SELEDRI SEBAGAI KOMODITAS PENYELAMAT

Kata seledri berasal dari celery, celeriac, céleri dan sellerie. Sayuran yang juga disebut turnip ini berasal dari daratan sekitar Laut Tengah, yakni Timur Tengah, Afrika Utara, Balkan dan Eropa Selatan. Seledri diduga sudah mulai dibudidayakan sebelum abad 7 SM. Sebab gambar daun dan bunga seledri, terdapat dalam relief pada makam Tutankhamun, firaun yang memerintah Mesir pada abad 7 SM. Seledri dibudidayakan terutama sebagai sayuran, bumbu, dan bahan obat-obatan. Bagian tanaman seledri yang  dimanfaatkan terutama tangkai daun dan daunnya, bonggol (umbi), dan bijinya.

Secara tradisional, seledri dimanfaatkan sebagai tumbuhan penghasil bahan obat. Keseluruhan bagian tumbuhan, mulai dari daun dan pelepah daun, bonggol, dan biji, berkhasiat sebagai stimulan. Keseluruhan bagian tumbuhan ini, bisa dibuat jus, dan diminum, untuk memperkuat daya tahan tubuh. Khusus bijinya, berkhasiat menurunkan kadar asam urat, kolesterol,  serta darah tinggi. Bonggolnya, berkhasiat diuretik (memperlancar air seni), hingga cocok untuk terapi peluruhan batu ginjal. Penggunaan seledri sebagai bahan obat tradisional, tetap harus dibawah bimbingan ahlinya, sebab efek samping dari obat tradisional, justru lebih tinggi dibanding obat modern yang kandungan zat berkhasiatnya sudah terukur.

Dalam tiap 100 gram pelepah, dan daun seledri, terkandung energi 10 kcal   (60 kJ); karbohidrat  3 g; gula 2 g; serat kasar 1,6 g; lemak 0,2 g; protein 0,7 g; air 95 g; dan vitamin C 5 mg (5%). Di Indonesia, seledri lebih banyak dimanfaatkan sebagai bumbu, bersamaan dengan bawang daun. Dalam sup eropa yang sudah berinkulturasi di Jawa, seledri hanya sedikit sekali digunakan, bersamaan dengan bawang daun. Sayuran utamanya adalah kol, wortel dan kentang, dengan daging sapi atau kambing. Bumbu sup eropa ala jawa ini adalah lada, bawang putih, garam dan bawang merah goreng.

# # #

Seledri adalah tumbuhan famili Apiaceae, genus Apium, dan spesies graveolens. Nama latin seledri adalah Apium graveolens. Genus Apium terdiri dari 20 spesies. Diantaranya adalah Apium australe; Apium filiforme; Apium graveolens; Apium inundatum; Apium leptophyllum; Apium nodiflorum; Apium prostratum; dan Apium repens. Seledri adalah terna (tanaman lunak), yang tumbuh tegak. Merupakan tanaman semusim, yang akan mati setelah berbunga dan berbuah. Bunga dan buahnya tumbuh berupa malai pada pucuk tanaman. Karena berasal dari kawasan sub tropis, maka di Indonesia, seledri hanya mau tumbuh baik di atas ketinggian 700 m. dpl.

Sebagai tanaman sayuran dataran tinggi, seledri merupakan tanaman penyelamat. Sebab harga seledri sangat murah, cara penanamannya juga mudah. Cukup dibuat bedengan sederhana, kemudian ditaburkan pupuk kandang yang sudah matang dengan benih seledri (berupa biji). Para petani umumnya membenihkan seledri sendiri. Di antara tanaman yang akan dipanen, mereka sisakan satu dua yang sehat pertumbuhannya, untuk dipelihara terus sampai menghasilkan bunga dan buah. Dalam waktu singkat seledri yang disemai secara acak itu akan tumbuh subur. Petani juga memberi pupuk urea, agar pertumbuhan seledri cukup subur. Namun sama halnya dengan bawang daun, seledri tidak memerlukan penyemprotan pestisida. Sebab aroma seledri tidak disukai oleh hama serangga.

Panen seledri dilakukan secara bertahap pada umur 40 hari sampai dengan 60 hari setelah benih ditebar. Panen dilakukan dengan pencabutan, pencucian, dan pengemasan, sebelum komoditas ini segera diangkut ke pasar. Karena mudah dan murahnya budidaya seledri, maka komoditas ini sering dijadikan alternatif terakhir ketika komoditas utamanya bermasalah. Misalnya, sebenarnya petani ingin menanam cabai atau tomat yang harganya diharapkan tinggi saat panen nanti. Tetapi hama dan penyakit menyerang, hingga areal cabai atau tomat itu hancur. Maka petani akan segera menebar pupuk dan benih seledri pada areal cabai atau tomat tersebut.

Karena sering dibudidayakan sebagai penyelamat agar petani tidak terlalu rugi, maka seledri sering memperoleh sebutan sebagai komoditas penyelamat. Uang petani yang hilang karena membudidayakan cabai atau tomat, akan terselamatkan oleh seledri. Komoditas yang juga sering dibudidayakan sebagai penyelamat mirip dengan seledri adalah wortel. Cara menanam wortel pun, juga mirip dengan seledri, yakni hanya dengan menebarkan benih pada bedengan. Bedanya, wortel akan dipanen umbinya, sementara seledri akan dipanen daunnya. Meskipun nilai nominal seledri tidak tinggi, namun prosentase keuntungan yang diperoleh petani cukup besar.

# # #

Sebagai komoditas penyelamat, seledri tidak pernah sengaja dirancang dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar. Karenanya, meskipun harganya murah, fluktuasi harga seledri tetap tinggi. Sama halnya dengan wortel. Beda dengan bawang daun, yang budidayanya sudah atas dasar pertimbangan permintaan pasar. Meskipun harga bawang daun lebih tinggi dari seledri, namun fluktuasi harganya relatif kecil. Hingga harga bawang daun relatif lebih stabil dibanding seledri. Sebagai sayuran bahan sup, seledri selalu berpasangan sayuran lain. Pasangan utama seledri di Indonesia adalah bawang daun. Di beberapa negara, seledri dipasangkan dengan bawang putih, dan paprika; atau dengan bawang putih dan wortel.

Seledri yang dibudidayakan oleh para petani sayuran di Indonesia, berasal dari benih yang mereka produksi sendiri. Karena sudah mengalami degradasi, juga adaptasi dengan agroklimat setempat, maka seledri tersebut bisa disebut sebagai varietas lokal. Para petani kadang-kadang juga membeli benih seledri varietas baru eks Taiwan, atau Jepang. Seledri varietas unggul ini biasanya bertangkai lebih besar, daun lebih lebar dan lebih hijau, serta lebih renyah. Namun aroma seledri varietas baru ini, sering tidak setajam dengan seledri varietas lokal yang berukuran kecil-kecil. Benih seledri eks Taiwan, dan Jepang ini, ada yang dikemas dalam sase, maupun kaleng. Para petani pemasok pasar swalayan besar, biasanya menggunakan benih impor ini.

Sebenarnya, seledri juga bisa dibudidayakan di dataran rendah, yang berudara panas. Namun pertumbuhan seledri di kawasan ini, tidak akan sebaik di dataran tinggi. Biasanya budidaya seledri di dataran rendah menggunakan benih cabutan. Bukan dengan menyemai biji seperti halnya budidaya di dataran tinggi. Selain tingkat produktivitasnya rendah, budidaya seledri di dataran rendah juga akan menghasilkan daun serta tangkai yang keras dan berserat. Ibu-ibu rumah tangga di kota-kota besar di Indonesia sering memanfaatkan bonggol seledri, dengan menanamnya dalam pot. Meski bisa tumbuh baik, namun kualitas seledri yang dihasilkannya tidak akan sebaik seledri yang tumbuh di dataran tinggi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s