MEMBANGUN AGROINDUSTRI JAMUR MERANG

Kalau kita menyebut agroindustri jamur merang, maka asosiasi masyarakat awam adalah, kegiatan produksi jamur dengan bahan baku jerami padi. Soal pemasaran menjadi nomor dua. Padahal, agroindustri jamur merang, sebenarnya tidak sekadar memproduksi jerami menjadi jamur. Agroindustri, merupakan satu rangkaian kegiatan mulai dari survei pasar, perencanaan, pencarian modal, produksi, pasca panen, pengemasan, distribusi, dan kegiatan administrasi. Seluruh rangkaian kegiatan inilah yang disebut sebagai agroindustri jamur merang. Kalau seseorang hanya berproduksi, sementara yang menampung dan menjual orang lain, maka kegiatan itu barulah kegiatan produksi.

Yang disebut survei pasar, adalah kegiatan untuk mendeteksi pasar secara acak tetapi detil. Apakah peluang untuk menjual masih terbuka, atau sudah tertutup? Kalau masih terbuka, apakah pasar itu merupakan pasar lama yang kekurangan pasokan, harus membuka pasar yang 100% baru, atau kombinasi antara keduanya? Untuk agroindustri skala menengah dan besar, membuka pasar baru mutlak diperlukan. Sebab pasar yang sudah ada, meskipun tampaknya masih ada peluang, sebenarnya angka riilnya terlalu kecil. Yang disebut pasar adalah, warung kakilima, pedagang sayuran keliling, pasar tradisional, pasar swalayan, pedagang mie bakso keliling, restoran, asrama, rumahsakit, perusahaan catering, dan industri makanan kemasan. Mereka semua bisa dikelompokkan menjadi pasar terbuka, pasar tertutup dan kombinasi keduanya.

Meskipun bahan bakunya berasal dari jerami, hasil produksinya disebut jamur merang. Mengapa bukan jamur jerami? Sebab dulunya, jerami padi lokal tidak pernah diambil (dibabat) ketika memanen padi. Padi lokal dipanen dengan ani-ani (ketam padi), dan yang dituai hanya tangkai dan malai padinya, sementara jeraminya ditinggal di sawah. Setelah gabahnya dirontokkan, maka tinggalah tangkai padi dan malai kosong yang disebut merang. Bahan inilah yang pada awalnya digunakan sebagai bahan untuk memproduksi jamur, hingga hasilnya disebut jamur merang. Sekarang, memanen padi selalu dilakukan dengan cara dibabat batang (jeraminya). Jarami inilah yang kemudian digunakan untuk media tanam jamur merang. Meskipun bahan bakunya sudah bukan merang lagi, nama jamur merang tetap melekat pada jenis jamur ini.

# # #

 Yang disebut jamur merang adalah spesis Volvariella volvacea dengan nama sinonim Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata, dan Vaginata virgata. Spesies lainnya adalah Volvariella gloiocephala; Volvariella hypopithys; dan  Volvariella speciosa. Tiga spesies genus Volvariella ini banyak dijumpai tumbuh liar di ladang-ladang pada awal musim penghujan. Masyarakat sering menyebutnya sebagai jamur barat atau jamur payung. Disebut jamur barat karena tumbuh pada saat angin musim barat, dan dinamakan jamur payung karena bentuk tudungnya mirip dengan payung yang sedang terbuka. Masyarakat biasa mengambil jamur barat ini untuk dimasak sup atau dipepes. Di jalan raya Sumedang – Jatinangor, Jawa Barat, antara bulan Desember sd. Maret biasa dijumpai penduduk yang berdiri di pinggir jalan sambil menawarkan jamur ini. Demikian pula halnya dengan di beberapa lokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di antara empat spesies Volvariella, yang dibudidayakan secara luas di seluruh kawasan tropis di dunia barulah jamur merang. Produksi jamur merang, sama pentingnya dengan produksi jamur kancing, button mushroom, table mushroom, white mushroom, common mushroom, cultivated mushroom, atau  champignon (Agaricus bisporus). Jamur shitake, chinese black mashroom, (Lentinus edodes), meski juga populer, namun produksinya tidak sebanyak jamur merang maupun jamur kancing. Kalau jamur kancing dan shitake diproduksi terutama di kawasan sub tropis, maka jamur merang adalah produk kawasan tropis. Meskipun dengan teknologi seeperti sekarang ini, memproduksi jamur merang di negara beriklim dingin, atau sebaliknya budidaya shitake dan champignon di negeri tropis sangat dimungkinkan.

Jamur merang juga disebut straw mushroom,  paddy straw mushroom. Di Indonesia, jamur merang jauh lebih populer dan akrab di masyarakat, dibanding dengan jamur kancing atau shitake, jamur kuping   (Auricularia auriculajudae; A. delicata Hennings; A. polytricha), jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), dan jamur maitake (Grifola frondosa). Bahkan jamur tiram yang berwarna putih bersih dan berpenampilan cukup menarik itu, ketika dijajakan di pasar tradisional sama sekali tidak diminati konsumen. Masyarakat bahkan takut untuk memegang sekali pun. Beda dengan jamur merang yang sejak awal memang sudah sangat memasyarakat. Meskipun budidaya jamur merang secara serius, baru dilakukan oleh masyarakat sejak tahun 1980an.

Padahal, kalau dilihat dari penampilan fisiknya, jamur tiram lebih mirip dengan jamur payung, dibanding dengan jamur merang. Sebab jamur merang selalu dipasarkan dalam keadaan masih kuncup. Namun secara psikologis, masyarakat awam memang lebih bisa menerima jamur merang dibanding dengan jamur-jamur lain, terlebih dengan jamur kuping. Meskipun dalam menu-menu di restoran dan hotel, sup jamur kuping sudah biasa disajikan, dan bisa diterima dengan baik oleh lidah konsumennya. Namun memang ada perbedaan antara hidangan yang sudah siap santap, dengan bahan mentah yang masih ada di pasar. Ketika melihat sosok jamur kuping sudah berada dalam sup di restoran atau hotel bintang, seorang ibu rumah tangga akan denganlahap menyantapnya. Beda dengan ketika menghadapi jamur kuping segar yang ada di pasar.

# # #

groindustri jamur merang harus diawali dengan survei pasar. Survei pasar ini harus menyebutkan, berapa konkritnya kebutuhan per hari, berapa harganya dan bagaimana cara membayarnya. Misalnya, pasar hanya menghendaki jamur merang segar dengan volume 50 kg per hari, pasokan tiap hari, dengan pola pembayaran pasar swalayan. Sejak penanaman, panen perdana dilakukan pada hari ke 12, selanjutnya akan dilakukan 4 X panen dengan interval 1 minggu. Persiapan membangun kumbung, mengumpulkan jerami, pengomposan, pasteurisasi dll. sekitar 15 hari. Hingga panen perdana, akan terjadi sekitar 1 bulan sejak awal persiapan. Karena umur panen per media hanya 1 bulan dengan masa panen 4 X (1 minggi 1 X), dan dengan persiapan sekitar 1 bulan, maka paling sedikit diperlukan 8 tumpukan media, dengan umur yang berbeda.

Kalau satu kumbung hanya layak berisi 4 tumpukan (rak), maka untuk 8 tumpukan media itu paling sedikit diperlukan 2 kumbung. Karena tiap 100 kg. media diharapkan akan mampu menghasilkan sekitar 40 kg jamur segar (4 X panen), maka untuk bisa memanen 50 jamur per hari secara berkelanjutan, diperlukan media sebanyak 125 kg. X 8 = 1 ton media tanam, yang ditaruh dalam 2 kumbung dengan masing-masing 4 lapis media. Agar produksi terus berkelanjutan, diperlukan Kebutuhan benih jamur untuk 1 ton adalah 60 kg. Penebaran benih, dilakukan per petakan media seberat 0,5 ton setiap hari, hingga pada hari ke 12 sudah bisa mulai dipanen sebanyak  50 kg. jamur segar. Total kebutuhan media, sebanyak 7 ton, dengan kumbung 14. Penanaman dilakukan terus sampai dengan hari ke 33 ketika petak I pada kumbung I dibongkar, untuk ditebari media baru.

Kebutuhan modal kemudian harus dihitung, sesuai dengan kebutuhan riil pada saat melakukan investasi. Karena pola pembayaran model pasar swalayan menuntut pasokan tiap hari, sementara penagihan baru bisa dilakukan setelah 7 kali memasok, proses administrasi 1 minggu, kemudian dibayar dengan giro mundur selama paling cepat 1 minggu, maka seorang pengusaha agroindustri jamur merang, harus memiliki modal paling sedikit untuk berproduksi selama 1 bulan. Kalau persiapan produksi sendiri sudah makan waktu 1 bulan, maka ia harus sudah melakukan investasi sejak dua bulan sebelum hasil panennya menjadi uang cash. Yang dimaksudkan dengan biaya bukan sekadar investasi kumbung, peralatan, benih dan media, melainkan juga tenaga kerja selama 2 bulan penuh. Perhitungan ini harus tepat, sebab kalau panen lebih banyak dari permintaan, maka hasilnya tidak akan terjual.

# # #

Dalam prektek, diperlukan kalkulasi yang lebih terinci, untuk menghitung aliran kas (cash flow), perhitungan rugi laba, serta kebutuhan riil modal. Kalau modal itu berupa pinjaman, maka diperlukan pula perhitungan suku bunga, grace period serta masa pengembalian. Untuk mempermudah, awal melangkah, lebih ideal kalau seseorang mengikuti pola tanam yang telah dilakukan oleh petani lain. Pasarnya pun mengikuti pola pemasaran yang telah dilakukan oleh petani terdahulu. Dengan cara itu seseorang tidak akan mengalami kerugian yang cukup besar. Sebab dengan mengikutipola yang sudah ada, ibaratnya seorang penerjun payung ikut terjun “tandem”. Resiko awal ini menjadi sangat kecil, karena kita digendong oleh penerjun yang sudah sangat berpengalaman.

Pola agroindustri jamur merang memang harus dirancang dengan cermat, sebab hasilnya akan dipasarkan segar. Kecuali, agroindustri ini dirancang untuk dikalengkan, atau dikeringkan. Ini pun diperlukan sebuah perencanaan yang cermat pula. Sebab kapasitas penanaman, juga tetapharus disesuaikan dengan kapasitas penanganan raw material, pengalengan dan pemasarannya. Untungnya, kalau kita akan memasarkan dalam bentuk kalengan, hasil panen itu bisa disimpan lama tanpa takut mengalami kerusakan. Kalau kita memasarkan jamur segar, maka terlambat petik atau terlalu cepat, hasilnya akan rugi. Kalau panen lebih banyak dari permintaan, hasilnya akan terbuang. Kalau hasil panen kurang dari permintaan, kita akan diomeli konsumen. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s