PELUANG AGROINDUSTRI GAHARU

Harga gaharu kualitas baik di tingkat pengumpul, saat ini antara Rp 3.000.000,- sampai dengan Rp 5.000.000,- per kg. Produk gaharu di tingkat pengumpul ini masih berupa bahan padat. Sebab gaharu dipasarkan dalam bentuk bongkahan, chip, serpih, serbuk, dan minyak. Nama dagang gaharu di pasar internasional adalah Agarwood, Lign Aloes, Eaglewood, Heartwood, Jinko, Oud, dan Aloeswood. Gaharu digunakan untuk ritual keagamaan dengan cara dibakar (dupa, ratus, hio). Semua agama di dunia memanfaatkan gaharu untuk ritual keagamaan mereka. Selain itu gaharu juga digunakan sebagai bahan farmasi, parfum, kosmetik, dan bahkan juga untuk minuman. Wine asli Taiwan, menggunakan aroma gaharu.

Jepang, salah satu konsumen gaharu terpenting di dunia, secara tradisional mengelompokkan gaharu menjadi enam jenis:  Kyara, Manaban, Rakoku, Manaka, Sumotara, dan Sasora. Istilah Sumotara, tentu berasal dari kata Sumatera, tempat asal usuk gaharu tersebut. Jepang juga menggunakan lima istilah untuk membantu klasifikasi gaharu, yakni: sweet (manis), untuk menandai aroma gaharu yang mirip madu atau gula; sour (masam) untuk gaharu beraroma buah plum; hot (panas), untuk gaharu beraroma api; salty (asin) untuk gaharu aroma rumput laut; dan bitter (pahit), untuk gaharu beraroma jamu-jamuan. Negara pengimpor gaharu utama adalah Jepang, Korea, RRC, India, dan negara-negara Timur Tengah.

Masing-masing negara pengimpor, menentukan persyaratan yang berbeda-beda, sesuai dengan tujuan pemanfaatannya. Untuk tujuan farmasi, yang diperlukan adalah standar persyaratan teknis laboratoris. Sedangkan untuk digunakan sebagai bahan aromatik, termasuk parfum, yang diperlukan adalah kualitas aromanya, yang tentu saja sangat subyektif. Gaharu kualitas terbaik pun, kalau mereka tidak menyukai aromanya, akan dihargai murah. Sebaliknya, gaharu murah yang aromanya mereka sukai, justru akan dibeli dengan harga tinggi. Sebab standar mutu yang dikeluarkan oleh masing-masing negara pembeli, sifatnya tidak mengikat. Hingga hukum pasarlah yang berlaku. Kalau permintaan tinggi sementara pasokan rendah, maka harga akan naik.

# # #

Indonesia, mementukan standar mutu gaharu sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), nomor SNI 01-5009.1-1999. Menurut SNI, gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, yang tumbuh secara alami dan telah mati sebagai akibat dari suatu proses infeksi, yang terjadi baik secara alami atau buatan pada suatu jenis pohon, yang pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria Sp. (Karas, Alim, dan Garu). Karena pohon Aquilaria Sp. masuk dalam apendiks II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), maka perdagangan gaharu, termasuk Indonesia, dikenai kuota.

Secara detil, dalam SNI 01-5009.1-1999 disebutkan bahwa kualitas gaharu  ada 13 kelas, terdiri dari: 1 Gubal gaharu, yang terbagi menjadi 3 kelas, yakni mutu utama (setara dengan mutu super); mutu pertama (mutu AB); dan mutu kedua (mutu sabah super). 2  Kemedangan, terdiri 7 kelas. Mulai dari mutu pertama, setara dengan mutu TGA/TK1, sampai dengan mutu ketujuh = setara dengan mutu M3). 3
Abu gaharu,  terdiri dari 3 kelas yakni mutu utama, pertama dan kedua.
Di Kalbar, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 9 kelas, yakni kualitas Super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan kropos (terburuk).  Di Kaltim dan Riau, disepakati ada 8 kelas gaharu. Mulai dari super A (terbaik) sampai dengan kemedangan (terburuk).

Produk gaharu harus dibedakan dari pohon gaharu. Sebab tidak semua pohon gaharu ada gaharunya. Gaharu adalah resin (getah), pohon Aquilaria Sp, yang baru akan keluar kalau tanaman terinfeksi kapang (fungus) Phialophora parasitica, atau kapang-kapang lainnya.  Resin yang menyatu dengan kayu inilah yang disebut gubal, dan aromanya sangat harum. Namun tidak semua tanaman gaharu bisa menghasilkan gubal. Sebab genus Aquilaria terdiri dari 22 spesies. Dari 22 spesies ini, yang bisa terinfeksi kapang Phialophora parasitica hanya delapan spesies. Dari delapan spesies itu, yang paling potensial menghasilkan gaharu adalah Aquilaria malaccensis dan Aquilaria agallocha.

Gaharu yang sekarang beredar di pasaran, sebagian besar berasal dari hutan. Karena pencari gaharu, tidak membedakan mana kayu yang ada gubalnya, dan mana yang tidak, semua pohon Aquilaria yang dijumpai akan ditebang. Itulah sebabnya genus Aquilaria masuk dalam apendiks II CITES. Padahal, budidaya dan inokulasi pohon gaharu dengan kapang  Phialophora parasitica, sudah bisa dilakukan di Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan juga Indonesia, sebagai penghasil gaharu terbesar di pasar internasional. Kalau proses pembantukan gubal secara alami bisa berlangsung puluhan tahun, maka dengan inokulasi, proses ini bisa dipercepat sampai enam bulan. Meskipun, hasilnya masih berupa chip. Bukan bongkahan.

# # #

Di Indonesia, budidaya gaharu sudah mulai dilakukan. Sebab tanaman ini banyak menghasilkan buah/biji, yang mudah sekali tumbuh. Bahkan biji gaharu harus segera disemai, setelah dikeluarkan dari buahnya. Benih gaharu juga sudah banyak dijual. Di Bengkulu misalnya, ada pembenih yang memiliki stok sampai 50.000 benih dalam polybag, dan ditawarkan seharga Rp 1.500,- per polybag, belum termasuk ongkos kirim. Namun kita jangan mudah terbujuk untuk membeli benih gaharu, tanpa didampingi oleh ahlinya. Sebab sulit membedakan gaharu Aquilaria malaccensis dan Aquilaria agallocha, dengan spesies lainnya. Kalau kita keliru membeli benih gaharu dari spesies yang tidak bisa diinokulasi, maka pohon gaharu itu sama sekali tidak ada nilainya.

Kapang yang bisa menginfeksi gaharu, sebenarnya bukan hanya Phialophora parasitica, melainkan juga Rhizopus Sp. Aspergillus Sp. bahkan juga Fusarium Sp. serta kapang patogen lainnya. IPB, Universitas Mataram, Badan Litbang Kehutanan, dan BIOTROP, sudah mampu mengisolasi kapang-kapang ini.  Serangkaian ujicoba di lapangan dalam skala komersial juga dilakukan. Yang sudah berhasil memanen gubal adalah ujicoba di Lombok dan Bangka. Dua tempat ini, tahun 2006 yang lalu sudah mulai memanen dan memasarkan gaharu hasil inokulasi. Belum hasil budidaya. Sebab yang diinokulasi masih tumbuhan liar yang ada di hutan atau kebun penduduk. Keberhasilan ini telah mendorong para pebisnis, untuk menginokulasi pohon  Aquilaria malaccensis di Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Pohon gaharu yang bisa diinokulasi dengan kapang Phialophora parasitica, hanyalah yang sudah berumur di atas lima tahun. Makin tua umur tanaman, tentunya semakin baik. Gaharu adalah tanaman hutan tropika basah, yang hidup di dataran rendah sampai menengah. Untuk bisa mencapai pertumbuhan optimal, sepanjang hidup gaharu memerlukan naungan. Hingga budidaya gaharu tidak mungkin dilakukan secara monokultur. Idealnya, gaharu dibudidayakan sebagai penghijauan berupa hutan campuran, bersama pohon rimba lainnya. Meskipun, gaharu bukan tumbuhan semi parasit seperti halnya cendana. Cendana meskipun tidak menyukai naungan, tetap tidak bisa dibudidayakan secara monokultur, karena memerlukan pohon inang.

Inokulasi kapang pada pohon gaharu, dilakukan dengan cara melukai batang pohon tersebut. Baik dengan bor, paku, atau peralatan lainnya. Kapang genus Phialophora sendiri, terdiri dari delapan spesies aktif. Yakni Phialophora americana, Phialophora bubakii, Phialophora europaea, , Phialophora reptans, Phialophora repens, Phialophora richardsiae, dan Phialophora verrucosa. Dari delapan spesies itu, yang berfungsi menginfeksi kayu Aquilaria hanyalah kapang Phialophora parasitica. Spesies lainnya merupakan kapang patogen, yang bisa menginfeksi manusia dan menimbulkan gangguan penyakit. Meskipun kapang lain juga bisa digunakan, kapang Phialophora parasitica tetap paling aman untuk menginokulasi gaharu.

# # #

Inokulasi kapang Phialophora parasitica secara alami di hutan, terjadi akibat batang atau cabang pohon gaharu dilukai oleh semut, burung, kumbang, cakar mamalia, dan lain-lain. Dari luka itulah kapang masuk dan menginfeksi tanaman. Hingga infeksi kapang Phialophora parasitica secara alami, hanya terdapat pada beberapa titik, bahkan bisa hanya pada satu titik. Meskipun hanya pada satu titik, karena proses infeksi ini terjadi selama bertahun-tahun, bahkan sampai puluhan tahun, maka gubal yang terbentuk akan berukuran sangat besar, dan pasti berupa bongkahan. Para pengusaha gaharu, tentu tidak mau menunggu sampai bertahun-tahun. Untuk memaksa pohon gaharu membentuk gubal secara instan, titik perlukaan dibuat sebanyak mungkin. Jumlahnya bisa mencapai ribuan pada satu tanaman.

Tujuannya, agar gaharu bisa dipanen secepat mungkin. Dengan cara ini, dalam waktu enam bulan setelah inokulasi, gaharu sudah bisa dipanen. Gubal dari gaharu yang baru diinokulasi selama enam bulan, masih berupa chip yang sangat tipis, dan berukuran kecil. Hingga memanennya menjadi sulit dan lama, karena harus mengorek chip gubal itu satu per satu dari kayu. Chip gaharu harus utuh, sebab kalau hancur menjadi serpih, harganya akan jatuh. Hingga pohon gaharu rakyat diameter batang 30 cm, yang dibeli Rp 2.000.000,- dan diinokulasi dengan biaya Rp 4.000.000,- biaya panennya bisa mencapai Rp 9.000.000,- Dengan biaya total Rp 15.000.000,-pohon tersebutminimal harus menghasilkan lima kilo gaharu, dengan harga jual Rp 3.000.000,- per kg.

Resiko menginokulasi pohon gaharu dengan sebanyak mungkin titik perlukaan adalah, tanaman itu terancam mati sebelum menghasilkan gubal. Hingga jumlah titik inokulasi harus rasional berbanding ukuran pohon. Inokulasi juga harus dilakukan pada musim penghujan, hingga tanaman tidak mengalami stres terlalu berat. Idealnya, panen gaharu dilakukan minimal tiga tahun sejak tanaman diinokulasi. Semakin lama gaharu dipanen, hasil gubalnya akan semakin banyak, sementara biaya panen akan menurun. Sebab mengambil gubal berupa satu gumpalan seberat 300 gram, pasti lebih cepat dibanding mengorek gubal 300 gram tetapi terdiri dari 30 chip @ 10 gram di jaringan kayu yang terpisah-pisah. Namun, rakyat sering tidak sabar menunggu, sebab terlalu lama menunggu, gaharu itu bisa dipanen orang lain. (R) # # #

One thought on “PELUANG AGROINDUSTRI GAHARU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s