PROSPEK BUDIDAYA KACANG PANJANG

Sayuran yang berpotensi dibudidayakan di dataran rendah antara lain kangkung, terong, bayam, selada, caisim, mentimun, pare, oyong, dan kacang panjang. Di antara sayuran dataran rendah tersebut, prospek budidaya kacang panjang termasuk yang cukup baik. Sebab resiko serangan hama, terutama hama kepik yang paling sering menimpa mentimun, oyong, dan pare, tidak menyerang kacang panjang. Harga kacang panjang juga relatif stabil, serta tergolong lebih tinggi dibanding jenis sayuran dataran rendah lainnya. Namun harga yang cukup stabil dan baik ini, akan hancur total apabila sayuran ini diproduksi secara massal.

Di Prov. Kalimantan Timur (Kaltim), beberapa tahun yang lalu pernah terjadi kasus hancurnya harga kacang panjang. Kawasan luar Jawa, kecuali Sumatera dan Sulawesi, pada umumnya selalu kekurangan sayuran. Karena kacang panjang bisa dibudidayakan di dataran rendah dan harganya cukup bagus, maka ada beberapa petani di Kaltim yang membudidayakan kacang panjang. Di Kaltim, ada beberapa perusahaan besar, baik BUMN, swasta nasional maupun swasta asing, yang selalu memerlukan sayuran. Maka masyarakat pun ikut membudidayakan kacang panjang secara massal. Akibatnya harga jatuh, dan produk sayuran ini terbuang sia-sia.

Hingga budidaya kacang panjang, juga harus disesuaikan dengan volume permintaan. Penanaman harus dilakukan seminggu sekali, dengan luas areal yang kalau dipanen setiap hari, akan pas dengan permintaan pasar. Dengan cara ini, tidak akan terjadi over suplai. Kalau masyarakat juga berkeinginan melakukan hal yang sama, sebaiknya dibuat kelompok tani atau koperasi, agar masing-masing petani menanam sesuai dengan jadwal dan kuota. Lebih baik lagi kalau dalam satu kelompok itu dikembangkan sekaligus semua sayuran dataran rendah. Hingga variasi produk yang dihasilkan, akan lebih sesuai dengan tuntutan pasar.

# # #

Kacang panjang adalah tumbuhan dari genus Vigna, yang terdiri dari beberapa spesies. Spesies yang dibudidayakan sebagai bahan pangan, termasuk sayuran antara lain : Vigna (V) acontifolia (moth bean); V. angularis (azuki bean); V. lanceolata (pencil yam); V. mungo (urad bean, black gram); V. radiata (mung bean, green gram, kacang hijau);  V. subterranea (bambara groundnut); V. umbellata (rice bean); V. unguiculata (cowpea, kacang tunggak, kacang tolo); V. unguiculata ssp. cylindrica (catjang); V. unguiculata ssp. dekindtiana (black-eyed pea); V. unguiculata ssp. sesquipedalis (yardlong bean, kacang panjang); V. unguiculata ssp. unguiculata (southern pea); V. vexillata (zombi pea); dan (V. caracalla).

Varietas yang cocok dibudidayakan di dataran rendah ada dua, yakni Varietas kacang panjang 1 (KP 1) atau No. 1019, dan Varietas kacang panjang 2 (KP 2) atau No. 1018. Dua varietas ini tumbuh merambat. KP 1 berasal dari Bekasi, Jawa Barat, dan toleran dibudidayakan sampai dengan ketinggian di atas 500 m dpl  Panjang polong KP 1 sekitar 44-75 cm, berwarna hijau tua, rasanya agak manis, dan renyah. Satu individu  tanaman menghasilkan 4-15 polong. Biji KP 1 bulat panjang agak gepeng,  dan berwama cokelat tua berbelang putih setelah tua. Tinggi tanaman mencapai 2 m lebih. Mulai berbunga pada umur 28 hari, dan umur 59-79 hari sudah dapat dipanen. Produksi rata-ratanya 6,2 ton polong segar, atau  0,4 ton biji kering per hektar.

Varietas KP 2 berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan hanya toleran dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian di bawah 500 m dpl.  Polong KP 2 lebih langsing, dengan panjang 35-60 cm. Warna polong hijau,  hasil polong per tanaman mencapai 5-18 buah, lebih banyak dari KP l. Polong muda renyah dan agak manis. Biji polong tua berwama cokelat muda. Tinggi tanaman 2 m lebih. Mulai berbunga pada umur 30 hari. Kacang panjang untuk sayur dipanen pada umur 58-80 hari sesudah tanam, dengan tingkat produksi 5,9 ton/ha. Hasil panen biji kering sekitar 0,5 ton/ha. Dua varietas inilah yang sekarang banyak dibudidayakan masyarakat. Meskipun penampilan mereka, sekarang kalah dibanding dengan varietas-varietas impor dari Taiwan.

Kacang panjang dibudidayakan dengan benih berupa biji dari polong tua. Benih kacang panjang bisa dibeli di pasar-pasar tradisional. Sementara benih impor, khususnya eks Taiwan dan Thailand, dijual di toko serta kios penjual sarana pertanian. Para petani kacang panjang, umumnya membuat benih sendiri. Caranya, dengan menyeleksi polong yang penampilannya bagus, lalu memeliharanya sampai tua dan mengering. Setelah dipanen, polong ini dijemur kemudian dikupas untuk diambil bijinya, sebagai benih. Masa dorman benih kacang panjang cukup pendek, yakni hanya sekitar tiga bulan. Namun benih dengan tetap membiarkannya dalam polong, benih akan mampu bertahan sampai satu tahun. Tiap hektar lahan memerlukan  benih sekitar 15-20 kg.

# # #

Meskipun merupakan tanaman lahan kering, saat ini budidaya kacang panjang hampir selalu dilakukan di lahan sawah. Termasuk budidaya pada musim penghujan. Lahan untuk budidaya kacang panjang harus dibuat guludan selebar 75 cm, dengan tinggi sekitar 50 cm. Pada pinggir petakan lahan, selalu dibuat parit sedalam lebih dari 1 m, sebagai sarana drainase. Pada puncak guludan itulah dibuat lubang tanam dengan menggunakan tugal. Jarak antar lubang tanam bervariasi antara 25 sd. 30 cm. Ke dalam tiap lubang tanam, dimasukkan dua biji benih. Bersamaan dengan penebaran benih, dimasukkan pula pupuk urea dicampur pupuk kandang. Biji akan tumbuh antara tiga sampai dengan empat hari.

Karena merupakan tumbuhan merambat, kacang panjang mutlak memerlukan tiang rambatan yang disebut ajir. Tumbuhan ini merambat dengan cara membelit. Bahan ajir umumnya berupa belahan bambu yang telah tua, sepanjang 2 m. Satu ajir ditancapkan miring, dan bagian ujungnya menyatu dengan ajir di seberangnya. Ujung dua ajir ini kemudian diikat dengan tali, dan disambung dengan ujung dua ajir di sebelahnya. Dengan formasi ajir seperti ini, tanaman kacang panjang akan bisa merambat dan tahan terhadap terpaan angin kencang. Ajir bisa dipasang sebelum penebaran benih, atau sesudah benih mulai tampak tumbuh. Ajir yang berasal dari bahan bambu tua, akan bisa digunakan pada musim tanam berikutnya.

Kacang panjang memerlukan pupuk kandang 10-15 ton per hektar. Pupuk anorganik yang diperlukan adalah Urea sebanyak 50 kg per hektar, TSP sebanyak 100 kg, dan KCl 100 kg. Urea diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama pada waktu tanam, dan kedua pada waktu tanaman berumur 3 minggu. Setiap pemberian dosisnya 0,5 dari jumlah dosis total. Sedang jenis pupuk yang lain dapat diberikan sekaligus. Pupuk urea bisa diberikan cukup 0,5 dosis saja, karena sisa urea pada budidaya padi masih tersisa di dalam tanah. Selain itu, kacang panjang juga mampu mengikat nitrogen secara langsung dari udara, serta menyimpannya dengan bantuan bakteri rhizobium di dalam bintil akar.

Kacang panjang rentan terhadap beberapa hama dan penyakit tumbuhan. Antara lain bercak daun akibat serangan jamur Cercospora sp. Gejalanya berupa bercak pada daun, yang diikuti oleh kerusakan hingga daun rontok. Penyakit karat daun dan busuk polong, juga sering menyerang tanaman, bersamaan dengan serangan  cendawan Colletotrichum. Penyakit-penyakit ini, terutama menyerang pada areal tanaman dengan kelembapan tinggi. Tanaman yang dibudidayakan di areal sawah yang terbuka, dengan sinar matahari penuh sepanjang hari,  umumnya akan terhindar dari serangan penyakit ini. Untuk pencegahan terhadap tiga jenis penyakit ini, dapat disemprotkan Antracol 70 WP dengan dosis 2-4 ml/1 air.

# # #

Panen kacang panjang bisa dilakukan beberapa kali. Panen pertama dilakukan  umur. 50-60 hari setelah tanam. Polong yang tepat untuk dipanen, warnanya hijau segar dan masih padat. Polong yang sudah tidak padat lagi, isinya mengeras dan kulitnya berserat, tak cocok untuk dipanen sebagai sayuran. Polong demikian lebih tepat dijadikan benih, atau dikonsumsi bijinya. Jarak antara satu panen dengan panen berikutnya pada satu hamparan tanaman, dilakukan seminggu sekali. Ini bisa berjalan selama masa produktif,  selama sekitar 4 bulan. Setelah itu tanaman dibongkar untuk budidaya komoditas lain. Limbah tanaman yang masih segar, bisa dijadikan pakan ternak, terutama kambing dan sapi.

Selain hasil panen berupa polong, kacang panjang juga menghasilkan sayuran daun. Daun muda dan pucuk tanaman yang tidak produktif, biasanya dipanen untuk bahan sayuran. Di pasar-pasar swalayan Jakarta, sekarang sudah banyak dijual daun kacang panjang sebagai sayuran. Petani yang kreatif, sering memanfaatkan tanaman tua sebagai penghasil sayuran. Caranya, tanaman yang sudah tidak produktif dibabat dan dicabut ajirnya, namun pangkal tanaman disisakan sepanjang 30 sd. 40 cm. Dari pangkal tanaman inilah akan muncul tunas-tunas muda yang segera bisa dipanen sebagai sayuran daun. Cara ini hanya bisa dilakukan, apabila sawah tidak akan segera diolah untuk budidaya padi.

Sama halnya dengan kedelai dan kacang hijau, kacang panjang yang dibudidayakan di lahan sawah akan mampu meningkatkan hasil padi pada penanaman berikutnya. Sebab daun-daun yang rontok akan menyuburkan lahan, dan bintil akar yang tersisa dalam tanah, akan menambah unsur nitrogen. Yang perlu diperhatikan adalah, jangan sampai penanaman kacang panjang dilakukan secara massal, hingga terjadi over produksi. Di Jawa, umumnya budidaya kacang panjang dilakukan oleh petani sudah dengan perhitungan yang cermat. Namun tidak demikian halnya pada para petani di luar Jawa. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s