PEREMAJAAN TANAMAN BUAH

Agroindustri perkebunan seperti sawit, karet, teh dan kakao, harus dibongkar total ketika diremajakan. Setelah itu, lahan kembali diolah, untuk ditanami komoditas serupa, namun dengan benih yang lebih unggul. Hingga pekebun atau petani, akan potensial kehilangan penghasilan, sampai dengan tanaman baru bisa kembali menghasilkan. Pada tanaman buah, hal ini bisa dihindari, dengan cara menebang pohon buah yang sudah tua, kemudian menyambungnya dengan entres tanaman baru, yang lebih unggul dibanding tanaman lama. Hal seperti ini sudah biasa dilakukan di Thailand. Pohon durian yang sudah berkurang produktivitasnya, ditebang, kemudian tunas yang tumbuh disambung dengan entres durian baru yang lebih unggul.

Bernard Sadhani, pekebun durian dari Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat, juga pernah menyambung tanaman duriannya, meskipun dengan tujuan yang berlainan. Tahun 1990, ia menanam durian monthong, dengan benih yang ia beli dari Bogor, Jawa Barat. Tahun 1995, duriannya mulai berbuah. Ternyata, pada tahun 1996, ketahuan bahwa sebagian besar dari tanaman duriannya yang sudah berbuah itu bukan montong, melainkan cop, yakni jenis durian yang di Thailand sudah tidak dikembangkan lagi. Bernard Sadhani lalu memotong tanaman durian copnya, setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah. Tidak lama kemudian tumbuh banyak tunas baru. Tunas inilah yang kemudian disambungnya dengan entres yang benar-benar monthong.

Hampir semua tanaman buah bisa diperlakukan demikian. Di pusat penelitian jagung dan sorghum di Thailand, jalan yang menghubungkan pintu gerbang dengan komplek banguan, ditanami mangga  sebagai peneduh. Karena hanya sebagai peneduh, maka yang ditanam mangga asal biji, dan jenisnya juga tidak ketahuan. Umur tanaman ini sudah puluhan tahun, ada yang berbuah, ada juga yang tidak mau berbuah. Buah yang keluar, juga kecil-kecil dan masam. Lalu ada seorang peneliti yang iseng, memangkas cabang tanaman ini, kemudian menyambungnya dengan mangga Nam Doc Mai, Ngar Charn, Okyong, Rad, Choke Anand, Kao Keaw, Keow Savoey, Pimsenmum, dan lain-lain. Karena ia rajin memangkas dan menyambung setiap hari libur, maka setelah bertahun-tahun seluruh tanaman peneduh itu telah tersambung dengan mangga unggul, dan menghasilkan buah.

# # #

Di Indonesia, komoditas buah umumnya berasal dari tanaman di kebun rakyat, atau dari pekarangan rumah. Namun kalau dikumpulkan, volume hasilnya juga cukup besar. Sebab tanaman-tanaman tersebut sudah beumur puluhan tahun. Rambutan di Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, yang tumbuh di kebun dan pekarangan rumah, populasinya sangat besar. Sayangnya, yang dibudidayakan rakyat adalah rambutan lebak bulus. Meskipun produktivitasnya tinggi, namun banyak kelemahan lebak bulus sebagai buah segar. Pertama kulitnya, terutama rambutnya, akan mudah rusak da menghitam. Daging buah rambutan ini juga alot dan masam. Kulit bijinya juga akan terikut ngelotok ketika daging buahnya diambil. Beda dengan binjai, yang kulit serta bulunya keras dan kaku, daging buahnya manis serta tidak lengkap di kulit biji.

Kalau pemerintah kabupaten di provinsi-provinsi tadi memang ingin adanya peningkatan pendapatan asli daerah, semua tanaman rambutan ini harus diremajakan, tanpa perlu membongkar tanamannya. Di kawasan ini, tanaman rambutan sudah bercabang pada ketinggian 1 sampai 2 m. di atas tanah. Sebab dulu, benihnya berasal dari cangkokan. Karena pada ketinggian 1 sd. 2 m. sudah ada cabang, maka penyambungan bisa dilakukan secara bertahap. Kalau ada tiga cabang, maka tahun ini dilakukan penyambungan hanya di satu cabang saja. Tahun depan pada cabang kedua, dan seterusnya, sampai dengan penyambungan pada cabang ketiga.

Pada waktu itulah tunas yang disambungkan pada cabang pertama sudah mulai berbuah. Hingga peremajaan tanaman rambutan di Lampung, Banten,  dan Jawa Barat, tidak akan mengakibatkan tanaman berhenti berproduksi. Selain rambutan, tanaman rakyat yang juga bisa diremajakan seperti ini adalah mangga, terutama di Idramayu, Cirebon, Majalengka, dan Kuningan (Jawa Barat); di Rembang (Jateng) dan di sepanjang Pantai Utara Jawa Timur, serta Bali. Jambu air juga merupakan komoditas buah yang permintaan serta pasokannya tidak pernah berimbang. Padahal tanaman jambu air sebagai peneduh jalan dan halaman rumah, merata di seluruh kota di dataran rendah di Jawa. Hanya jenisnya saja yang bukan jambu air unggul.

Mangga yang pasarnya cukup bagus, selain varietas introduksi dari Thailand adalah harummanis, gadung, manalagi kecil, gedong gincu, cengkir, dan golek. Varietas jambu air yang populer adalah cincalo gondrong, citra, lulin merah, lilin hijau, bangkok hijau, black pearl, black diamond, dan king rose. Kalau penyambungan tanaman buah  ini bisa dilakukan, maka dalam jangka waktu dekat kita akan menjadi penghasil rambutan, mangga, dan jambu air untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun ekspor. Sebab Taiwan, sudah sejak lama mengembagkan jambu air, yang mereka ekspor dengan nama  jawa aple atau water aple. Padahal dari namanya pun, jelas jambu air adalah komoditas kita, tetapi yang berhasil mengembangkan dan mengekspornya justru Taiwan.

# # #

Menyambung tanaman yang sudah cukup besar, memang memerlukan teknik tersendiri. Kalau tidak, bekas sambungan itu akan mudah lepas (copot), ketika tanaman tertiup angin kencang. Teknik ini disebut sebagai “membuat pohon bolong”.  Ketika pohon yang sudah berdiameter 50cm, ditebang rata pada ketinggian 1,5 m. misalnya, akan menghasilkan permukaan tebangan berupa lingkaran, yang juga bergaris tengah 50 cm. Kalau permukaan tebangan miring, maka bekas tebangan akan berupa elips, dengan garis tengah bagian yang terpanjang, lebih dari 50 cm. Pinggir bekas tebangan ini, baik berupa lingkaran maupun elips, akan segera dipenuhi oleh tunas-tunas baru. Setelah mencapai panjang sekitar 1 m, dipilih dua tunas terbaik, yang letaknya persis berseberangan.

Salah satu dari dua tunas, ini segera disambung dengan entres dari varietas yang lebih unggul. Agar dua tunas terpilih ini tidak patah, atau lepas dari batang, perlu dibuatkan galah atau ajir yang diikatkan pada batang utama. Setelah sambungan itu berhasil, maka dua tunas yang sekarang sudah menjadi ranting itu ditunggu sampai mencapai panjang sekitar 1,5 m. Pelan-pelan dua cabang ini dilengkungkan, dan ujungnya dipertautkan, hingga dua cabang ini sepintas akan membentuk lingkaran. Bagian yang dipertautkan itu, kemudian disayat kulitnya, dan disatukan lalu dibebat dengan plastik atau isolasi. Ditunggu sampai dua ranting ini benar-benar menyatu. Setelah menyatu, pucuk ranting yang masih merupakan tanaman asli, dibuang, sementara tunas sambungan dipelihara terus.

Kalau sambungan tumbuh dengan baik, dan dua ranting yang dipertautkan juga menempel terus, maka tunas-tunas lain di sekitar bekas tebangan bisa dibuang. Sekarang, pada bekas tebangan pohon buah yang diremajakan itu, akan tampak dua tunas baru, yang melengkung dan ujungnya ditautkan. Dua tunas yang ditautkan ini membentuk lingkaran, dan pada ujung atasnya tampak tunas sambungan. Teknik ini digunakan, agar tunas baru, tidak mengalami patah atau lepas setelah tumbuh menjadi pohon besar nantinya. Kalau batang sambungan sudah sebesar batang lama yang ditebang, maka bentuk pohon ini akan tampak aneh, yakni pecah, melebar, dan menyatu lagi hingga sepintas menjadi seperti pohon bolong.

# # #

Di Thailand, banyak agroindustri durian atau mangga, yang mengandalkan  pohon yang bolong karena pernah disambung. Di kebun durian Bernard Sadani di Cianjur, penyambungan durian ini tidak sampai menghasilkan pohon bolong, karena dua tunas sudah dipertautkan, ketika panjangnya masih di bawah 50 cm. Hingga dua tunas tersebut akhirnya menyatu lagi membentuk batang yang benjol. Kalau penyambungan dilakukan setelah tunas mencapai panjang minimal 1,5 m. maka akan tercipta pohon bolong, dengan lubang yang cukup besar. Terlebih kalau penautan dua tunas, baru dilakukan setelah ranting mencapai panjang 2 m.

Keuntungan meremajakan tanaman buah dengan penebangan dan penyambungan batang lama adalah, menghemat batang bawah, yang sudah memiliki perakaran cukup kuat, serta melebar ke mana-mana. Sayang kalau akar yang sudah punya akses ke mana-mana untuk mencari nutrisi ini tidak termanfaatkan. Pada tanaman rambutan yang percabangannya sudah dimulai dari ketinggian batang sekitar 1 sd. 1,5 m. penyambungan bisa dilakukan secara bertahap, hingga tidak terjadi stagnasi hasil panen. Sebab sambil menunggu salah satu cabang yang dipotong dan disambung bisa kembali produktif, maka cabang lain akan tetap menghasilkan buah.

Upaya ini sebaiknya segera dilakukan oleh dinas pertanian di kabupaten setempat, bekerjasama dengan Direktorat Budidaya Tanaman Buah, dan Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Departemen Pertanian. Khusus provinsi Lampung, sebenarnya bisa sangat memanfaatkan Balai Benih Induk (BBI) Pekalongan di Metro. BBI adalah milik provinsi Lampung, yang mampu membina sentra penangkaran tanaman buah terbesar di Indonesia. Namun kemampuan BBI Lampung ini, belum pernah termanfaatkan secara optimal untuk meremajakan tanaman rambutan yang ada di Lampung, telebih di provinsi lain. (R) # # #

One thought on “PEREMAJAAN TANAMAN BUAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s