MELINJO GENTONG DARI LAMPUNG

Seorang petani, membeli benih melinjo gentong dari Lampung. Melinjo ini beda dengan melinjo biasa yang buahnya jarang dan kecil-kecil. Buah melinjo gentong sangat lebat, satu dompolan berisi belasan butir, dan ukurannya besar-besar. Kalau bentuk melinjo biasa memanjang dengan ujung runcing, maka melinjo gentong agak membulat, dengan ujung tumpul. Di sebut melinjo gentong karena ukuran buahnya yang besar-besar, hingga seakan-akan mirip dengan gentong. Daun melinjo gentong lebar-lebar, menggelombang, bentuknya juga membulat dengan ujung agak tumpul. Kulit batang dan cabang melinjo gentong, relatif lebih terang dibanding  dengan melinjo biasa.

Melinjo gentong ini merupakan hasil okulasi. Batang bawahnya, biasanya melinjo biasa, sebab perakarannya kuat. Kalau benih asal biji baru akan berbuah pada umur di atas lima tahun, maka benih okulasi sudah akan berbuah pada umur tiga tahun. Terlebih lagi, pertumbuhan melinjo gentong lebih pesat dibanding melinjo biasa. Hingga pada umur tiga tahun itu, tajuk melinjo gentong sudah mirip dengan melinjo biasa umur lima tahun. Tajuk melinjo gentong, umumnya juga melebar, bukan meninggi, hingga akan memudahkan panen. Petani, tentu akan memilih membudidayakan melinjo gentong dibanding dengan melinjo biasa. Kelemahan melinjo gentong adalah, buah muda, daun muda dan bunganya, agak keras hingga kurang disukai konsumen sayur asem.

Petani yang membeli melinjo gentong tadi kecewa, sebab setelah tiga tahun ditanam, ada beberapa tanaman melinjo jantan. Pohon melinjo ini, hanya berbunga jantan saja. Daunnya juga kecil-kecil seperti melinjo biasa. Dia mengomel panjang lebar karena merasa ditipu oleh padagang benih. Semua pohon melinjo jantan itu ditebangnya. Istrinya yang melihat sang suami menebangi pohon melinjo jantan, meminta agar disisakan satu batang untuk diambil sebagai bahan sayur asam. Si petani memenuhi permintaan istrinya. Pada tahun ke empat, kelima dan keenam, pohon melinjo gentong itu tetap tidak mau berbuah. Bunganya lebat, tetapi selalu rontok.

# # #

Petani tadi lalu melapor ke Dinas Pertanian, dan para dosen di Fakultas Pertanian, perguruan tinggi setempat. Para ahli pertanian ini datang dan memberi solusi pemupukan dengan KCL, penyemprotan zat perangsang tumbuh, serta pemeliharaan lebah agar penyerbukan bisa terjadi. Petunjuk sudah dilaksanakan, tetapi sampai dengan tahun ke enam, melinjo gentong tak kunjung berbuah. Pada suatu hari, dia kedatangan seorang tamu, yang sebenarnya awam soal pertanian. Seperti biasa, petani ini mengeluhkan ihwal tanaman melinjo gentongnya, yang sudah umur enam tahun tetapi tak kunjung mau berbuah. Si tamu melihat-lihat ke kebun, dan segera menanyakan, mana melinjo jantannya?

Ternyata, pedagang benih melinjo gentong itu memang sengaja menyertakan beberapa tanaman melinjo jantan, dengan maksud agar terjadi penyerbukan. Sebab melinjo gentong hanya mampu menghasilkan bunga bunga betina saja. Agar buahnya lebat, maka penanaman melinjo gentong mutlak harus diseling dengan melinjo jantan. Hanya saja, pedagang benih itu lupa menjelaskan pola tanam melinjo gentong ini kepada pembelinya. Hingga melinjo jantan pun dibabat habis. Si petani percaya pada advis tamunya, sebab ternyata, pohon melinjo di sekitar melinjo jantan yang tidak jadi ditebang atas permintaan istrinya, selalu berbuah lebat, dengan butiran melinjonya yang rapat dan berukuran sangat besar.

Kepala putik dan serbuk sari melinjo (Gnetum gnemon), memang terdapat pada dua bunga yang berbeda. Melinjo biasa, umumnya menghasilkan bunga jantan dan bunga betina sekaligus. Namun kadang-kadang ada pula tanaman yang hanya menghasilkan bunga betina atau bunga jantan saja. Melinjo gentong, merupakan seleksi dari Balai Benih Induk Hortikultura di Metro, Lampung, dan hanya mampu menghasilkan bunga betina.  Melinjo, merupakan tanaman tropis. Habitat aslinya tersebar mulai dari Assam di India, Malaysia, Indonesia, Filipina sampai ke kepulauan Fiji di Pasifik. Gnetum gnemon, merupakan salah satu spesies dari genus Gnetum, yang seluruhnya terdiri dari 30 sampai dengan 35 spesies.

Sebenarnya, genus Gnetum terbagi menjadi dua section,  yakni section Gnetum, dan Cylindrostachys. Section Gnetum, masih terbagi lagi menjadi tiga subsection, yakni Gnetum (dua spesies), Micrognemones (dua spesies), dan Araeognemones (sembilan spesies). Section Cylindrostachys tidak punya subsection, dan terdiri dari 19 spesies. Hanya subsection Gnetum, yang berupa pohon. Subsection Micrognemones, Araeognemones, dan Section Cylindrostachys, seluruhnya berbentuk liana (batang berkayu, tetapi tumbuh membelit/memanjat). Salah satu spesies liana inilah yang menjadi inang bagi Rafflesia Sp. yang merupakan parasit murni.

# # #

Melinjo termasuk tumbuhan dengan biji yang sulit ditumbuhkan. Penangkaran benih melinjo secara massal, baru dimulai awal tahun 1980an. Ketika itu seorang petani di Kab. Gunung Kidul, DIY, menemukan teknologi mengkecambahkan biji melinjo. Biji melinjo termasuk tidak punya masa dormansi (istirahat). Hingga setelah dikupas dari kulit buahnya, biji melinjo harus segera dikecambahkan. Petani Gunung Kidul itu mengkecambahkan biji melinjo dalam tenggok (keranjang bambu dengan anyaman sangat rapat). Ke dalam tenggok itu dimasukkan pasir setebal sekitar 5 cm. Kemudian biji melinjo ditata horisontal, dan ditaburi pasir setebal 2 cm. Demikian seterusnya sampai tenggok itu penuh.

Bagian paling atas, ketebalan pasir sama dengan lapisan paling bawah, yakni 5 cm. Setelah itu ditutup dengan karung atau kain, dan tenggok ditaruh di tempat teduh. Setiap hari tenggok itu disiram air bersih, selama tiga bulan. Sejak mulai pengkecambahan biji, petani gunung kidul itu menyiapkan keranjang bambu kecil-kecil, berdiameter 5 cm dan tinggi 8 cm. Keranjang kecil-kecil ini selanjutnya diisi media tanam, campuran antara pupuk kandang, tanah dan pasir. Pada akhir bulan ketiga, tenggok dibongkar pelan-pelan, dan akan tampak biji melinjo yang sudah mulai keluar tunas dan akar. Kecambah biji ini, pelan-pelan dipindahkan ke dalam keranjang bambu kecil, yang sudah diisi media tanam, lalu ditaruh di tempat yang ternaungi.

Para penangkar benih, mengembangkan teknologi ini dengan mengecambahkan biji melinjo dalam kotak yang diisi pasir. Setelah biji berkecambah, dipindahkan ke dalam polybag yang sudah diisi media tanam. Namun di Lampung, kecambah biji melinjo ini langsung disemaikan di sawah yang sudah dibedeng-bedeng. Yang disemai untuk dijadikan benih, adalah melinjo biasa yang bijinya kecil-kecil. Sebab melinjo gentong, berasal dari entres (pucuk atau mata tempel), yang berasal dari pohon induk yang bersertifikat. Para penangkar benih di Lampung, mengokulasi melinjo langsung di sawah. Kalau ada pembeli, berulah benih melinjo ini dipindahkan ke keranjang bambu.

Entres melinjo gentong, harus berasal dari cabang vertikal (tunas air, cabang maling). Sebab kalau entres diambil dari cabang horisontal, maka pertumbuhan benih, nantinya akan lebih banyak mengarah ke samping. Benih yang didatangkan dari lokasi jauh, sebaiknya tidaklangsung ditanam, melainkan diaklimatisasi terlebih dahulu, selama paling sedikit satu bulan. Baru kemudian dipindahkan ke lokasi penanaman. Di alam, batang melinjo akan tumbuh meninggi sampai 20 m. Cabang melinjo seperti beruas-ruas, hingga mudah sekali tanggal dari batangnya. Itulah sebabnya panen melinjo harus dilakukan dengan tangga, bukan dengan memanjatnya.

# # #

Kebun melinjo monokultur, menggunakan jarak tanap rapat, 3 X 6 m. dengan populasi 500 tanaman per hektar. Jarak tanam rapat ini diperlukan, agar penanganannya lebih mudah. Sebelum meninggi, pucuk tanaman dipotong (toping), hingga tajuk akan tumbuh ke samping. Setelah toping, dari batang utama akan tumbuh cabang vertikal. Cabang-cabang vertikal ini juga harus secara rutin dibuang, hingga pertumbuhan tajuk akan lebih kompak. Kalau cabang vertikal ini tidak secararutin dibuang, maka tajuk akan rapat di bagian tengah, hingga produktivitas tanaman terganggu. Toping juga harus selalu rutin dilakukan, sebab pada bekas potongan pucuk, akan selalu tumbuh tunas baru yang tumbuh vertikal.

Melinjo yang ditanam secara monokultur, memerlukan pemupukan intensif. Pupuk yang digunakan terdiri dari organik (pupuk kadang) dan anorganik (NPK). Pupuk organik diberikan sebanyak 5 kg. per tanaman pada tahun pertama. Tahun kedua 10 kg, tahun ketiga 15 kg, dst. Sejak umur 5 tahun, pupuk organiknya dipertahankan 25 kg. per tanaman. Dosis NPK disesuaikan dengan umur tanaman. Umur 1 tahun 2 ons, 2 tahun 3 ons, 3 tahun 4 ons dst. Mulai umur 9 tahun, dosis NPK tetap dipertahankan 1 kg. per tanaman yang diberikan sebanyak 4 X @ 0,25 kg. Tanaman melinjo hampir tidak pernah terserang hama maupun penyakit.

Panen melinjo, dilakukan ketika buah sudah 100% merah. Pemanenan dilakukan dengan tangga kaki tiga, atau tangga kaki dua yang diberi dua penyangga bambu. Sebab tangga kaki dua, tidak mungkin disandarkan pada batang melinjo, karena takut akan mematahkan cabang. Melinjo gentong yang sudah 100% merah, segera dikupas dengan pisau. Baik kulit maupun biji melinjo, sama-sama bernilai ekonomis. Kulit melinjo yang sudah 100% merah, akan ditampung pedagang untuk sayur lodeh, sementara bijinya akan ditampung oleh industri emping melinjo. Hasil dari tiap hektar kebun melinjo gentong, sekitar 25 ton per tahun, dengan nilai paling sedikit Rp 25.000.000,- (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s