POTENSI KELINCI SEBAGAI SUBSTITUSI AYAM

Merebaknya flu burung belakangan ini, telah mengakibatkan konsumen daging ayam was-was. Peternak ayam broiler banyak yang kolaps. Alternatif pengganti ayam broiler paling dekat adalah ayam kampung. Selain rasa dagingnya lebih lezat, ayam kampung juga diisukan tahan terhadap flu burung. Ternyata secara teknis ayam kampung, tidak mungkin dimasalkan. Sebab dengan dimasalkan, biaya pakan dan perawatan, tidak sebanding dengan pertumbuhan dagingnya. Dengan dimasalkan, ayam kampung juga menjadi rentan penyakit unggas, termasuk flu burung.

Alternatif unggas pengganti ayam broiler memang masih banyak, antara lain itik pedaging, itik manila, kalkun, angsa, merpati potong, dan puyuh. Namun semua itu masih jenis unggas, yang juga potensial terserang flu burung. Meskipun itik, entok dan angsa yang diliarkan relatif tahan terhadap pengakit unggas, namun mereka tetap bisa menjadi fektor (pembawa/penular) tanpa menjadi sakit. Ini justru lebih berahaya dibanding dengan unggas yang terserang flu burung dan langsung mati. Hingga pada prinsipnya, semua unggas, baik yang petelur, pedaging maupun pets (hewan piaraan), potensial tertular flu burung.

Mamalia yang dagingnya mendekati daging ayam, dan secara teknis bisa diternakkan secara massal adalah kelinci. Meskipun di beberapa negara, misalnya di Australia, kelinci telah menjadi hama yang sangat merugikan peternakan maupun pertanian. Jauh sebelum merebaknya flu burung, sejak sekitar satu dekade terakhir, peternakan kelinci di Bogor dan Bandung, Jawa Barat, telah berkembang cukup pesat. Sebab konsumen daging kelinci, terutama untuk keperluan diet dan dan penyembuhan penyakit, telah tumbuh dengan cukup baik. Selain berupa karkas, daging kelinci di Bogor dan Bandung sudah diolah menjadi nugets dan sosis rendah kolesterol.

# # #

Kelinci adalah hewan keluarga Leporidae, ordo Lagomorpha, kelas Mamalia. Dalam keluarga Leporidae, dibedakan rabbit (delapan genera) dan hare (genus Lepus, 33 genera). Di Indonesia, rabbit dan hare sama-sama disebut kelinci. Delapan genera rabbit adalah Genus Pentalagus (Amami Rabbit, Ryūkyū Rabbit, Pentalagus furnessi); Genus Bunolagus (Bushman Rabbit, Bunolagus monticularis); Genus Nesolagus (Sumatra Short-Eared Rabbit, Nesolagus netscheri; Annamite Rabbit, Nesolagus timminsi); Genus Romerolagus (Volcano Rabbit, Romerolagus diazi); Brachylagus (Pygmy Rabbit, Brachylagus idahoensis); Genus Oryctolagus (European Rabbit, Oryctolagus cuniculus); Genus Poelagus (Central African Rabbit, Poelagus marjorita).

Genus rabbit yang paling banyak anggotanya adalah Sylvilagus, yang terdiri dari 13 spesies: 1. Forest Rabbit, (Sylvilagus brasiliensis); 2. Dice’s Cottontail, (Sylvilagus dicei); 3. Brush Rabbit, (Sylvilagus bachmani), 4. San Jose Brush Rabbit, (Sylvilagus mansuetus); 5. Swamp Rabbit, (Sylvilagus aquaticus); 6. Marsh Rabbit, (Sylvilagus palustris); 7. Eastern Cottontail, (Sylvilagus floridanus); 8. New England Cottontail, (Sylvilagus transitionalis); 9. Mountain Cottontail, (Sylvilagus nuttallii); 10. Desert Cottontail, (Sylvilagus audubonii);  11. Omilteme Cottontail, (Sylvilagus insonus); 12. Mexican Cottontail, (Sylvilagus cunicularis); 13. Tres Marias Rabbit, (Sylvilagus graysoni).

Hare yang juga sering disebut jackrabbits, hanya terdiri dari 1 genus Lepus, dengan 10 sub genus dan 32 spesies. 1. Subgenus Macrotolagus (Antelope Jackrabbit Lepus alleni); 2. Subgenus Poecilolagus (Snowshoe Hare Lepus americanus); 3. Subgenus Lepus (Arctic Hare Lepus arcticus); Alaskan Hare Lepus othus, Mountain Hare Lepus timidus); 4. Subgenus Proeulagus (Black-tailed Jackrabbit Lepus californicus, White-sided Jackrabbit Lepus callotis, Cape Hare Lepus capensis, Tehuantepec Jackrabbit Lepus flavigularis, Black Jackrabbit Lepus insularis, Scrub Hare Lepus saxatilis, Desert Hare Lepus tibetanus, Tolai Hare Lepus tolai).

5. Subgenus Eulagos (Broom Hare, Lepus castroviejoi, Yunnan Hare, Lepus comus, Korean Hare Lepus coreanus, Corsican Hare Lepus corsicanus, European Hare Lepus europaeus, Granada Hare Lepus granatensis, Manchurian Hare Lepus mandschuricus, Woolly Hare Lepus oiostolus, Ethiopian Highland Hare Lepus starcki, White-tailed Jackrabbit Lepus townsendii); 6. Subgenus Sabanalagus  (Ethiopian Hare Lepus fagani, African Savanna Hare Lepus microtis); 7. Subgenus Indolagus (Hainan Hare Lepus hainanus, Indian Hare Lepus nigricollis, Burmese Hare Lepus peguensis);  8. Subgenus Sinolagus (Chinese Hare Lepus sinensis); 9. Subgenus Tarimolagus (Yarkand Hare, Lepus yarkandensis); 10. Subgenus incertae sedis (Japanese Hare, Lepus brachyurus, Abyssinian Hare, Lepus habessinicus).

# # #

Perbedaan utama antara rabbit dan hare adalah, rabbit beranak dalam lubang. Ketika beranak, induk rabbit merontokkan bulunya, untuk alas bagi anak-anaknya yang baru lahir. Anak rabbit lahir tanpa bulu, dengan mata masih tertutup, seperti halnya anak tikus. Sedangkan hare tidak membuat lubang, melainkan hanya bersarang di semak belukar. Meskipun untuk melindungi diri dari binatang buas dan terutama dari cuaca, hare juga berlindung pada lubang-lubang dangkal. Anak hare lahir sudah lengkap dengan bulu dan mata terbuka, serta langsung bisa berlari-lari, seperti halnya anak marmut. Hare jarang dibudidayakan. Kelinci budidaya yang kita kenal sekarang, selalu berasal dari genus rabbit, bukan genus hare.

Kelinci asli Indonesia adalah Genus Nesolagus, yang disebut Sumatran Striped Rabbit, atau Sumatra Short-Eared Rabbit (Nesolagus netscheri). Kondisi kelinci  asli  kita  ini  sangat  mengkhawatirkan, yakni  dalam status  Critically  endangered menurut The World Conservation Union atau International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Jenis kelinci ini endemik di hutan-hutan di sepanjang Bukit Barisan, di pulau Sumatera. Genus Nesolagus, terdiri dari hanya dua spesies. Selain kelinci Sumatera, baru-baru ini juga diketemukan kelinci Annamite Striped Rabbit (Nesolagus timminsi) di pegunungan Annamite di perbatasan Laos dengan Vietnam. Dua spesies kelinci dari genus Nesolagus ini sama-sama terancam kepunahan.

Kelinci yang banyak dibudidayakan di Indonesia, adalah keturunan kelinci budidaya dari Eropa. Terutama spesies European Rabbit dan  Netherland dwarf rabbit serta hibridanya. Di pedesaan di Jawa, keljnci dipelihara di sekitar dapur dan kandang sapi, kambing serta domba. Kalau beranak, kelinci betina akan membuat lubang di lantai tanah, kemudian anak dan induknya baru akan keluar kalau bulu sudah tumbuh dan mata sudah terbuka. Makanan kelinci sama dengan sapi, kambing dan domba, yakni rumput dan daun-daunan, terutama limbah pertanian. Sekali beranak kelinci melahirkan antara 4 sampai dengan 8 ekor anak.

Pada peternakan yang lebih modern, kelinci diberi kandang berlantai bilah bambu atau kawat kasa. Untuk tempat beranak, dibuatkan kotak sarang dengan lubang yang pas dengan badan induk betina. Kelinci yang diternak secara intensif ini, umumnya diberi pakan limbah pertanian, khususnya sayuran. Kelinci tidak boleh diberi pelet pkan unggas atau hewan ruminansia. Sebab kelinci sangat peka dengan tepung ikan dan bungkil yang terkandung dalam pakan tersebut. Bahkan kelinci juga tidak bisa diberi pakan kacang-kacangan, karena akan mengakibatkan kesehatannya terganggu. Hingga pakan kelinci hanyalah daun-daunan, rumput dan biji-bijian dari serealia (gabah, jagung, jelai, sorgum dll.)

# # #

Peternakan kelinci telah berkembang dengan berbagai tujuan. Selain untuk dimanfaatkan dagingnya, kelinci juga merupakan penghasil kulit dan bulu, terutama jenis kelinci berbulu panjang. Kelinci juga banyak dibudidayakan di kebun jeruk, karena kotoran kelinci merupakan pupuk kandang paling baik untuk komoditas jeruk. Namun kelinci juga berkembang menjadi hewan piaraan (pets). Fungsi kelinci yang terakhir inilah yang mengakibatkan upaya pengembangan sebagai penghasil daging mengalami hambatan. Wajah kelinci yang lucu dan imut itu, mengakibatkan konsumen sulit untuk menerimanya sebagai hewan yang harus dipotong untuk dikonsumsi dagingnya.

Meskipun di beberapa kawasan, pemeliharaan dan konsumsi sate kelinci sudah berkembang cukup lama. Misalnya di Bandungan (Semarang), Kaliurang (Yogyakarta) dan Tawangmangu (Surakarta). Di Lembang, Bandung, yang merupakan sentra peternakan kelinci paling maju, pertumbuhan warung sate kelinci justru tidak sepesat di Bandungan dan Tawangmangu. Meskipun di Bandung, justru sudah dirintis pengembangan nugets dan sosis daging kelinci. Bagi mereka yang ingin diet kolesterol, daging kelinci bisa menjadi salah satu alternatif, sebagai pengganti daging ayam. Lemak yang terkandung dalam daging kelinci, bahkan lebih rendah dibanding dengan lemak dalam daging ayam broiler.

Kelinci juga memiliki kelebihan dibanding dengan unggas. Sebab hewan ini cukup diberi pakan rumput, daun-daunan dan hijauan limbah pertanian. Misalnya tebon jagung, batang ubi jalar, kacang tanah, daun singkong, dan lain-lain. Kulit singkong, kulit jagung dan kulit pisang, juga sangat disukai kelinci. Di sentra penghasil sayuran, daun kol yang tua dan berwarna hijau, baik kol bunga maupun kol biasa, sangat disukai oleh kelinci. Di kota-kota besar seperti Jakarta, pakan kelinci bisa diperoleh dari limbah pasar berupa sisa-sisa kulit jagung, daun caisim tua, daun kol bunga dll. Selain itu, dari pedagang pisang goreng pun, kita juga bisa memanfaatkan kulit pisangnya sebagai bahan pakan yang disenangi kelinci. (R) # # #

One thought on “POTENSI KELINCI SEBAGAI SUBSTITUSI AYAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s