat lahan kering dataran rendah, yang berudara panas. Hingga ia kurang cocok dibudidayakan di kawasan pegunungan yang lembap dan basah. Banten, Jawa Timur, NTT, atau kawasan-kawasan dataran rendah di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sangat cocok untuk budidaya sawo.

Para petani Thailand membudidayakan sawo dengan benih cangkokan, yang tingginya dudah mencapai 1,5 sampai dengan 2 m. Hingga dalam jangka waktu satu sampai dengan dua tahun, kebun sudah mulai berproduksi. Namun produksi optimal baru akan terjadi pada tahun ketiga dan keempat. Pencangkokan sawo, terlebih mencangkok ranting yang sudah berdiameter lebih dari 3 cm, memerlukan waktu lebih dari satu tahun. Meskipun sudah dibantu dengan zat perangsang pertumbuhan akar. Setelah dipotong dari pohon induknya pun, cangkokan sawo juga harus disemai dalam polybag selama sekitar satu tahun, sebelum bisa dipindahkan ke lahan kebun.

# # #

Penanaman cangkokan sawo di lapangan, harus dilakukan pada awal musim penghujan. Dan selanjutnya, pada tahun pertama dan kedua, tanaman tetap memerlukan pengairan (penyiraman) pada musim kemarau. Setelah akar cukup jauh menembus tanah yang lembap, tanaman tidak perlu disiram lagi pada musim kemarau. Tanaman sawo berbunga sempurna. Artinya dalam satu kuntum bunga terdapat bunga jantan dan bunga betika sekaligus. Ada dua varietas sawo, yakni yang bentuk buahnya lonjong, dan bulat. Sawo yang bentuk buahnya bulat, oleh masyarakat Betawi disebut sebagai sawo lengkeng. Sawo varietas bulat, daging buahnya relatif lebih kering, dibanding dengan yang berbentuk lonjong.

Sawo manila termasuk jenis buah klimaterik, yang artinya harus dipetik mentah, untuk diperam sampai masak. Beda dengan sawo durian yang merupakan buah non klimaterik, hingga harus dipetik ketika sudah benar-benar masak di pohon. Pemetikan sawo di Thailand dilakukan dengan gunting pohon, dengan menyisakan tangkai sepanjang 1 cm. Buah yang baru saja dipetik, ditaruh dalam wadah yang diberi alas kertas koran, dengan tangkai di bawah. Maksudnya agar getah yang menetes dari potongan tangkai, tidak mengotori kulit buah. Buah yang dipetik harus benar-benar sudah tua, ditandai oleh ukurannya yang cukup besar, serta warna kulit lebih cerah dibanding buah yang masih muda.

Selanjutnya buah diangin-anginkan selama sekitar 12 jam, tetap dengan alas kertas koran. Setelah getahnya mengering, kulit buah dibersihkan dari lapisan cokelatnya, dengan menggunakan sikat berbulu halus. Setelah itu buah bisa dikemas dalam kardus, atau kemasan lainnya, untuk dipasarkan. Para petani Thailand tidak pernah memeram buah mereka, sebab daya pasarnya akan menjadi sangat singkat. Hingga pemasakan buah sawo, seperti halnya alpukad, selalu terjadi di gerai pedagang pengecer. Bagi para petani Thailand, komoditas apa pun bisa menguntungkan, asal dikelola dengan serius. Termasuk sawo. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s