BAWANG GORENG DALAM KEMASAN

Sekarang, dengan mudah kita bisa membeli bawang merah goreng dalam kemasan, denganharga yang relatif murah. Agroindustri bawang merrah memang sudah menjadi bisnis dengan pasar yang sangat jelas, serta mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah sangat besar. tenaga kerja itu akan bertugas mengupas bawang merah, merajang, menggoreng dan mengemas dan mendistribusikannya ke padagang pengeser, termasuk ke pasar swalayan maupun pasar tradisional.

Tumbuhnya agroindustri bawang merah goreng, telah mampu mendatangkan penghematan, terutama penghematan waktu kerja di kalangan pengusaha restoran dan pedagang keliling serta kakilima. Sebab pekerjaan mengupas bawang, merajang dan kemudian menggorengnya, sekarang sudah tidak perlu mereka kerjakan lagi, karena sudah diambil-alih oleh perajin bawang goreng, dengan lebih efektif dan efisien. Dengan ini, pedagang makanan, terutama pedagang kecil, juga telah menghemat uang.

Selain menghemat waktu dan biaya, kualitas bawang merah goreng dalam kemasan, juga lebih baik. Kalau mereka menggoreng bawang sendiri, dalam waktu singkat hasilnya akan lembek dan berair. Terutama kalau ditaruh di udara terbuka, di tempat yang cukup lembap. Sementara bawang goreng kemasan, tetap kering dan renyah, meskipunberada di tempat terbuka dan lembap dalam waktu cukup lama. Faktor ini juga telah menyebabkan para pedagang makanan dan pemilik restoran beralih ke bawang goreng kemasan.

# # #

Mengapa bawang goreng kemasan ini relatif lebih awet kering ketika ditaruh di udara terbuka? Sebab sebelum digoreng, diberi sedikut tepung beras. Tepung beras ini mencegah irisan bawang merah hangus ketika digoreng. Bawang merah yang hanya diiris lalu digoreng, sebagian akan cepat hangus, padahal sebagian yang lain masih putih. Hal ini disebabkan karena bawangmerah merupakan umbi lapis. Lapisan paling luar, kadar airnya lebih rendah dibanding dengan lapisan yang lebih dalam.

Ketika diiris dan kemudian digoreng, irisan dari lapis paling luar terlebih yang berukuran kecil, akan cepat kering dan hangus. Sementara irisan dari lapisan dalam masih putih. Dengan diberi sedikit tepung beras, maka keringnya bawang goreng bisa terjadi serentak, dengan warna kuning kecokelatan yang kompak. Bawang goreng kemasan bisa kering lebih rata, juga karena faktor volume minyak dan panas dalam proses penggorengan. Demi efisiensi, penggorengan bawang goreng selalu dilakukan dalam wajan sangat besar.

Wajan besar itu diisi minyak tiga perempat. Hingga semua irisan  bawang goreng yang yang dimasukkan, akan tercelup secara merata dalam minyak panas. Sumber pemanas berasal dari kompor pompa. Kelemahan kompor ini adalah, intensitas panasnya turun naik, tergantung tekanan udara dari kompresor. Hingga banyak pengusaha gorengan yang menggunakan teknik grafitasi. Tangki minyak ditaruh di ketinggian, lalu minyak mengalir ke bawah dengan menggunakan tenaga grafitasi.

Sekarang, sebagian besar pengusaha makanan gorengan, selalu menggunakan kompor batubara. Pertama karena batubara lebih hemat, kedua panasnya sangat stabil dengan kalori yang lebih tinggi. Kelemahan bahan bakar batubara, meskipun sudah dijadikan briket, tetap akan mengeluarkan asap dan bau tak sedap selama proses menjadi bara. Namun setelah menjadi bawa, asap dan bau itu akan hilang. Dalam industri makanan gorengan, asap dan bau ini tidak terlalu mengganggu para pekerja.

# # #

Tentang ketahanan bawang goreng kemasan, konsumen sepakat memang lebih tahan lama dibanding dengan bawang goreng buatan sendiri. Sebab ketika ibu rumah tangga menggoreng bawang merah, biasanya tanpa dicampur dengan tepung beras. Kalau kita melakukan hal yang sama, maka hasilnya, bawang merah goreng buatan kita juga akan tahan lama. Namun masih ada dua pendapat berbeda tentang aroma bawang merah hasil industri. Pihak pertama, mengatakan bahwa bawangmerah industri ini lebih harum. Pihak kedua menyebut aromanya kurang. Mana yang benar?

Pihak pertama mangatakan bahwa bawang goreng hasil industri lebih harum, karena ia langsung berhubungan dengan pemasoknya, hingga selalu memperoleh bawang goreng baru, dalam kemasan besar (curah). Biasanya ini dilakukan oleh pedagang makanan dengan volume kebutuhan besar serta kontinu. Pedagang demikian selalu menghendaki produk dengan harga miring. Bawang goreng yang harganya lebih rendah, selalu berasal dari umbi yang berukuran kecil. Umbi bawang merah dengan ukuran kecil, biasanya justru lebih kuar aromanya dibanding dengan yang berukuran besar.

Pihak yang mengklaim bawang merah kemasan aromanya kurang, biasanya membeli secara sporadis, dengan volume kecil. Dia tidak pernah tahu, sudah berapa lama bawang goreng itu tersimpan. Sebab semakin lama bawang goreng disimpan, akan semakin berkurang aromanya. Ini diakibatkan oleh kemasan yang hanya berupa kantung plastik dengan penutupan yang ala kadarnya. Padahal, dengan sase yang benar dengan pengisian model vakum pun, sebuah produk makanan akan mengalami masa kadaluwarsa.

Hinngga idealnya, para pengusaha bawang goreng juga mencamtumkan tanggal penggorengan dan kapan bawang itu akan mengalami masa kadaluwarsa hingga tidak layak konsumsi. Hal ini penting dilakukan, karena bukan hanya sekadar menyangkut berkurangnya aroma, melainkan juga kesehatan bahkan keselamatan konsumen pengguna produk tersebut. Sayangnya, para perajin bawang goreng, yang umumnya merupakan industri rumah tangga, belum mampu mencantumkan tanggal kadaluwarsa ini.

# # #

Agroindustri bawang merah goreng, sangat bermanfaat dalam mengatasi masalah ketika harga produk segarnya jatuh. Akibat serbuan bawang merah impor, sekarang ini harga bawang merah lokal dari Brebes, Jawa Tengah turun. Padahal, Brebes bukan hanya sentra budidaya, melainkan juga pemasaran. Bawang merah asal Bantul (DIY), Nganjuk (Jatim) dan juga Madura, hampir seluruhnya dipasarkan melalui Brebes. Ini wajar saja, sebab Masyarakat Brebes selain menjadi petani, sekaligus juga pedagang.

Pola serupa juga terjadi pada komoditas duku. Meski sentra terbesarnya Kab. Sorolangun, Jambi, namun pemasarannya selalu melalui Palembang, Sumsel. Hingga di Jakarta yang dikenal selalu duku palembang. Sentra itik di Kalsel, sebenarnya ada di Amuntai, Kab. Hulu Sungai Utara. Namun karena sentra pemasarannya ada di kota kecamatan Alabio, masih di kabupeten yang sama, maka masyarakat luar hanya mengenal “itik alabio”. Brebes sebagai sentra produksi sekaligus pemasaran cabai dan bawang merah, akan sangat menentukan naik turunnya produk tersebut di tingkat nasional.

Dengan berkembangnya agroindustri bawang goreng, maka jatuhnya produk segar akan sangat menguntungkan petani. Sebab komoditas tersebut tidak sampai membusuk dan terbuang sia-sia. Selain itu, masyarakat lapis bawah juga akan menikmati nilai tambah dari produk tersebut, berupa kesempatan kerja. Sebenarnya Pemda pun akan ikut pula menikmati keuntungan, berupa meningkatnya retribusi, karena perekonomian di tingkat mikro mulai dari warung kecil, tukang ojek dan angkot ikut kebagian rejeki.

# # #

Umbi bawang merah yang akan digoreng, terlebih dahulu dipotong bagian pangkal dan ujungnya, kemudian dibuang lapisan umbi bagian luar yang sudah mengering. Dalam agroindustri bawang goreng, bagian  ini dikerjakan oleh kelompok tersendiri, yang hanya khusus mengupas bawang. Bagian berikutnya adalah kelompok perajang. Alat parajangnya adalah serutan berupa satu lembar papan yang diberi pisau permanen seperti halnya pengetam kayu. Umbiyang sudah terkupas diserutkan  diatas panan itu, hingga hasil irisannya sama tipis dan langsung jatuh ke wadah yang ditaruh di bawah serutan tersebut.

Pengirisan dilakukan secata membujur (vertikal), dan bukannya horisontal, hingga irisan itu tetapakan membentuk satu kesatuan yang utuh. Kalau irisan dilakukan secara secara melintang (horisontal), hasilnya akan menjadi irisan yang akan terurai menjadi gelang kecil-kecil. Bawang yang sudah menjadi irisan, segera ditaburi tepung beras dan diaduk rata secara pelan-pelan. Setelah dibiarkan sesaat irisan bawang itu dimasukkan ke dalam serok. Ini adalah anyaman kawat yang mirip dengan saringan teh, namun berukuran sesuai dengan ukuran wajan.

Setelah itu serok yang sudah berisi irisan bawang merah itu dimasukkan ke dalam minyak panas. Setelah bawang itu berwarna kecokelatan, serok diangkat dan ditiriskan di atas wadah penirisan. Ke dalam wajan dimasukkan serok lain yang sudah berisi irisan bawang. Demikian seterusnya. Setelah bawang goreng ini dingin, pengemasan dengan kantung plastik dilakukan. Baik kemasan untuk skala rumah tangga, maupun kemasan curah untuk warung dan restoran besar. (R) # # #

2 thoughts on “BAWANG GORENG DALAM KEMASAN

  1. menarik sekali infonya..

    untuk poin dalam hal penirisan minyak saat ini pelaku industri telah menggunakan mesin pengering yang dirancang khusus agar kandungan minyak benar-benar sedikit pada bawang yang telah digoreng, sehingga bawang goreng yang dihasilkan dapat lebih tahan lama dan tetap dalam kondisi segar..🙂

    terima kasih atas infonya.. menjadi masukan dan sangat bermanfaat bagi kami yang pelaku UKM🙂

  2. Terima kasih u/ info dan ilmunya. Kebetulan sy mmg tertarik u/ menggeluti bisnis bawang goreng ini. Saya mempunyai kendala bahwa bawang goreng sy sdg sy “trial” warnanya tidak menarik dan krg renyah (jika renyah pun tdk tahan lama).

    Beberapa rekan memberi saran agar diberi / dicampur tepung, namun sy kurang “sreg” jika bawang goreng nya diberi campuran.

    Pertanyannya, Bagaimana ya cara memasak BG agar dpt berwarna menarik dan renyah walaupun tanpa diberi campuran tepung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s