BENIH PADI HIBRIDA DAN TRANSGENIK

Benih produk pertanian untuk budidaya komoditas pangan, terdiri dari beberapa macam. Mulai dari benih konvensional (spesies, varietas), benih rekayasa genetika, dan benih hibrida. Rekayasa genetika bisa dilakukan dengan beberapa cara. Mulai dari penyinaran dengan radiasi sinar gama, sampai dengan menyusupkan bakteri ke dalam gen tumbuhan penghasil pangan tersebut. Hibrida, sebenarnya juga merupakan upaya rekayasa genetika, yakni menonjolkan gen positif (unggul) dan menekan atau menghilangkan gen negatif. Hanya, pada benih hibrida, rekayasa genetika ini dilakukan mulai dengan memilih induk yang cocok, lalu menyilangkannya.

Dalam menciptakan benih unggul, pertama-tama dilakukan pemurnian spesies atau varietas, kemudian menyeleksinya. Tahun 1960an, upaya pemuliaan benih padi telah sampai ke jalan buntu. Padahal penduduk di Asia, khususnya RRC, India dan Indonesia, mengalami lonjakan pertumbuhan yang luar biasa, pasca Perang Dunia II. Hingga di kawasan ini, kebutuhan beras akan mengalami lonjakan yang luar biasa pula. Ketika itu International Rice Research Institute (IRRI), berusaha menemukan tanaman padi  liar (Oryza sativa) di habitat aslinya. Rumput Oryza sativa akhirnya ditemukan di perbatasan India, Tibet, dan RRC, di lereng pegunungan Himalaya.

Oryza sativa liar ini, kemudian digunakan sebagai tetua (induk) guna menciptakan varietas dan kultivar padi baru. Untuk itu, genetik padi yang terdiri dari 12 kromosom (diploid), dipetakan. Peta genetik padi ini, menjadi dasar dari upaya pemuliaan, untuk menciptakan varietas, kultivar dan kemudian padi hibrida. Rumput Oryza sebenarnya terdiri dari tujuh spesies, yakni  Oryza sativa; Oryza glaberrima; Oryza barthii; Oryza latifolia; Oryza longistaminata; Oryza  punctata; dan Oryza rufipogon. Oryza sativa sendiri, terdiri dari tiga varietas, yakni Oryza sativa varietas Indica; Oryza sativa varietas Japonica; dan Oryza sativa varietas Javanica.

# # #

Setelah diketemukan Oryza sativa liar, dan genetik padi dipetakan, dilakukanlah upaya pemuliaan, untuk menciptakan kultivar baru yang unggul, dengan potensi hasil tinggi. Kultivar unggul pertama yang berhasil diciptakan adalah IR5 dan IR8, yang hasilnya tinggi, namun rasa nasinya masih tidak seenak padi varietas lama. Namun padi IR64 yang volume sekarang paling banyak dibudidayakan di Indonesia, rasa nasinya sudah jauh lebih enak dibanding dengan IR5 dan IR8. Kultivar-kultivar baru, umumnya berindukkan keturunan dari IR5 dan IR8 ini. Meskipun produktivitas dan kualitas berasnya akan terus menurun, padi kultivar unggul tetap masih bisa dijadikan benih oleh para petani, sampai dengan F5.

Padi hibrida sama sekali tidak bisa dibenihkan kembali oleh petani. Sebab apabila padi hasil panen petani ditanam lagi, hasilnya akan kembali kepada dua induknya. Hingga petani mutlak harus membeli benih hibrida, setiap kali tiba saatnya musim tanam. Meskipun hasilnya tinggi, biaya produksi padi benih hibrida juga tinggi. Sebab harus diciptakan galur murni berdasarkan peta genetik padi, yang akan dijadikan induk sesuai dengan keinginan. Misalnya, ingin hasilnya tinggi, dan tahan terhadap hama wereng. Atau ingin yang nasinya pulen, yang aromanya wangi dan lain-lain. Kalau ingin padi yang aromanya wangi, maka akan diambil induk yang memiliki gen penghasil aroma wangi sangat kuat.

Setelah ratusan galur murni diketemukan, maka induk-induk ini saling disilangkan, sampai diketemukan hasil silangan yang paling cocok dengan keinginan. Setelah upaya ini berhasil dilakukan, barulah dua induk terpilih ini diperbanyak secara massal sebagai induk. Dari dua induk terpilih inilah kemudian, padi hibrida diciptakan, dengan hasil seperti yang diinginkan oleh para pemulia. Umumnya, padi hibrida diharapkan mampu memberikan hasil panen paling tinggi, yakni di atas 10 ton per hektar, per musim tanam. Badan Litbang Pertanian, sebenarnya juga sudah mempunyai beberapa padi hibrida. Termasuk  Hipa 5 CEVA 2007, dan Hipa 6 JETE 2007, yang dilepas Presiden SBY di Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.

Selain HIPA, padi hibrida hasil pemuliaan Badan Litbang Deptan lainnya adalah: Galur CMS A1, 2007; Galur CMS A2, 2007; Galur Restorer R 17, 2007; Galur Restorer R 32 2007; Hipa-3 2004; Hipa-4 2004; IR8025/BR827-35, 2002; dan Maro Rokan. Meskipun sudah punya padi hibrida, kita juga masih tetap mengembangkan benih padi sawah, padi ladang (gogo) dan padi rawa. Kultivar padi sawah kita adalah:  Ciherang; Cisantana; Tukad  Petanu; Tukad  Balian; Tukad Unda; Celebes; Kalimas; Bondoyudo; Singkil; Sintanur; Cimelati; Konawe; Batang;  Gadis; Ciujung; Code; Angke; Wera; Sunggal; Gilirang; Cigeulis; Setail; Luk;  Ulo; Cibogo; Batang;  Piaman; Batang;  Lembang; Ciapus; Pepe; Logawa; dan Fatmawati. Padi gogo kita adalah: Danau Gaung; Batutegi; Silugonggo; Situ Patenggang; dan Situ Bagendit. Padi rawa kita: Indragiri; Punggur; Martapura; Margasari; Siak Raya; Tenggulang; Lambur; dan Mendawak.

# # #

Negara penghasil padi utama yakni India, RRC, Indonesia, dan negara-negara di Indochina, belum mengembangkan benih padi transgenik. Sebab isu benih transgenik masih sangat kontroversial. Sebenarnya, teknologi penciptaan benih transgenik, hanya merupakan salah satu metode untuk menciptakan kultivar unggul. Karena peta genetik komoditas pangan hampir semuanya sudah terdokumentasi, maka berbagai metode pembenihan bisa dilakukan. Pertama tentu dengan metode penyilangan, antara dua kultivar atau verietas, hingga dihasilkan kultivar baru yang lebih unggul. Meskipun hanya menggunakan teknologi penyilangan, namun seleksi induknya tetap menggunakan dasar peta genetik yang sudah ada.

Selain dengan penyilangan biasa, perbaikan genetik juga dilakukan dengan radiasi. Tanaman muda atau kecambah diradiasi dengan sinar Gamma, untuk mengubah karakter genetik tertentu menjadi lebih positif. Kemudian muncul teknologi pembuatan benih hibrida, yang hanya menghasilkan benih sekali pakai. Teknologi transgenik, sebenarnya juga tetap menggunakan dasar peta genetik yang ada. Pada teknik transgenik, genetik padi itulah yang langsung diubah, dengan memotong rantai tertentu, dan menyambungnya (mencangkokkan) gen unggul dari kultivar/varietas lain. Sampai di sini, sebenarnya tidak ada permasalahan dalam pembenihan menggunakan teknologi transgenik.

Kontroversi benih transgenik, berawal dari ide para pengusaha benih AS, untuk melipatgandakan hasil jagung, kedelai, kacang tanah, dan kapas. Ke dalam gen yang bertugas memerintahkan pertumbuhan biji, disusupkanlah gen bakteri. Karena merasa ada pengganggu yang berasal dari gennya, maka gen pembentuk biji itu akan memerintahkan agar biji membesar, guna melawan gen bakteri tersebut. Jagung, kedelai, kacang tanah, dan kapas dari AS ini kemudian memang mencapai ukuran raksasa, dan hasilnya pun bisa dua kali lipat dari benih biasa. Meskipun pengusaha benih sudah menjamin bahwa gen bakteri yang disusupkan ke dalam produk pangan tersebut aman bagi manusia, namun lembaga konsumen tetap memprotesnya.

Terlebih lagi setelah peternak juga mulai menggagas, adanya produk susu sapi yang kualitasnya sama dengan susu manusia. Maka mereka pun mencoba menyusupkan gen manusia ke dalam gen penghasil susu pada sapi. Diharapkan, kualitas susu yang dihasilkan oleh sapi transgenik itu bisa sama kualitasnya dengan ASI. Ketika gagasan ini dilontarkan, maka protes pun terjadi di mana-mana. Hingga benih transgenik pun ditentang. Termasuk benih kapas transgenik yang pernah didatangkan oleh Monsanto ke Indonesia. Para pemrotes itu tidak tahu, bahwa tempe yang selama ini kita makan, sebagian besar berasal dari kedelai transgenik yang kita impor dari AS. Jadi para aktivis  LSM itu memprotes benih kapas transgenik, tetapi tetap makan tempe dari kedelai transgenik, tanpa protes apa pun.

# # #

Produksi beras kita, sebenarnya tidak jelek-jelek amat sekarang ini. Tetapi kalau kondisi sistem produksi padi ini tetap kita biarkan tanpa adanya pembenahan, maka 10 sampai 15 tahun lagi mungkin kita akan kembali menjadi importir beras terbesar di dunia, setelah India dan RRC berhasil selama sekian tahun bisa stabil mempertahankan surplus beras mereka. Namun membenahi sistem produksi padi, tidak sama dengan mengupayakan swasembada. Terlebih kalau upaya swasembada itu ditargetkan tahun 2008, untuk mengambil hati rakyat, guna menghadapi pemilu 2009. Peningkatan hasil padi, tidak hanya ditentukan oleh benih. Sebab benih hanyalah salah satu faktor penentu, tinggi rendahnya produksi.

Masih ada beberapa faktor lain yang akan menentukan tinggi rendahnya produksi padi. Yakni nutrisi yang ada dalam tanah, struktur tanah, air, sinar matahari, angin, serangan hama serta penyakit. Ini semua faktor alam. Faktor petani sendiri juga akan sangat menentukan, misalnya kelembagaan, modal, skil dan kepemilikan lahan. Faktor-faktor yang langsung berhubungan dengan petani inilah yang sebenarnya mendesak untuk dibenahi. Sebab faktor-faktor ini lebih serius untuk diperhatikan, dibanding sekadar mengimpor benih hibrida dari RRC. Terlebih lagi, selama ini kita juga sudah punya beberapa kultivar hibrida, yang sudah terbukti unggul dan cocok dengan agroklimat negeri sendiri.

Selain dikhawatirkan tidak cocok secara agroklimat, benih padi hibrida asal RRC, berindukkan padi jepang yang pulen untuk dimakan dengan sumpit (Oryza sativa varietas Japonica). Sementara padi kita adalah padi india dan jawa (Oryza sativa varietas Indica, dan Oryza sativa varietas Javanica). Sekarang ini, di beberapa kawasan pegunungan yang berhawa sejuk, sudah mulai dibudidayakan padi jepang, untuk menyuplai restoran-restoran jepang yang sekarang ada di mana-mana. Dibandingkan dengan mendatangkan beras dari Jepang, tentu lebih murah apabila mendatangkan dari kawasan Bogor, Sukabumi, atau Cianjur, untuk restoran Jepang di Jakarta. Yang jelas, kita sebenarnya sudah cukup banyak punya benih padi hibrida. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s