POTENSI AGROINDUSTRI TEH HIJAU

Komoditas teh sebagai bahan minuman, sudah dikenal di China, sejak tahun 2.700 SM. Jauh lebih tua dibanding dengan kopi yang baru dikenal sekitar tahun 1.300 M. Dari dua varietas tanaman teh, yakni Camelia sinensis var. assamica dan Camelia sinensis var. sinensis, akan dihasilkan beberapa jenis teh. Varietas assamica umumnya diproduksi menjadi teh hitam (black tea), atau sering pula disebut sebagai english tea. Sementara varietas sinensis diproduksi menjadi teh hijau (green tea), teh putih (white tea), dan teh oolong (oolong tea). Teh hitam kadang-kadang dicampur dengan jeruk nipis (lemon), hingga disebut teh lemon (lemon tea). Sementara teh hijau, sering dicampur dengan bunga melati hingga disebut teh wangi (jasmine tea, chinese tea).

Teh hitam diproduksi dengan tahap pelayuan, penggilingan, oksidasi untuk mengaktifkan eszim dalam jaringan daun teh tersebut, kemudian pengeringan (pemanasan), dan sortasi. Hasilnya dibedakan menjadi broken peco (BP), peco fenning (PF), dan dush. Masing-masing masih dibedakan lagi menjadi kelas 1, 2 dan 3. Teh hijau diproduksi dengan tahapan pelayuan, peremasan, dan pengeringan, tanpa proses oksidasi. kualitas teh hijau, ditentukan oleh kualitas pucuk, yang juga bergantung pada lokasi tumbuh. Semakin tinggi lokasi tumbuh, kualitas puvuk akan semakin baik. Teh oolong, diproduksi sama dengan tahapan produksi teh hijau, namun dengan tambahan separo proses oksidasi.

Teh putih adalah pucuk daun teh yang masih kuncup, yang diproses tanpa pelayuan, peremasan atau penggilingan, dan oksidasi. Kuncup pucuk teh ini langsung dikeringkan, baik dengan dioven maupun dijemur. Teh putih paling sedikit produksinya, dan sekaligus juga paling tinggi harganya. Dari beberapa jenis produk teh ini, teh hitam tidak mungkin diproduksi oleh industri kecil maupun perorangan. Produksi teh hitam harus dikerjakan dalam pabrik besar dengan teknologi modern. Yang berpotensi untuk dikerjakan industri kecil maupun perorangan adalah industri teh hijau, teh oolong dan teh putih. Dari tiga jenis teh ini, yang pasarnya paling luas dan paling baik adalah teh hijau.

# # #

Sebenarnya tanaman teh bisa tumbuh menjadi pohon setinggi 10 m. Karena selalu dipangkas dan dipetik pucuknya, maka tanaman teh di perkebunan hanya tumbuh pendek seperti bonsai, setinggi satu meter. Maksudnya, untuk memudahkan pemetikan. Rumus memetik daun teh, sebenarnya hanya sebatas tiga daun muda yang sudah mekar dan satu daun kuncup. Namun dalam praktek, pemetikan dilakukan sampai dengan lima daun mekar sekaligus. Cara pemetikan demikian, akan sangat berpengaruh terhadap kualitas produk teh yang dihasilkan. Baik teh hitam maupun teh hijau yang berasal dari daun tua, kualitasnya akan kalah dibanding yang berasal dari tiga pucuk daun muda, ditambah satu atau dua kuncup daun.

Pucuk daun untuk semua produk teh, kecuali teh putih, harus melalui tahap pelayuan. Di parik teh, alas rak pelayuan berlubang-lubang, untuk meneteskan air embun atau air hujan pada pemetikan musim penghujan. Untuk mengurangi kadar air daun sampai dengan 25%, di dasar rak dihembuskan udara panas dari blower dan heater. Pada pabrik teh hijau modern, pucuk daun yang sudah dilayukan, dimasukkan ke dalam mesin penggulung. Di mesin ini pucuk daun dipanaskan, sekaligus diaduk-aduk dan dialirkan dalam tabung penggulung, dan segera dikeringkan. Ada pula yang mengolah teh hijau sama dengan teh hitam, yakni melalui penggilingan (pencacahan daun, namun hasilnya langsung dikeringkan.

Proses pembuatan teh hijau, bisa dilakukan secara tradisional (manual), dengan peralatan sederhana. Pucuk daun teh yang baru saja dipetik, dilayukan dalam rak anyaman bambu, yang disusun bertingkat. Proses pelayuan harus dilakukan lebih lama, apabila pucuk yang dipetik terlalu basah akibat embun atau hujan. Setelah kadar air berkurang dan daun tampak layu, pucuk teh itu segera dipanaskan dalam wajan besar, atau rak seng, yang bagian bawahnya diberi pemanas api kayu. Sambil dipanaskan, pucuk teh terus dibalik-balik. Setelah itu, dalam keadaan panas, pucuk teh dimasukkan ke dalam penggilingan (pulping) kopi, hingga daun tergulung namun tidak hancur. Dalam volume terbatas, pucuk teh bisa diremas-remas dengan tangan.

Setelah proses penggulungan, pucuk teh langsung dikeringkan sampai benar-benar kering. Di pabrik, proses ini dilakukan dengan oven yang cukup besar. Secara manual, proses ini bisa dikerjakan dengan memanaskan pucuk teh yang sudah digulung, dalam wajan besar, lalu disangrai pelan-pelan sampai kering. Pada pembuatan teh oolong, proses pelayuan, penggulungan, dan pengeringan ini tidak bisa dilakukan dengan cepat, hingga terjadilah oksidasi yang tidak sempurna. Akibatnya, rasa teh oolong sangat khas, yakni antara teh hitam dengan teh hijau. Pemanasan teh oolong dalam oven, juga menghasilkan beberapa bagian pucuk teh itu hangus. Aroma bagian yang hangus ini, justru menguatkan cita rasa teh oolong.

# # #

Karena tidak melalui proses oksidasi, ketika diseduh teh hijau tidak berwarna cokelat kemerahan, melainkan hanya hijau kekuningan. Kalau teh hitam akan menghasilkan air teh yang pekat, maka air seduhan teh hijau tetap jernih. Namun karena tidak ada enzim yang mengubah struktur klorofil dalam teh hijau, maka rasa pahit dan sepat (kelat) teh hijau justru sangat kuat. Hingga meskipun tampak jernih dengan warna hijau kekuningan, teh hijau tidak bisa diminum dalam volume yang cukup besar. Itulah sebabnya, wadah untuk minum teh hijau di Jepang sangat kecil. Karena dengan wadah minum sekecil itu pun, rasa teh hijau sudah sangat kuat. Minum teh hijau, juga ditenggak sekali habis, seperti halnya minum wisky.

Di Asia, khususnya di China, dan Jepang, teh hijau biasa diminum setelah makan ikan (ikan, udang, kerang, cumi, kepiting), atau daging. Baik daging unggas (ayam, itik), maupun daging mamalia (babi, domba, dan sapi). Minum teh hijau tanpa gula, setelah manyantap ikan dan daging,  dapat mendatangkan suasana nyaman. Mirip dengan tradisi Timur Tengah, dan Eropa, yang minum wine (table wine), setelah menyantap steak. Masyarakat China dan Jepang percaya, bahwa teh hijau akan mampu menetralisir pengaruh buruk lemak dari ikan maupun daging yang disantap seseorang. Hingga teh hijau memang diyakini oleh masyarakat Asia, sebagai penangkal penyakit tekanan darah tinggi, kelebihan kolesterol, asam urat, gula darah, dan serangan jantung.

Bahkan teh hijau juga diisukan mampu mencegah datangnya penyakit kanker. Meskipun beberpa penelitian, menunjukkan bahwa pengaruh teh hijau terhadap pencegahan kanker, tidak pernah terbukti melalui uji farmakologis maupun klinis. Isu tentang kehebatan teh hijau ini, telah mengakibatkan pemanfaatannya menjadi sangat meluas, terutama di Jepang. Teh hijau, bukan hanya bahan minuman teh, melainkan juga diolah menjadi sup, es krim, kue dan lain-lain masakan. Karena isu kehebatan teh hijau, maka pemanfaatannya selalu dikaitkan dengan faktor kesehatan. Teh hijau juga diisukan mengandung antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Meskipun penelitian ke arah itu tidak pernah menunjukkan bukti yang komprehensif.

Sejarah teh, di daratan China, memang berawal dari pemanfaatannya sebagai obat. Kandungan kafein pada teh, memang mampu membuat peminumnya menjadi merasa lebih segar, dan kantuk pun hilang. Namun masyarakat China pada awal milenium I, percaya bahwa teh berkhasiat untuk mencegah datangnya macam-macam penyakit, bahkan mampu membuat para peminumnya berumur panjang. Mitos tentang teh ini masih terus hidup sampai sekarang, hingga teh dipercaya, bukan hanya sebagai pencegah datangnya penyakit, melainkan juga mampu menyembuhkannya. Padahal untuk berfungsi sebagai bahan obat, diperlukan berbagai upaya penelitian, baik penelitian farmakologis, maupun klinis.

# # #

Meskipun teh varietas assamica juga bisa diproduksi menjadi teh hijau, namun kualitas tehnya tidak sebaik teh yang berasal dari pucuk tanaman varietas sinensis. Sebenarnya, yang pertama-tama didatangkan bangsa Belanda ke Jawa dan Sumatera adalah Camelia sinensis var. sinensis. Namun karena hasil pucuknya kecil, maka Belanda kemudian mendatangkan Camelia sinensis var. assamica, dari India. Ciri teh varietas sinensis adalah, daunnya lebar-lebar, dengan bentuk lebih bulat, dengan lekukan pada tepi daun lebih besar, dan warna hijau tua. Teh varietas sinensis, daunnya lebih meruncing, dan lebih kecil. Warnanya juga hijau terang, dengan gerigi tepian daun lebih kecil dan halus.

Tanaman teh memang sudah mulai bisa tumbuh baik pada ketinggian sekitar 500 m. dpl. Kebun-kebun teh di Jawa, yang terletak di lereng gunung, umumnya berawal pada ketinggian sekitar 500 m. dpl. Bahkan banyak yang sudah dimulai pada ketinggian 400 m. dpl. Namun pucuk daun teh kualitas terbaik, baru akan diperoleh dari tanaman yang tumbuh pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl. dan dengan naungan cukup. Kebun teh Wonosari di Lawang, Jatim, (PTPN XII), dan kebun Pagilaran di Batang, Jateng (UGM, Yogya), serta kebun teh Ciater di Subang, Jabar, (PTPN VIII), berelevasi mulai dari ketinggian sekitar 500 m. dpl, sampai dengan 1.700 m. dpl. Hingga kualitas pucuk yang diohasilkan juga beragam.

Sebaliknya, kebun teh Tambi di Wonosobo, Jateng (Swasta), Malabar, Bandung Selatan, Jawa Barat, (PTPN VIII), dan Kayu Aro di Kerinci, Jambi (PTPN IV); terletak pada ketinggian merata, antara 1.200 sampai dengan 1.700 m. dpl. Itulah sebabnya pucuk yang dihasilkan dari kebun-kebun ini, kualitas juga cukup baik, dengan tingkat keseragaman yang merata. Di RRC, dan Taiwan pun, teh oolong kualitas terbaik juga dihasilkan dari kebun dengan ketinggian merata 1.500 m. dpl. Di desa-desa di pegunungan di Jawa, pagar halaman, pagar jalan dan kebun, banyak yang menggunakan tanaman teh-tehan. Kalau pagar hidup ini menggunakan tanaman teh asli, dan masyarakat memroduksinya menjadi teh hijau, maka pendapatan mereka akan bisa ditingkatkan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s