PLANTAIN SEBAGAI BAHAN PANGAN


Plantain adalah istilah yang digunakan untuk pisang olahan. Di pasar internasional, pisang dibedakan menjadi dua : sebagai buah meja,  dan sebagai pisang olahan. Pisang sebagai buah meja, lebih sering disebut “cavendish”. Bahkan, kadang hanya disebut merknya, seperti Chiquita, Del Monte, Dole dan Fyffes.

Untuk membedakannya dengan pisang buah, pisang olahan disebut plantain. Plantain berkembang di Amerika Tengah dan Latin, kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Di Indonesia, plantain dikenal sebagai pisang australia, atau raja medan. Sebenarnya semua jenis pisang konsumsi berasal dari persilangan antara Musa acuminata, dengan Musa balbisiana. Belakangan juga muncul kultivar, yang merupakan silangan antara anggota seksi Callimusa atau Australimusa, dengan Musa schizocarpa.

Semua genus Musa, berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Australia Utara. Namun perkembangan kultivar unggul, baik buah meja maupun plantain, justru terjadi di Amerika Tengah dan Latin. Cavendish, pisang buah meja paling terkenal di dunia, justru lahir di Inggris. Induk cavendish, memang berasal dari Vietnam dan China bagian selatan. Henry Cavendish, (1731 – 1810) seorang ahli kimia Inggris, membawa bonggol pisang ini ke Inggris, lalu memuliakannya, hingga tercipta kultivar pisang unggul sebagai buah meja.

Untuk mengingat jasa Henry Cavendish, pisang unggul ini diberi nama Cavendish. Dari Inggris, benih pisang unggul ini dikembangkan di Amerika Tengah, dan Australia, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Plantain pun sama, berasal dari Asia Tenggara, tetapi berkembang di Amerika Tropis. Jenis plantain asli yang ada di Indonesia adalah pisang tanduk, dan pisang nangka. Namun pemanfaatan dua varietas pisang ini sangat terbatas. Bahkan pisang australia alias raja medan, plantain introduksi dari Australia pun, tidak berkembang sebagai bahan pangan.

# # #

Di Amerika Tengah, Latin, dan di Afrika, plantain sudah berkembang sebagai makanan pokok. Baik dengan terlebih dahulu ditepungkan, direbus begitu saja dan dimasukkan ke dalam sup, dibuat keripik, dan lain-lain menu. Tepung pisang, lazim dimasak menjadi roti, kue, dan bubur, lalu dikonsumsi sehari-hari sebagai substitusi gandum, jagung, dan singkong. Di Ecuador, Colombia, Honduras, Dominika, Venezuela, Haiti, Guatemala, Ekuador, Honduras, Panama, Peru, Kolombia, Kuba, dan Puerto Rico, menu terkenal dari plantain disebut Plátanos Maduros.

Plantain berukuran lebih besar, kandungan karbohidratnya lebih tinggi, dengan kadar gula rendah. Pisang buah berukuran lebih kecil, kadar karbohidrat rendah, dan kadar gula tinggi. Pisang tanduk, (pisang agung, pisang byar), merupakan plantain Indonesia paling besar.  Sebagai plantain, pisang tanduk, dan juga pisang nangka, tidak pernah dikonsumsi segar. Di Indonesia pun, pisang dibedakan menjadi tiga : sebagai buah meja, pisang olahan, dan dwiguna. Pisang ambon dan raja sereh adalah buah meja. Raja bulu dan kepok kuning adalah dwiguna.

Plantain dan pisang dwiguna Indonesia, selama ini hanya dimanfaatkan sebagai makanan ringan. Pisang baru akan dikonsumsi sebagai makanan pokok, oleh masyarakat miskin, ketika terjadi kelangkaan pangan. Hingga pisang sebagai makanan pokok, selalu diasosiasikan dengan kemiskinan, dan kelangkaan pangan. Dengan kesan seperti ini, sulit untuk mengembangkan plantain sebagai bahan makanan pokok. Di Indonesia, pergeseran makanan pokok justru terjadi dari jagung, singkong, dan sagu ke beras, lalu dari beras ke gandum.

Di Amerika Tengah dan Latin, pisang adalah menu terhormat. Sebagai tanaman pendatang dari Asia Tenggara, pisang dianggap sebagai buah eksotis oleh imigran kulit putih, para budak Negro, maupun penduduk asli Indian. Varietas, kultivar, dan hibrida pisang buah, serta plantain pun berkembang di sini. Di Amerika Tengah, dan Latin, variasi makanan pokok memang berkembang secara sehat. Meskipun sudah ada gandum, tetapi komoditas asli seperti jagung, kentang, singkong, ubi jalar, ganyong, dan garut tetap populer.

# # #

Budidaya plantain, agak berbeda dengan pisang buah, khususnya cavendish. Pisang buah ditanam sekali, dengan benih dari rumpun, benih pecahan bonggol, maupun benih hasil kultur jaringan. Benih daun pedang dari rumpun, ukuran 2 m, akan berproduksi paling cepat. Pisang buah, akan menghasilkan minimal dua anakan, sebelum berbunga (keluar jantung). Setelah induk ditebang untuk dipanen tandannya, anakan paling besar sudah siap untuk menggantikan posisi induk. Demikian seterusnya, hingga dalam satu rumpun pisang, selalu ada tiga individu tanaman.

Plantain tidak menghasilkan anakan yang tumbuh pesat mendampingi tanaman induk, melainkan banyak anakan kecil-kecil, dengan ukuran seragam. Tumbuhnya anakan pun, menjelang buah tua. Hingga ketika induk ditebang, beberapa anakan yang ditinggalkan berukuran seragam, setinggi 50 cm. Anakan ini tidak mungkin dibiarkan di sekitar bonggol induk, sebab tidak akan berkembang. Ketika induk ditebang, seluruh bonggol dengan anakan ukuran 50 cm, harus dibongkar. Anakan dipisahkan dari bonggol induk, lalu disemai.

Benih plantain hasil semaian anakan, baru bisa ditanam kalau sudah mencapai ketinggian, minimal 1,5 m. Demikian seterusnya, hingga plantain hanya bisa ditanam sekali, kemudian bonggol induk dan anakan dibongkar. Meskipun budidaya plantain lebih rumit dibanding pisang buah, namun ukuran tandan dan buahnya lebih besar. Pisang tanduk sebagai plantain, juga harus dibudidayakan dengan pola serupa. Meskipun hanya bisa ditanam sekali, tetapi nilai pisang tanduk selalu lebih tinggi dibanding pisang biasa. Terutama pisang tanduk berdaging merah (oranye). (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s