MENGEMBALIKAN PAMOR CENDANA KITA

Kepulauan Nusa Tenggara, sudah dikenal sejak jaman Romawi Kuno, karena kayu cendananya. Sama halnya dengan gaharu (Aquilaria malaccensis dan Aquilaria agallocha), cendana (Santalum album), adalah komoditas wewangian yang sangat penting dan bernilai tinggi. Dua komoditas ini sudah dikenal sejak munculnya peradaban Timur Tengah, India dan China. Lain dengan gaharu, yang baru akan keluar parfumnya apabila terinfeksi oleh kapang (jamur, fungus) Phialophora parasitica, maka aroma cendana berasal dari kayunya sendiri, asal umurnya sudah sekitar 30 tahun.

Kepulauan Nusa Tenggara, sudah dinekal sebagai penghasil cendana kualitas baik, sejak jaman Romawi. Ketika itu kontak dagang antara Bangsa Arab, dengan India dan Nusantara sudah mulai terjalin. Cendana hanyalah salah satu komoditas kepulauan Nusantara. Selain itu masih ada rempah-rempah (cengkih, pala, kayu manis), gula tebu, kemenyan dan gaharu serta cendana. Sampai dengan jaman kedatangan bangsa Portugis, populasi kayu cendana masih seimbang dengan jumlah yang ditebang. Namun setelah itu, eksplorasi kayu cendana terjadi secara besar-besaran.

Terlebih setelah Indonesia Merdeka, populasi kayu yang ditebang, tidak pernah terimbangi oleh pertumbuhan tanaman muda. Hingga sekarang sudah sangat sulit untuk menemukan kayu cendana di kawasan NTT. Ketika banyak pengusaha dan LSM ingin kembali memulihkan populasi kayu cendana di Flores, Sumba dan Timor Barat, maka untuk memperoleh benih pun sudah sangat sulit. Sebab sangat sulit untuk menemukan pohon cendana dewasa yang sudah menghasilkan buah/biji. Sebab begitu pohon itu diketemukan, maka akan segera ditebang oleh masyarakat.

Usaha pencarian pohon cendana tua di Timor Barat, tidak pernah memperoleh hasil. Upaya ini akan dilanjutkan di lokasi yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tempat keramat. Di lokasi demikian, tidak akan pernah ada pihak yang berani menebang kayu cendana. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan minyak asiri, sekitar 10 tahun terakhir ini juga tengah berusaha untuk memulihkan populasi kayu cendana di pulau Sumba. Menurut perusahaan tersebut, cendana dari NTT tidak pernah bisa tergantikan oleh cendana dari India, China maupun Australia.

# # #

Cendana termasuk genus Santalum, yang terdiri dari sekitar 25 spesies. Genus Santalum tersebar mulai dari India, Cina, Malaysia, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Australia, Hawaii sampai ke kepulauan Yan Fernandez di lepas pantai Amerika Selatan. Di hutan Malaysia, Sumatera dan Jawa, Cendana juga bisa tumbuh dengan baik, namun kandungan minyak asirinya sangat rendah. Cendana dari kawasan yang relatif basah seperti ini, tidak bernilai ekonomis sama sekali. Cendana baru punya nilai ekonomis apabila tumbuh di kawasan yang ekstrim kering, seperti halnya di NTT.

Dari sekitar 25 spesies Satalum itu, di antaranya adalah: Santalum acuminatum, yang bisa dijumpai di China dan Australia. Santalum album, dengan penyebaran mulai dari India, Indonesia sampai ke Australia Utara. Satlaum Album inilah yang disebut sebagai cendana, atau Sandalwood. Santalum ellipticum atau cendana pantai, Santalum freycinetianum, Santalum haleakalae, dan Santalum paniculatum; empat spesies ini terdapat di Hawaii. Santalum spicatum, Santalum lanceolatum, Santalum murrayanum, dan Santalum obtusifolium; tiga spesies ini berasal dari Australia. Santalum fernandezianum (Kepulauan Juan Fernandez); dan Santalum salicifolium atau cendana daun willow.

Selain Santalum album, spesies yang juga menghasilkan parfum adalah Santalum fernandezianum dari kepulauan Juan Fernandez. Seperti halnya Santalum album, Santalum fernandezianum juga diekplorasi secara besar-besaran, hingga populasinya menjadi sangat terancam. Di Australia, Santalum acuminatum, jutru merupakan pohon penghasil buah. Buah Santalum acuminatum berupa berry dengan warna merah cerah, untuk bahan jelly dan jem. Di Australia, Santalum acuminatum dikenal sebagai sweet guandong, atau native peach. Jenis ini tidak menghasilkan kayu yang harum.

Populasi cendana yang terancam punah, terutama juga disebabkan oleh lamanya pertumbuhan, serta sulitnya budidaya. Cendana termasuk tumbuhan semi parasit. Artinya, cendana baru dapat hidup, apabila ada tumbuhan inang yang mampu memberi suplai air serta nutrisi tertentu, yang tidak bisa diperolehnya sendiri. Tumbuhan inang ini jumlahnya antara empat sampai lima, sangat tergantung dari tingkat kekeringan serta kurangnya unsur hara di lahan tersebut. Dari ketika mulai tumbuh sampai tanaman siap ditebang pada umur lebih dari 30 tahun, cendana memerlukan beberapa tumbuhan inang, yang harus selalu berganti-ganti.

# # #

Karena memerlukan banyak tanaman inang, budidaya cendana tidak mungkin dilakukan secara monokultur. Hal ini harus sudah dilakukan sejak menyemaikan biji. Bedeng penyemaian cendana, justru harus dibiarkan penuh dengan gulma. Sekaligus kita bisa menyemai cabai, kacang tanah, lamtoro dan lain-lain yang akan menjadi inang cendana. Jenis tumbuhan inang untuk tahap penyemaian, idealnya harus merupakan gulma yang banyak tumbuh di kawasan kering di NTT. Dengan adanya banyak gulma sebagai inang, semaian cendana akan tumbuh dengan baik.

Kalau cendana ditanam secara monokultur, misalnya ditaruh dalam pot sendirian, maka pertumbuhannya akan lambat. Tanaman juga tampak menguning seakan kekurangan air atau nutrisi. Padahal kita sudah menyiram serta memupuknya dengan baik. Yang menjadi masalah bukannya media dalam pot itu kekurangan air atau unsur hara, melainkan semaian cendana itu tidak mampu menyerap air serta nutrisi tertentu. Dalam kondisi demikian, cendana memang tidakmungkin mati, namun pertumbuhannya akan terus terhambat. Semaian cendana baru akan tumbuh subur apabila diberi beberapa tumbuhan inang.

Setelah dipindahkan ke lahan penanaman pun, cendana tetap memerlukan tumbuhan inang. Agar akar cendana bisa menempel pada akar tumbuhan inang tersebut untuk mengambil air dan nutrisi, harus dipilih tumbuhan inang yang paling cocok dengan cendana. Yakni, tumbuhan itu kapabel dengan cendana, namun tajuknya tidak sampai menaungi cendana. Hingga kemiri misalnya, tentu tidak cocok, sebab tajuknya akan melebar dan menutup areal di sekitar tumbuhnya cendana. Meskipun daun kemiri yang lebar-lebar, bisa menyuburkan lahan yang kering dan tandus.

Tumbuhan asli NTT yang cocok menjadi inang cendana, antara lain kemiri, mete, jaranan, lontar, asam jawa, malaka, lamtoro, kayu secang, dadap, jamblang, mangga, dan albisia. Selain itu, tanaman semusim seperti jagung, singkong, kacang tanah, keladi, talas dan lain-lain, juga bisa menjadi inang, ketika cendana baru dipndah dari lokasi penyemaian ke lapangan. Demikian pula dengan pisang, pepaya, dan nanas, yang bisa menjadi inang ketika cendana sudah cukup besar, namun belum tumbuh sebagai pohon. Inang tanaman keras, (tumbuhan berkayu), baru diperlukan ketika cendana sudah tumbuh dewasa, yakni di atas umur 10 tahun.

# # #

Yang paling tahu, jenis tanaman inang yang cocok dengan cendana adalah masyarakat pedesaan NTT. Merekalah yang hafal, tumbuhan apa saja yang cocok menjadi inang ketika biji cendana disemai, ketika cendana dipindah ke lapangan, dan ketika cendana tumbuh dewasa. Tumbuhan inang tersebut, juga tidak boleh sampai putus. Misalnya, ketika disemai dalam polybag, cendana memerlukan inang berupa gulma atau perdu yang masih berupa semai. Ketika dipindah ke lapangan, inang ini harus ikut pula dipindah. Namun di lahan tersebut, juga ditanam jenis perdu lain, yang akan menjadi inang ketika cendana sudah tumbuh setinggi 1 sd. 2 m.

Demikian seterusnya, hingga di “hutan cendana” harus selalu tumbuh pohon serta perdu, yang akan membuat cendana bisa tumbuh dengan subur. Namun cepatnya pertumbuhan cendana, tidak serta-merta akan menghasilkan kayu dengan kandungan minyak tinggi. Cendana yang tumbuh di hutan-hutan pulau Jawa dan Sumatera misalnya, pertumbuhannya sangat cepat. Namun cendana dari dua pulau ini tidak akan pernah menghasilkan kayu dengan kandungan minyak asiri tinggi. Di NTT, batang cendana berdiameter 30 cm. dicapai pada umur tanaman 30 tahun. Di Jawa dan Sumatera tanaman umur 10 tahun sudah bisa berdiameter 30 cm.

Namun di Jawa dan Sumetara, cendana tidak mungkin menghasilkan aroma wangi. Namun pertumbuhan cendana di Jawa yang sangat pesat ini, bisa dimanfaatkan untuk memproduksi benih. Di Jawa, pohon cendana yang mampu berbuah cukup banyak, tanpa ada kekhawatiran ditebang untuk diambil kayunya. Sebab pohon cendana di Jawa, hanya berpotensi sebagai kayu bakar. Hingga sebenarnya, ada peluang untuk mengebunkan cendana di Jawa, dengan tujuan utama memproduksi biji. Biji-biji ini kemudian dibawa ke NTT untuk disemai di sana. Penyemaian di NTT ini penting, sebab untuk menghemat biaya angkut.

Tanaman cendana di Jawa, antara lain terdapat di Gunung Kidul, Klaten dan Wonogiri. Di sini, cendana sudah mampu menghasilkan buah dan biji. Untuk memulihkan pamor cendana di NTT, sudah selayaknya para investor dan pemda NTT serta NTB, bekerjasama dengan pemerintah kabupaten di Jawa, serta Perum Perhutani. Sebab lahan hutan yang ditumbuhi cendana itu, statusnya milik Perum Perhutani. Memang menjadi pertanyaan, apakah layak investasi sekarang, dan baru bisa dipanen hasilnya paling cepat 30 tahun yang akan datang? Tetap sangat layak. Hanya yang akan memanen hasilnya, generasi 30 tahun yang akan datang. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s