PENGOLAHAN BIJI SORGHUM

Upaya pengembangan sorgum terkendala oleh proses pasca panen. Sebab kulit ari biji sorgum, tidak bisa disosoh dengan cara tradisional, maupun dengan huller (mesin giling) padi dan jagung. Sorgum harus disosoh dengan huller bersilinder gerinda (abrasive mill).

Belakangan telah diciptakan varietas-varietas sorgum unggul, dengan karakteristik kulit ari biji yang mudah mengelupas. Sorgum baru ini bisa disosoh dengan huller biasa, yang biasa digunakan untuk menyosoh beras dan jagung. Sorgum varietas lama, dengan kulit ari yang keras, baru bisa disosoh dengan abrasive mill. Sebenarnya abrasive mill juga sama dengan mesin penyosoh biasa untuk beras dan jagung, namun silindernya diberi lapisan gerinda, yang tingkat kekasarannya, disesuaikan dengan karakteristik kulit ari biji sorgum.

Sorgum yang berasal dari benua Afrika, terdiri dari sekitar 32 varietas. Di benua ini, sorgum dikenal dengan nama surgo, durra dan kafir. Ada varietas malai cokelat (merah) dan putih. Komoditas ini mulai mendunia  sejak akhir tahun 1980an. Belanda membawa sorgum ke Indonesia tahun 1925. Di Jawa, sorgum dikenal dengan nama cantel, otek dan jagung cantrik. Ada beberapa varietas sorgum hasil pemuliaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR), Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).

Varietas nasional tersebut adalah: Sorgum Mas, UPCA, Keris, Mandau, Higari, Badik, Gadam, Sangkur, Numbu dan Kawali. Sorgum tidak hanya menghasilkan biji untuk bahan pangan, melainkan juga untuk bahan minuman keras, untuk gula (sorgum manis), untuk hijauan pakan ternak, dan untuk sapu. Sekarang juga mulai ramai dibicarakan verietas sorgum untuk bahan biofuel (BBM). Sorgum biji bahan pangan sendiri, juga terdiri dari dua varietas, yakni tipe beras (non waxy) dan tipe ketan (waxy).

# # #

Dalam kondisi krisis BBM, dan sekaligus krisis pangan sekarang ini, sorgum merupakan komoditas yang sangat strategis untuk dikembangkan. Kelebihan sorgum dibandingkan dengan padi, jagung (sorgum biji), dan juga tebu (sorgum manis), adalah budidayanya bisa dilakukan di lahan marjinal yang ekstrim kering. Sorgum varietas lama,  berbatang tinggi (2 m), dan baru bisa dipanen setelah sekitar 6 bulan. Varietas-varietas baru berbatang lebih pendek  (1,5 m), dan umur panennya juga lebih pendek, hanya sekitar 4 bulan.

Malai sorgum tumbuh pada ujung tanaman, seperti halnya padi. Kalau malai padi menunduk setelah tua, malai sorgum tetap tegak ke atas. Butir gabah padi berbentuk memanjang, atau lonjong. Butir biji sorgum selalu bulat. Kulit luar biji sorgum sangat keras. Lebih keras dianding dengan gabah. Biji sorgum juga dilapisi oleh kulit ari yang keras, dan lengket dengan karbohidrat biji. Rasa kulit ari biji sorgum kelat (sepet), karena tingginya kandungan zat tanin. Karakter biji sorgum seperti inilah yang menjadi kendala utama penyosohan.

Dengan ditumbuk dan disosoh secara manual menggunakan alu dan lumpang, atau dengan huller (penggilingan) biasa, kulit ari biji sorgum akan tetap menempel pada karbohidrat. Hingga ketika biji sorgum dimasak menjadi nasi, atau ditepungkan dan dijadikan roti, kulit ari biji sorgum itu akan terikut. Akibatnya, nasi dan roti itu terasa sepet. Kendala utama ini sudah bisa diatasi dengan beberapa cara. Pertama, telah diciptakan varietas-varietas baru, yang kulit arinya mudah mengelupas, atau meskipun tetap sulit mengelupas, rasa sepetnya berhasil ditiadakan.

Cara kedua, diciptakan huller khusus untuk menyosoh sorgum. Pada huller biasa, silinder penggilingan berupa logam (besi) biasa. Pada huller sorgum, bagian dalam silinder huller itu diberi lapisan gerinda (batu amplas). Gerinda ini diciptakan khusus, hingga tingkat kekasarannya bisa secara tepat mengikis kulit ari biji sorghum. Dengan huller ini, sorgum varietas lama, tetap bisa disosoh, hingga bijinya bersih. Sebaliknya, varietas-varietas baru dengan kulit ari mudah terkelupas, bisa disosoh dengan huller biasa.

# # #

Pengetahuan tentang verietas sorgum ini, sangat penting, bagi petani, hingga proses pasca panen, disesuaikan dengan tipenya. Sorgum varietas baru dengan kulit ari yang mudah mengelupas pun, juga harus dikeringkan, sampai kadar airnya mencapai 10 – 11%. Kadar air pengeringan padi, dan jagung hingga layak sosoh, cukup hanya 14 – 15%. Kalau pengeringan biji sorgum menggunakan standar padi dan jagung, ketika digiling, biji sorgum akan remuk, atau malahan menjadi tepung. Agar kadar air biji 10 – 11%, penjemuran dilanjutkan pengeringan dengan dryer.

Sepuluh besar negara penghasil sorgum utama adalah AS 9,8 (juta ton), Nigeria 8, India 8, Meksiko 6,3, Sudan 4,2, Argentina 2,9, RRC 2,5, Ethiopia 1,8,  Australia 1,7, dan Brasil 1,5. Volume hasil sorgum ini, kurang lebih sama dengan millet. India sebagai penghasil utama millet dunia, memroduksi 9 juta ton. Disusul Nigeria 6,2, dan RRC 2,1. Angka produksi sorgum ini relatif masih sangat kecil dibanding barley, gandum, beras dan jagung. Tiga negara penghasil barley terbesar adalah Rusia 15,7, Kanada 12,1, dan Jerman 11,7.

RRC sebagai penghasil gandum dan beras utama dunia memroduksi 96,3 juta ton gandum, 185,4 juta ton beras (gabah), dan 132,6 juta ton jagung (nomor 2). India menghasilkan 72 juta ton (gandum), dan 129 juta ton (gabah). AS penghasil jagung utama dunia dengan 280,2 juta ton, disusul gandum 57,1 juta ton (no 3). Indonesia penghasil gabah nomor 3 dunia dengan 53,9 juta ton. Brasil penghasil jagung nomor 3 dunia dengan 34,8 juta ton. Dari angka-angka ini, tampak bahwa Indonesia masih bisa berperan sebagai penghasil pangan dunia, selain beras. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s